Buka konten ini

HUJAN deras yang mengguyur Kota Batam sejak siang hari, Selasa (16/12), menyebabkan sejumlah ruas jalan tergenang banjir. Salah satu titik terparah terjadi di Jalan Tengku Sulung dekat kawasan Botania, Batam Center, tepatnya di depan Perumahan Marbella.
Genangan air di lokasi tersebut bertahan hampir satu jam dan sempat mengganggu aktivitas warga serta arus lalu lintas. Kendaraan yang melintas terpaksa memperlambat laju, bahkan sebagian pengendara memilih memutar arah untuk menghindari genangan.
Ketinggian air diperkirakan mencapai sekitar 30 sentimeter atau setara setengah betis orang dewasa. Kondisi itu membuat pengendara roda dua maupun roda empat waswas saat melintas.
Sejumlah kendaraan terlihat nekat menerobos genangan meski risiko mogok cukup tinggi. Sementara itu, beberapa pengendara sepeda motor memilih berhenti di tepi jalan sambil menunggu air surut.
Eko, salah seorang warga yang melintas di kawasan tersebut, mengaku khawatir saat harus melewati genangan air yang cukup dalam. Menurutnya, arus air yang mengalir membuat kendaraan sulit dikendalikan.
“Airnya cukup tinggi dan arusnya terasa. Saya sempat ragu mau lanjut atau putar balik, takut motor mati di tengah jalan,” ujarnya.
Ia menambahkan, banjir di ruas Jalan Tengku Sulung bukan kali pertama terjadi. Setiap hujan deras dengan durasi cukup lama, kawasan tersebut kerap tergenang.
“Kalau hujan deras memang sering seperti ini. Mudah-mudahan ada penanganan supaya air cepat surut,” harapnya.
Hal serupa dirasakan Farid, pengendara mobil yang melintas tak lama setelah hujan mengguyur. Ia mengaku harus memperlambat laju kendaraan demi menghindari kerusakan mesin.
“Kalau mobil masih bisa lewat, tapi tetap waswas. Kita tidak tahu lubang di jalan tertutup air,” kata Farid.
Ia menyebut genangan air membuat arus lalu lintas tersendat. Sejumlah kendaraan tampak berhenti sejenak untuk memastikan kondisi jalan aman dilalui.
“Kalau sudah begini, semua pengendara jadi ekstra hati-hati. Sedikit saja salah, bisa mogok,” ujarnya.
Sekitar pukul 15.00 WIB, genangan air di Jalan Tengku Sulung mulai berangsur surut. Arus lalu lintas pun kembali normal dan warga dapat beraktivitas seperti biasa.
Tak hanya merendam jalan utama, banjir juga menggenangi kawasan Perumahan Taman Raya. Air dilaporkan masuk ke dalam rumah warga dengan ketinggian mencapai mata kaki.
Warga setempat terpaksa membersihkan rumah setelah air surut, sementara sebagian lainnya lebih dulu mengamankan barang-barang berharga saat genangan mulai meninggi.
Warga Tiban Global Keluhkan Banjir
Warga Perumahan Tiban Global, Kecamatan Sekupang, Kota Batam, mengeluhkan banjir yang kerap terjadi setiap kali hujan turun. Banjir tersebut diduga dipicu sistem drainase di sekitar SMA Negeri 29 Batam yang dinilai tidak memadai dan tidak mampu menampung debit air hujan.
Sarifah, warga Tiban Global yang tinggal tidak jauh dari lokasi sekolah, mengatakan banjir mulai sering terjadi sejak SMA Negeri 29 dibangun pada 2023. Menurutnya, ukuran drainase di sekitar sekolah terlalu kecil dan sempit sehingga air hujan mudah meluap ke permukiman warga.
“Sejak sekolah itu dibangun, setiap hujan deras kami sering kebanjiran. Drainasenya kecil dan sempit, tidak mampu menampung air hujan,” ujarnya kepada Batam Pos.
Ia menjelaskan, kawasan sekolah yang luasnya lebih dari satu hektare dipagari tembok rapat. Akibatnya, air hujan tidak memiliki jalur resapan yang memadai dan justru mengalir ke rumah-rumah warga.
“Sekolahnya tertutup tembok semua, air tidak bisa masuk ke area sekolah. Jadi limpahannya ke rumah warga. Sudah hampir dua tahun kami mengalami banjir seperti ini,” keluhnya.
Persoalan ini mendapat perhatian Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Riau, Andi Agung. Ia menyebut penanganan banjir di sekitar SMA Negeri 29 memerlukan keterlibatan Pemerintah Kota Batam dan BP Batam karena berada di luar kewenangan langsung Disdik Kepri.
“Salurannya memang kecil. Ketika hujan datang, air tidak tertampung dengan baik. Karena ada bangunan sekolah di situ, ini harus menjadi perhatian bersama,” kata Agung.
Ia menegaskan, kewenangan Disdik Kepri terbatas pada lingkungan sekolah, sementara perbaikan drainase dan infrastruktur jalan menjadi kewenangan Pemko Batam dan BP Batam.
“Kami hanya memiliki kewenangan di area sekolah. Untuk drainase dan jalan secara keseluruhan, itu di luar anggaran dan kewenangan kami,” jelasnya.
Disdik Kepri, kata Agung, akan menyurati Pemko Batam dan BP Batam untuk mendorong koordinasi lintas instansi guna mencari solusi jangka panjang.
BMKG Peringatkan Potensi Banjir Rob
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Hang Nadim Batam mengeluarkan peringatan dini potensi banjir rob di wilayah pesisir Kota Batam pada periode 18 hingga 27 Desember.
Peringatan ini dipicu fenomena fase Bulan Baru yang jatuh pada 20 Desember dan berpotensi meningkatkan ketinggian maksimum air laut.
Berdasarkan pantauan water level dan prediksi pasang surut, sejumlah kawasan pesisir berisiko terdampak, di antaranya Kecamatan Batu Aji, Batu Ampar, Sekupang, dan Nongsa, serta wilayah sekitarnya.
Banjir rob berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat pesisir, terutama kegiatan pelabuhan, bongkar muat barang, permukiman, hingga aktivitas perikanan.
Menindaklanjuti hal tersebut, BPBD Batam menyatakan telah menyebarluaskan peringatan dini kepada masyarakat. Kepala BPBD Batam, Agus Bendri, mengatakan pihaknya rutin memantau kondisi cuaca dan pasang surut air laut.
“Kami memantau dan menyampaikan informasi prakiraan cuaca serta pasang surut kepada camat untuk diteruskan kepada warga. Masyarakat juga dapat memantau secara mandiri melalui aplikasi resmi BMKG,” ujarnya.
BPBD juga mengimbau warga berperan aktif mencegah banjir dengan menjaga kebersihan lingkungan, khususnya saluran drainase.
“Kami mengimbau warga bergotong royong dan tidak membuang sampah sembarangan agar drainase tidak tersumbat dan memicu banjir,” katanya.
Selain itu, BPBD Batam tengah menyusun kajian risiko bencana serta terus melakukan sosialisasi peta rawan banjir sebagai acuan penataan kawasan di Kota Batam.
Masyarakat pesisir diimbau meningkatkan kewaspadaan, memantau informasi cuaca resmi, serta mengambil langkah pengamanan untuk meminimalkan dampak banjir rob yang berpotensi terjadi.
Polisi Larang Kru Kapal Paksakan Berlayar
Cuaca ekstrem yang belakangan melanda perairan Kota Batam menjadi perhatian serius Polresta Barelang. Kapolresta Barelang Kombes Pol Zaenal Arifin mengimbau masyarakat pesisir, khususnya kru kapal motor kayu dan Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM), agar selalu memprioritaskan keselamatan saat beraktivitas.
“Kami mengimbau seluruh kru kapal dan TKBM agar tidak memaksakan diri beraktivitas di laut ketika cuaca buruk. Keselamatan jiwa adalah yang utama,” tegas Zaenal.
Imbauan tersebut sekaligus menjadi peringatan bagi para pengguna jasa perairan agar tetap waspada dan bertindak hati-hati di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu.
Sebagai bentuk kehadiran Polri di tengah masyarakat pesisir, Satuan Polisi Air dan Udara (Satpolairud) Polresta Barelang menggelar sambang dialogis di Pelabuhan Rakyat Tanjunguma, Kecamatan Lubukbaja, Senin (15/12) sekitar pukul 14.00 WIB. Kegiatan ini menyasar kru kapal motor kayu dan TKBM pelabuhan untuk menyampaikan pesan kamtibmas sekaligus antisipasi cuaca ekstrem.
Dalam kegiatan tersebut, personel Satpolairud yang terlibat antara lain Ipda Zia Ul Hak, Aiptu Mardadi H. Lesa, Bripka Tri Wahyudi, dan Bripda M. Terry Kelvin. Mereka melaksanakan patroli dialogis secara humanis, mendengarkan aspirasi masyarakat pesisir, serta menampung kendala yang dihadapi dalam aktivitas sehari-hari.
Petugas juga menekankan pentingnya aspek keselamatan kerja, khususnya saat proses bongkar muat di pelabuhan.
“Pastikan seluruh aktivitas bongkar muat berjalan aman dan tertib. Keselamatan kerja harus menjadi prioritas utama,” kata Zaenal.
Selain itu, Satpolairud memberikan sejumlah tips keselamatan kepada kru kapal motor kayu. Sebelum berlayar, kru diimbau memantau kondisi cuaca, memastikan kapal dilengkapi alat keselamatan seperti life jacket dan life buoy, serta selalu mengutamakan keselamatan dalam setiap aktivitas di laut.
Kapolresta menegaskan agar kru kapal tidak memaksakan pelayaran bila kondisi cuaca tidak memungkinkan. Menurutnya, keselamatan jiwa dan harta benda jauh lebih penting dibandingkan aktivitas ekonomi semata.
“Jangan paksakan berlayar saat cuaca tidak bersahabat. Keselamatan jauh lebih utama,” ujarnya.
Selama kegiatan berlangsung, situasi di Pelabuhan Rakyat Tanjunguma terpantau aman, tertib, dan kondusif.
Satpolairud Polresta Barelang menyatakan akan terus melakukan langkah preventif dan preemtif untuk menjaga keamanan dan keselamatan di wilayah perairan hukum Polresta Barelang. (***)
Reporter : YASHINTA – M. SYA’BAN – ARJUNA – EUSEBIUS SARA
Editor : RATNA IRTATIK