Buka konten ini

SERANGAN penembakan di Bondi Beach, Sydney, Australia, pada Minggu (14/12) sore menimbulkan duka nasional dan sorotan internasional. Insiden terjadi di tengah perayaan Hanukkah yang dihadiri ribuan warga, dan kini ditetapkan sebagai tindakan terorisme.
Polisi New South Wales (NSW) menyebut dua tersangka adalah ayah dan anak, yaitu Sajid Akram, 50, dan Naveed Akram, 24. Naveed ditangkap dalam kondisi kritis dan dirawat di rumah sakit, sementara ayahnya ditembak mati oleh polisi. “Ini adalah serangan teroris yang sengaja menargetkan komunitas,” tegas pejabat kepolisian.
Otoritas mengonfirmasi Sajid memiliki lisensi senjata api Kategori AB, yang memungkinkan kepemilikan senjata panjang terdaftar secara sah. Polisi menyita enam senjata terdaftar atas nama Sajid, termasuk tiga yang ditemukan di lokasi penembakan.
Komisaris Polisi NSW, Mal Lanyon, menyatakan, “Tidak ada indikasi awal bahwa salah satu dari kedua pria itu sedang merencanakan serangan.”
Insiden bermula saat dua pelaku melepaskan tembakan dari jembatan pejalan kaki yang menghadap area perayaan “Chanukah by the Sea”, memicu kepanikan massal di Bondi Beach. Perdana Menteri Australia, Anthony Albanese, menyebut peristiwa ini “mengejutkan dan sangat memprihatinkan” dan menegaskan perlunya solidaritas nasional serta dukungan bagi korban.
Sementara itu, foto lama Naveed yang sempat viral memicu perhatian publik. Sheikh Adam Ismail dari Al-Murad Institute menegaskan, “Saya hanya mengajarinya membaca Al-Qur’an dan bahasa Arab selama satu tahun, dan saya belum bertemu dengannya sejak 2022. Tindakan di Bondi jelas dilarang dalam Islam,” ujarnya.
Tragedi ini kembali menyoroti sistem lisensi senjata di Australia, yang terkenal ketat setelah tragedi Port Arthur 1996. Pemerintah dan masyarakat mempertimbangkan potensi celah dalam regulasi yang memungkinkan senjata berlisensi disalahgunakan.
Di tengah kekacauan, muncul kisah heroik dari seorang warga, Ahmed al Ahmed, yang berupaya merebut senjata pelaku, diyakini menyelamatkan banyak nyawa.
Komunitas internasional mengecam keras serangan ini, khususnya karena menargetkan perayaan keagamaan. Sementara itu, proses hukum terhadap putra pelaku terus berjalan, dengan fokus pada keadilan bagi korban dan pencegahan tragedi serupa di masa depan.
Insiden ini menjadi pengingat tantangan keamanan publik di era modern, terutama dalam melindungi masyarakat dari ancaman terorisme. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : GUSTIA BENNY