Buka konten ini

SISTEM pendidikan di masa mendatang diperkirakan akan mengalami pergeseran besar seiring pesatnya perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Hal ini disampaikan CEO Duolingo, Luis von Ahn, yang menilai AI berpotensi merevolusi cara belajar dan mengajar di sekolah.
Dalam perbincangannya di podcast No Priors bersama kapitalis ventura Sarah Guo, von Ahn mengemukakan gagasan bahwa fungsi sekolah ke depan bisa berubah. Ia melihat sekolah tidak lagi sepenuhnya berfokus pada proses pengajaran, melainkan lebih berperan sebagai ruang pengawasan dan perawatan anak, sementara proses belajar banyak ditangani oleh AI.
Dikutip dari Business Insider, von Ahn menilai kemampuan AI dalam menghadirkan pembelajaran yang bersifat personal dan mudah diperluas membuat teknologi ini lebih efektif dibandingkan metode pengajaran konvensional yang bergantung pada tenaga pengajar manusia.
“Pendidikan akan mengalami transformasi besar,” ujar von Ahn. Menurutnya, proses mengajar dengan bantuan AI jauh lebih skalabel dibandingkan mengandalkan guru di ruang kelas.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa peran guru tidak serta-merta lenyap. Sekolah tetap dibutuhkan sebagai lingkungan yang aman untuk mengawasi siswa dan memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi. Dalam gambaran von Ahn, guru akan lebih berfungsi sebagai pendamping, fasilitator, atau mentor.
AI, lanjutnya, mampu menyesuaikan materi pelajaran secara langsung sesuai kemampuan setiap siswa. Tingkat kesulitan dan metode pembelajaran dapat diatur secara real-time berdasarkan perkembangan individu, sesuatu yang sulit dilakukan guru dalam kelas besar.
Dalam satu kelas berisi puluhan siswa, memberikan perhatian personal kepada masing-masing anak menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Sebaliknya, sistem berbasis AI dapat memantau performa siswa secara detail dan menyesuaikan materi sesuai tingkat pemahaman mereka.
Von Ahn membayangkan ruang kelas di mana setiap murid belajar dengan pendekatan yang sangat personal, mirip dengan pengalaman belajar bahasa melalui aplikasi Duolingo. Sementara itu, guru berperan mendampingi dan memastikan proses belajar berjalan dengan baik.
“Peran manusia tetap dibutuhkan untuk merawat dan mengawasi siswa,” katanya. Namun, menurut von Ahn, komputer memiliki keunggulan dalam mengidentifikasi secara akurat apa yang sudah dan belum dikuasai siswa, sesuatu yang sulit dilakukan guru terhadap banyak murid sekaligus.
Meski visinya cukup progresif, von Ahn mengakui bahwa perubahan tersebut tidak akan terjadi dalam waktu singkat. Faktor regulasi, sistem pendidikan yang telah mengakar, serta ekspektasi budaya menjadi tantangan utama dalam penerapan AI secara luas di sekolah.
Kendati demikian, ia optimistis AI akan semakin terlibat dalam dunia pendidikan, terutama di negara-negara yang membutuhkan solusi pembelajaran cepat dan berskala besar. Pandangan ini membuka diskusi luas tentang bagaimana pendidikan akan beradaptasi dengan teknologi cerdas di masa depan.
Walau masih membutuhkan waktu, peran AI dalam pendidikan diyakini akan terus berkembang dan berpotensi menjadi jawaban atas berbagai persoalan pendidikan global yang kian kompleks. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO