Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Harga emas masih menyimpan cerita menarik menjelang pergantian pekan. Di tengah gejolak geopolitik global dan sinyal pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat, logam mulia kembali dilirik sebagai pelabuhan aman.
Pengamat komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas dunia maupun emas batangan Antam masih berpeluang menguat pada pekan depan, meski pergerakannya diperkirakan tetap naik-turun. Dua faktor utama menjadi penopang: ketegangan geopolitik yang belum mereda dan ekspektasi pasar terhadap penurunan suku bunga The Fed.
Pada penutupan perdagangan Sabtu pagi, harga emas dunia bertengger di level USD 4.338 per troy ounce. Sementara itu, harga logam mulia Antam di pasar domestik berada di angka Rp2.491.000 per gram.
Ibrahim mencatat, tekanan penurunan masih mungkin terjadi dalam jangka pendek. Support pertama emas dunia berada di kisaran USD 4.291 per troy ounce. Jika level itu ditembus, harga emas Antam berpotensi terkoreksi ke sekitar Rp2.475.000 per gram.
“Koreksi lanjutan bisa membawa emas dunia turun ke support kedua di USD 4.256 per troy ounce. Pada level itu, harga emas Antam bisa melemah hingga Rp2,4 juta per gram,” ujarnya dalam analisis, Minggu (21/12).
Namun peluang penguatan dinilai masih lebih besar. Menurut Ibrahim, apabila harga emas dunia mampu menembus resistance awal di USD 4.378 per troy ounce, maka pada awal pekan—khususnya Senin (22/12)—harga emas batangan berpotensi naik ke Rp2.510.000 per gram.
Skenario yang lebih agresif juga terbuka. Dalam sepekan ke depan, tepatnya pada Sabtu (27/12), harga emas dunia berpeluang menyentuh USD 4.415 per troy ounce. Jika itu terjadi, harga emas Antam diperkirakan ikut melesat ke kisaran Rp2.600.000 per gram.
Bahkan, peluang emas dunia melampaui rekor tertinggi Oktober lalu di level USD 4.381 per troy ounce dinilai cukup besar. Hingga akhir tahun, harga emas Antam disebut berpotensi menembus Rp2.700.000 per gram, dengan catatan sentimen global tetap kondusif dan nilai tukar rupiah relatif stabil.
Dari sisi pasar keuangan, Ibrahim mencermati indeks dolar AS yang ditutup di level 98,695 pada Sabtu pagi. Indeks tersebut diperkirakan bergerak di area support 98,451 dengan resistance di rentang 98,950–99,24. Sementara nilai tukar rupiah pada pekan depan diproyeksikan berada di kisaran Rp16.680 hingga Rp16.820 per dolar AS.
Fluktuasi harga emas, lanjut Ibrahim, tak lepas dari sikap The Fed yang masih menjadi pusat perhatian pasar. Data tenaga kerja AS membuka peluang penurunan suku bunga, meski sejumlah ekonom tetap berhati-hati karena data ekonomi berpotensi terdistorsi akibat penutupan pemerintahan federal AS selama 43 hari.
“Pekan depan juga akan diwarnai pernyataan dari sembilan gubernur Bank Sentral Amerika. Besar kemungkinan isu penurunan suku bunga kembali mengemuka,” ujarnya.
Di luar faktor moneter, bara geopolitik global masih menyala. Konflik di Timur Tengah—terutama potensi eskalasi antara Israel dan Iran—menjadi pendorong utama penguatan emas sebagai aset lindung nilai. Ketegangan Amerika Serikat dengan Venezuela, perang Rusia–Ukraina, hingga dinamika keamanan di Asia Timur terkait Taiwan turut mempertebal sentimen positif terhadap emas.
Di tengah ketidakpastian itu, emas kembali menunjukkan perannya: tenang, berkilau, dan selalu dicari saat dunia bergejolak. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO