Buka konten ini

Minggu sore itu, ponton dermaga Pelabuhan Sri Siantan di Kelurahan Tarempa tak sepenuhnya dipenuhi lalu-lalang penumpang. Dari kejauhan, deretan orang berdiri berjajar rapi, menghadap laut, tangan mereka menggenggam tali pancing.
SEKILAS, pemandangan itu menyerupai antrean calon penumpang speed boat. Namun, tak ada koper, tak ada tas. Yang ada hanyalah harap, sabar, dan mata kail yang menunggu rezeki. Mereka bukan hendak bepergian. Mereka sedang berburu ikan tamban.
Begitulah wajah Tarempa setiap kali musim angin utara datang. Angin yang bertiup dari laut lepas itu bukan hanya membawa perubahan cuaca, tetapi juga mendatangkan kawanan ikan kecil yang gemar berkumpul di perairan tenang sekitar dermaga. Ikan tamban kecil, ramping, dan bergerombol menjadi primadona dadakan warga.
Arus laut yang relatif tenang membuat ikan-ikan itu betah berputar-putar di bawah dermaga. Bagi warga, ini adalah kesempatan emas. Tak perlu melaut jauh, cukup berdiri di atas ponton, menjulurkan pancing, lalu menunggu beberapa detik.
Firman, salah satu warga yang sore itu ikut memancing, tersenyum sambil menunjukkan hasil tangkapannya. Beberapa ekor ikan tamban mengilap sudah terkumpul di ember kecil di samping kakinya.
“Lumayan, buat lauk di rumah. Mancingnya secukupnya saja,” katanya santai.
Bagi Firman dan warga lainnya, memancing tamban bukan soal hasil besar. Ini lebih tentang memenuhi kebutuhan dapur dengan cara sederhana. Ikan tamban memang kecil dan bertulang banyak, tetapi soal rasa, jangan diremehkan.
“Kalau digoreng kering, gurihnya dapat. Enak,” ujarnya.
Selain digoreng, ikan tamban juga kerap diasapkan atau disalai. Cara tradisional itu membuat ikan lebih awet dan bisa disimpan beberapa hari. Cocok untuk stok lauk, terutama saat tangkapan sedang melimpah.
Menariknya, peralatan memancing yang digunakan pun jauh dari kata rumit. Tak ada umpan hidup, tak ada perlengkapan mahal. Cukup pancing bulu atau umpan mainan, ikan-ikan itu sudah mau menyambar.
“Ikan tamban ini hidupnya bergerombol. Sekali turun mata kail, langsung dapat. Kalau lagi banyak, cepat penuh,” tutur Firman.
Di pasar, harga ikan tamban pun ramah di kantong. Sekilogramnya hanya sekitar Rp10 ribu. Murah, mudah didapat, dan lezat tak heran jika ikan ini menjadi favorit banyak keluarga di Tarempa.
Namun lebih dari sekadar lauk murah, musim tamban adalah tentang kebersamaan. Tentang warga yang berkumpul di dermaga, berbagi cerita, tertawa kecil, sambil menunggu tarikan halus di ujung pancing. Di bawah langit Anambas dan hembusan angin utara, laut kembali memberi rezekinya sederhana, tapi penuh makna. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : GUSTIA BENNY