Buka konten ini

BANDA ACEH (BP) – Presiden Prabowo Subianto diminta menetapkan bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Sumatra sebagai bencana nasional. Penetapan tersebut dinilai penting agar penanganan dampak bencana dapat berjalan lebih optimal dan terkoordinasi.
Permintaan itu menjadi salah satu rekomendasi utama hasil pertemuan ratusan ulama, pimpinan dayah, dan tokoh keagamaan Aceh dalam Muzakarah Ulama Aceh dan Doa Bersama untuk Korban Banjir Hidrometeorologi di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, kemarin (14/12).
Dikutip dari Harian Rakyat Aceh (Batam Pos Group), forum tersebut menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis bagi pemerintah pusat dan daerah. Penetapan status bencana nasional dinilai krusial untuk mempercepat penanganan korban, pemulihan infrastruktur, serta membuka akses bantuan kemanusiaan internasional secara terkoordinasi, transparan, dan akuntabel.

Muzakarah juga mendorong Pemerintah Aceh bersama pemerintah kabupaten/kota menyusun blueprint pembangunan Aceh pascabencana yang berorientasi jangka panjang. Blueprint tersebut diharapkan mengintegrasikan mitigasi bencana, pemulihan lingkungan, penguatan ekonomi masyarakat, serta perlindungan lembaga pendidikan dan rumah ibadah.
Para ulama menegaskan pentingnya prinsip kejujuran, transparansi, dan amanah dalam pengelolaan bantuan kemanusiaan. Mereka juga mendesak penegakan hukum secara tegas terhadap pelaku perusakan lingkungan yang berkontribusi terhadap meningkatnya risiko bencana.
Muzakarah turut menyoroti isu keseragaman ibadah dan penguatan peran masjid. Ulama Aceh menegaskan praktik keagamaan di masjid-masjid Aceh harus berlandaskan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah dengan akidah Asy’ariyah–Maturidiyah dan fikih mazhab Syafi’i, seraya tetap menghormati kearifan lokal dan tradisi keagamaan yang telah hidup di tengah masyarakat.
Pemerintah Janji Bantu Petani
Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan memastikan pemerintah akan membantu petani yang terdampak banjir. Hal itu disampaikannya saat meninjau Desa Cot Ara, Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, Aceh, Minggu (14/12).
Dalam kunjungan bersama anggota DPR RI asal Aceh H. Nazaruddin Dek Gam, Zulkifli berdialog langsung dengan warga dan petani terdampak. Dari penyampaian warga diketahui lahan pertanian seluas 530 hektare di Desa Cot Ara rusak total dan tidak dapat ditanami.
Area persawahan tertutup lumpur tebal, sementara infrastruktur pertanian seperti saluran irigasi rusak akibat diterjang banjir.
“Ini dulu lahan sawah semua. Tapi sekarang rusak total. Di tanggul sana airnya sampai dua meter,” keluh Amirullah, salah seorang petani.
Zulkifli menegaskan pemerintah hadir membantu petani sesuai instruksi Presiden Prabowo. Perbaikan infrastruktur pertanian pascabencana menjadi perhatian utama.
Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memastikan Kementerian Pertanian bergerak cepat memulihkan lahan pertanian terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
“Petani harus segera mendapat bantuan, lahannya diolah kembali, bisa tanam dan panen lagi, serta melanjutkan hidupnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah menyalurkan bantuan benih, alat dan mesin pertanian, hingga akses Kredit Usaha Rakyat (KUR). Bantuan juga mencakup komoditas jagung dan sektor peternakan.
Boat Bantuan Sulit Diakses
Program penyediaan boat gratis oleh Pemkab Bireuen di penyeberangan Krueng Tingkeum, Kecamatan Kuta Blang, menuai keluhan relawan. Sejumlah relawan mengaku kesulitan menemukan lokasi boat bantuan.
Hingga kemarin, belum terlihat papan petunjuk atau informasi visual menuju titik penyeberangan. “Kami dengar boat gratis sudah disiapkan, tapi begitu sampai di Kuta Blang, bingung harus ke mana. Tidak ada petunjuk sama sekali,” keluh Aulia, relawan pembawa logistik dari Gandapura menuju Peusangan.
Kondisi ini dinilai berpotensi menghambat distribusi bantuan, terutama bagi relawan dari luar daerah. Informasi mengenai prosedur penggunaan boat, posko, dan mekanisme koordinasi juga dinilai belum tersosialisasi dengan baik.
“Nomor koordinator memang ada di berita, tapi di lokasi tidak ada informasi tertulis. Kami hampir satu jam salah lokasi penyeberangan. Alhamdulillah, Pak Kapolres Bireuen membantu kami menyeberangi sungai,” ungkapnya.
Jalur Medan–Aceh Tamiang Masih Berjejak Bencana
Sementara itu, perjalanan dari Medan menuju Kabupaten Aceh Tamiang, kemarin (14/12), masih memperlihatkan jejak bencana yang belum sepenuhnya pulih. Di sepanjang jalan tampak tumpukan kayu berserakan di tepi jalan.
Sejumlah tenda darurat berdiri di sepanjang jalur masuk dan kawasan kota. Tenda di depan rumah dimanfaatkan warga sebagai tempat menerima bantuan dari pengendara yang melintas.
Bangkai kendaraan yang terimbas banjir bandang masih terlihat di tepi jalan dan belum dievakuasi. Lumpur yang mengering bercampur tanah basah masih menutupi sebagian aspal jalan. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK