Buka konten ini

DI antara hutan pencakar langit Dubai yang tumbuh nyaris tanpa jeda, ada bangunan-bangunan yang langsung dikenali bahkan sebelum orang membaca plang namanya. Balkon bertumpuk, rongga-rongga dramatis, sudut-sudut tegas yang nyaris agresif. Tanpa baliho, tanpa iklan jalanan, orang tahu siapa pembangunnya. Itulah jejak Binghatti.
Di baliknya ada satu nama: Muhammad Binghatti. Ia bukan sekadar CEO dan chairman Binghatti Holding. Ia adalah arsitek utama, penulis identitas merek, sekaligus pengendali arah bisnis. Di industri properti yang lazim dikuasai hitungan finansial dan kontraktor, Binghatti tampil berbeda—lebih mirip creative director yang memegang penuh neraca keuangan.
Ketika pasar properti Dubai menguji batas atasnya, pendekatan inilah yang membuat Binghatti jadi salah satu pengembang paling diperhatikan.
Mewarisi Bisnis, Mengubah Bahasanya
Muhammad Binghatti mengambil alih bisnis keluarga pada 2014, tak lama setelah menamatkan pendidikan arsitektur. Ia meraih gelar Sarjana Arsitektur dari American University of Sharjah pada 2015. Di kampus itulah disiplin desain dan bahasa visualnya ditempa—dua hal yang kelak menjadi DNA bangunan Binghatti.
Perusahaan ini didirikan pada 2008 oleh sang ayah, Hussain Binghatti Aljbori. Latar belakangnya jauh dari ruang rapat ber-AC. Anak seorang pedagang Badui nomaden, Hussain sudah mengawasi proyek konstruksi sejak usia belasan tahun. Dari sana, Binghatti tumbuh menjadi holding multibidang: properti, konstruksi, perhotelan, hingga desain.
Saat Muhammad masuk, perusahaan sudah mapan—namun konvensional. Perubahan yang terjadi bukan sekadar soal ekspansi, melainkan soal identitas. Muhammad tidak menempatkan desain sebagai sentuhan akhir kosmetik. Ia justru menjadikannya jantung strategi bisnis. Garis pemisah antara pengembang dan arsitek pun runtuh. Semua konsep, fasad, hingga bahasa bangunan berada di bawah kendalinya.
“Saya tidak menghabiskan anggaran pemasaran untuk baliho,” ujarnya suatu ketika.
“Bangunan kami sendiri adalah iklan.”
Arsitektur sebagai Produk
Bangunan Binghatti mudah dikenali. Balkon geometris berulang, kantilever berani, bayangan dalam, dan fasad yang tegas membentuk satu bahasa visual konsisten. Mereka menyebutnya kinetic architecture. Dampaknya sederhana: di tengah kepadatan skyline Dubai, bangunan itu langsung “menyapa mata”.
Muhammad secara terbuka mengakui strateginya meminjam logika merek konsumen. Properti, baginya, bukan sekadar aset, melainkan produk bermerek. “Kami menjual brand seperti industri otomotif atau fesyen,” katanya. Ia kerap menyandingkan Binghatti dengan Hermès, Gucci, atau Ferrari. Sekali lihat desainnya, orang tahu identitasnya.
Tak heran jika julukan “rockstar architect” melekat padanya. Bangunannya fotogenik, mudah viral, dan menancap kuat di memori visual kota yang nyaris kelebihan ikon.
Residens Bermerek, Rekor Demi Rekor
Strategi branding mencapai puncaknya lewat kolaborasi dengan merek-merek global. Ada Bugatti Residences by Binghatti, Mercedes-Benz Places, hingga Burj Binghatti Jacob & Co. Residences—yang digadang-gadang menjadi menara hunian bermerek tertinggi di dunia.
Bagi Muhammad, kolaborasi itu bukan sekadar menempel logo. “Kami menerjemahkan gaya hidup mereka ke dalam arsitektur,” ujarnya.
Hasilnya bukan main. Beberapa hari lalu, Binghatti mencatat sejarah dengan menjual penthouse termahal yang pernah ada di Dubai dan Timur Tengah. Unit di Bugatti Residences itu laku AED 550 juta, sekaligus memecahkan rekor harga per kaki persegi di Business Bay.
Angka Besar di Balik Estetika
Hingga 2025, Binghatti Holding telah menyerahkan lebih dari 12.000 unit hunian. Sepanjang 2024 saja, sebanyak 15.000 unit rampung. Portofolionya kini mencakup lebih dari 80 proyek di berbagai kawasan strategis Dubai, dengan nilai investasi melampaui AED 70 miliar.
Dalam sembilan bulan pertama 2025, laba bersih perusahaan melonjak 145 persen menjadi AED 2,66 miliar. Pendapatan hampir tiga kali lipat, ditopang penjualan off-plan dan serah terima awal. Sekitar 60 persen pembeli berasal dari luar Uni Emirat Arab—menandakan daya tarik internasional merek Binghatti.
Lebih dari Sekadar Angka
Soal kekayaan pribadi, spekulasi beredar luas. Namun angka pastinya sulit dipastikan. Yang jelas, Muhammad Binghatti berada di persimpangan langka: ia mengendalikan desain sekaligus modal. Kekuasaan kreatif dan finansial bertemu di satu tangan.
Di luar proyek dan laporan keuangan, ia kerap menyebut dirinya seniman dan penyair. Sejak mahasiswa, ia terobsesi pada para pendiri merek besar.
“Saya membayangkan orang mengenali nama Binghatti seperti Ferrari atau Chanel,” katanya dulu. Kini, itu bukan lagi mimpi. (*)
Reporter : JP Group
Editor : PUTUT ARIYO