Buka konten ini
BEIJING (BP) – Tekanan terhadap perekonomian Tiongkok semakin terasa. Sejumlah indikator terbaru menunjukkan perlambatan yang lebih tajam dari perkiraan, meski sejauh ini belum menggoyahkan target pertumbuhan ekonomi tahun berjalan. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi Negeri Tirai Bambu pada 2026.
Salah satu sinyal paling nyata terlihat dari kinerja penjualan ritel. Pada November, penjualan ritel hanya tumbuh 1,3 persen secara tahunan (year on year/YoY), merosot jauh dibandingkan Oktober yang masih mencatatkan pertumbuhan 2,9 persen YoY. Capaian itu juga berada di bawah ekspektasi pasar yang sebelumnya memproyeksikan pertumbuhan sekitar 2,8 persen.
Ekonom Goldman Sachs, seperti dikutip Reuters, menilai pelemahan tersebut dipicu oleh menurunnya penjualan kendaraan serta perubahan pola promosi di sektor perdagangan daring. Tekanan pada penjualan ritel dinilai berasal dari lesunya sektor otomotif, ditambah strategi promosi 11–11 yang dimajukan ke Oktober.
Sebagai informasi, Singles’ Day atau 11–11 selama ini dikenal sebagai puncak belanja online di Tiongkok. Tahun ini, sejumlah platform e-commerce menggelar promo lebih awal guna mendorong konsumsi yang melemah sejak awal tahun. Namun, hasilnya tidak sesuai harapan. Nilai transaksi kotor atau gross merchandise volume (GMV) selama periode promosi hanya meningkat 12 persen, turun signifikan dibandingkan lonjakan 20 persen pada tahun sebelumnya.
Pelemahan juga terlihat pada sisi investasi. Investasi aset tetap, termasuk sektor properti, tercatat terkontraksi 2,6 persen secara tahunan pada periode Januari–November. Angka ini lebih dalam dibandingkan kontraksi 2,3 persen pada Januari–Oktober.
Presiden sekaligus Kepala Ekonom Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang, menilai melemahnya investasi serta penurunan harga properti turut menekan konsumsi domestik. Kontraksi investasi aset tetap dan koreksi harga properti dinilai berdampak langsung terhadap kinerja penjualan ritel.
Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) mendorong pemerintah Tiongkok untuk mempercepat reformasi struktural dan mengambil langkah lebih agresif di sektor properti. Dorongan tersebut mengingat sekitar 70 persen kekayaan rumah tangga di Tiongkok masih bergantung pada aset real estat. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO