Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong pemerintah memberikan stimulus fiskal serta membuka akses pembiayaan murah untuk memperkokoh posisi industri furnitur dan elektronik nasional. Kedua sektor tersebut dipandang memiliki peluang besar di pasar global, namun masih dibayangi tekanan impor serta keterbatasan pendanaan.
Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie mengungkapkan, usulan tersebut telah disampaikan kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menyebutkan, nilai pasar furnitur dunia mencapai sekitar USD 300 miliar, tetapi kontribusi Indonesia masih berada di kisaran USD 2,5 miliar. Di sisi lain, meningkatnya impor membuat surplus perdagangan sektor ini kian tergerus.
“Potensi pasarnya sangat besar, tetapi kenaikan impor justru mempersempit ruang surplus,” kata Anindya di Jakarta, Minggu (21/12).
Dalam pertemuan tersebut, Kadin dan Kementerian Keuangan membahas sejumlah langkah kebijakan, mulai dari penyederhanaan regulasi hingga pemberian insentif fiskal guna memperkuat fondasi industri. Skema pembiayaan dengan bunga rendah dinilai penting karena karakter industri furnitur dan elektronik memerlukan investasi jangka panjang.
Kadin juga menyoroti pentingnya penguatan industrialisasi berbasis sumber daya domestik. Indonesia dinilai memiliki keunggulan pada komoditas rotan, dengan sekitar 85 persen pasokan rotan dunia berasal dari dalam negeri. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dimaksimalkan menjadi produk bernilai tambah tinggi.
Selain itu, ketergantungan ekspor furnitur terhadap pasar Amerika Serikat masih cukup tinggi, mendekati 60 persen. Karena itu, Kadin mendorong perluasan pasar ke kawasan lain seperti Kanada dan Uni Eropa.
Pada sektor elektronik, Kadin melihat peluang Indonesia untuk menembus rantai pasok global, khususnya pada industri semikonduktor. Hilirisasi dari bahan baku seperti silika hingga produk berteknologi tinggi dinilai terbuka, meskipun tantangan utama masih berada pada keterbatasan tenaga kerja berkeahlian khusus.
“Kunci persoalannya ada pada ketersediaan insinyur dan tenaga ahli. Kami ingin industri berkembang dari sekadar padat karya menuju sektor bernilai tambah tinggi,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Ahmad Sobur menilai akses pembiayaan masih menjadi hambatan utama bagi pelaku industri.
Menurutnya, perluasan fasilitas pembiayaan ekspor dengan bunga kompetitif akan sangat membantu peningkatan kapasitas produksi.
“Saat ini pembiayaan dari LPEI bunganya sekitar 6 persen, tetapi plafonnya masih terbatas. Kami berharap volumenya dapat ditingkatkan agar industri furnitur tumbuh dan ekspor terdongkrak,” katanya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO