Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – Di tengah hiruk-pikuk Sentral Kota Batam, tepatnya di Dataran Engku Putri, Batamcenter, berdiri sebuah bangunan yang seolah mengajak pengunjung berhenti sejenak dan menengok ke belakang. Museum Raja Ali Haji hadir bukan sekadar sebagai ruang pamer benda-benda lama, melainkan sebagai memoar kolektif yang menghidupkan kembali jejak sejarah Batam dan peradaban Melayu.
Bangunan tersebut awalnya tidak dirancang sebagai museum. Ia dibangun sebagai astaka utama Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional ke-25 pada 2014. Setelah perhelatan akbar itu usai, bangunan diserahkan kepada Pemerintah Kota Batam. Gagasan menjadikannya ruang pelestarian sejarah mulai dirajut serius sejak awal 2019. Pada 31 Juli 2019, museum ini resmi terdaftar secara nasional, dan pada 10 Oktober 2019 diberi nama Museum Raja Ali Haji—sebuah nama yang langsung memantik rasa hormat dan refleksi.
“Awalnya saya kira ini hanya museum biasa. Tapi setelah masuk, saya baru sadar kalau Batam punya sejarah panjang. Selama ini kami hidup seperti kota ini baru lahir kemarin,” kata Fadli (23), mahasiswa di Batam yang berkunjung bersama teman-temannya, Minggu (21/12).
Berada di kawasan publik yang kerap menjadi pusat seremoni dan wisata, museum ini justru menawarkan ruang yang berbeda: sunyi dan reflektif. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam, Ardiwinata, menyebut museum ini sebagai ruang pembelajaran identitas.
“Museum ini bukan sekadar tempat menyimpan benda, tetapi ruang pembelajaran identitas. Kami ingin masyarakat Batam, terutama generasi muda, tahu bahwa kota ini tidak tumbuh dari ruang kosong,” ujarnya.
Raja Ali Haji dan Kesunyian yang Berpikir
Nama Raja Ali Haji tidak sekadar ditempel sebagai penanda. Pemikir dan pujangga besar Melayu itu dihadirkan sebagai suara yang terus berdialog dengan zaman. Lewat Gurindam Dua Belas, ia berbicara tentang akal, adab, dan tanggung jawab. Sementara melalui Tuhfat al-Nafis, ia mencatat sejarah dengan ketelitian seorang saksi, bukan penguasa yang haus dikenang.
“Kalau membaca karya Raja Ali Haji, rasanya seperti ditegur dengan sopan. Beliau tidak memerintah, tapi mengingatkan. Anak-anak muda seperti kami perlu paham bahwa bahasa itu punya nilai, bukan sekadar pelajaran,” ujar Fadli.
Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan Disbudpar Batam. Menurut Ardiwinata, Raja Ali Haji mengajarkan bahwa peradaban dibangun dari bahasa dan pikiran. Museum ini pun diposisikan sebagai ruang untuk menumbuhkan kesadaran itu.
Artefak yang Berkisah
Di balik etalase kaca, tersusun rapi berbagai koleksi: replika cogan kerajaan, meriam kolonial dari Pulau Buluh, keramik asing dari jalur perdagangan, ragam tanjak, hingga foto-foto Batam ketika pulau ini masih sunyi—jauh sebelum industri dan reklamasi hadir.
Koleksi museum disusun bukan sebagai tumpukan artefak, melainkan sebagai alur cerita. Pengunjung diajak berjalan dari masa Kesultanan Riau-Lingga, era kolonialisme, pendudukan Jepang, hingga Batam modern. Setiap benda dilengkapi narasi, sebagian didukung teknologi digital.
“Kami ingin museum ini berbicara. Kalau benda hanya dipajang tanpa cerita, ia mati,” kata Ardiwinata.
Bagi sebagian pengunjung muda, Museum Raja Ali Haji menjadi pertemuan pertama dengan sejarahnya sendiri. Museum ini tidak menawarkan sensasi atau hiburan instan. Namun justru di situlah kekuatannya: mengajak pengunjung berpikir, merasa, dan mengingat.
Museum barangkali tidak sepenuhnya tentang masa lalu. Ia lebih sering berbicara tentang masa kini yang takut lupa. Sejarah, kata Ardiwinata, bukan barang rapuh di balik kaca, melainkan cermin—tempat manusia bercermin dan bertanya: dari mana kita datang, dan ke mana kita hendak melangkah.
Di tengah Batam yang terus bergerak cepat, Museum Raja Ali Haji memilih diam. Namun dari kesunyian itulah, suara paling jujur kerap terdengar paling merdu. (***)
Reporter : ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO