Sabtu, 14 Februari 2026

Silakan berlangganan untuk bisa membaca keseluruhan berita di Harian Batam Pos.

Baca Juga

GAJAH

Gajah sebagai hewan mamalia selalu menggugah dan memukau bagi manusia. Ini tampak dalam berbagai karya sastra, karya seni lukis, hingga berbagai kepercayaan mitologis yang terhubung dengan hewan ini.

MESKI de­mikian, ter­pe­so­nanya ma­nusia terhadap gajah perlu di­cermati secara kritis, sebab acap kali sikap kagum itu mengendapkan pandangan antroposentrik yang hanya meletakkan gajah sebagai objek belaka. Walau manusia terpukau dengan gajah, da­lam realitasnya kehidupan ga­jah di alam liar sedang ber­ada di dalam ancaman.

Sengketa Ruang
Sengketa ruang antara ma­nusia dan satwa, dalam hal ini gajah, terjadi salah satu­nya di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau, Su­ma­tera. Ruang konservasi ini berubah menjadi ruang konflik yang sengit, yang membenturkan warga dengan satwa. Kericuhan terus terjadi di taman nasio­nal, bahkan memuncak men­jadi tindakan perusakan oleh pihak-pihak yang meng­inginkan taman nasional itu ditutup. Adapun populasi gajah liar di kawasan TNTN semakin berkurang jum­lah­nya, melalui data terakhir, disebutkan bahwa ada se­kitar 150 ekor.

Penyebab utama me­nu­runnya populasi gajah adalah terjadinya pe­ram­bahan hutan. Ini me­nye­bab­kan ruang hidup gajah semakin terimpit. TNTN yang pada awalnya memiliki luas 81.793 hektare kini hanya tersisa menjadi 12.561 hektare. Gajah mem­bu­tuh­kan ekosistem spesifik untuk bertahan hidup dalam alam liar, mereka perlu ruang jelajah dan makan bersama kelompoknya di wilayah yang luas.

Ekosistem bagi gajah-gajah liar ini penting untuk di­per­ta­hankan, selain demi melindungi spesies yang rapuh ini, tetapi juga amat penting bagi manusia. Me­ngapa pelestarian Tesso Nilo menjadi sedemikian urgen? Tes­so Nilo sebagai habitat pri­mer merupakan hutan pe­nyangga yang sangat pen­ting untuk dijaga. Men­ciut­nya wilayah hutan, selain mengancam habitat spesies kunci yakni gajah sumatera dan satwa liar lainnya, akan berbahaya juga bagi manusia.

Melihat kebencanaan yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, deforestasi yang terjadi di wi­layah hulu hutan menye­bab­kan curah air hujan yang ekstrem langsung mengalir menjadi bencana banjir ban­dang dan longsor. Men­ja­ga hutan merupakan cara mi­tigasi dan adaptasi ben­cana yang tepat sasaran, terutama saat ini ketika kita menjalani perubahan iklim.

Menggunakan perspektif filsafat lingkungan, kita dapat mencermati lebih sak­sa­ma dunia satwa yang terkadang diabaikan oleh pandangan manusia. Sikap antroposentris, yakni pan­dangan yang meletakkan kepentingan manusia se­bagai pusat, dapat me­nya­markan observasi manusia terhadap dunia satwa yang sangat dinamis.

Filsafat lingkungan hidup adalah upaya kritis mem­per­luas pertimbangan etis filosofis tidak saja tunggal pada manusia, tetapi pada ke­pentingan dan ke­si­nam­bungan biodiversitas. Filsafat yang mulanya sangat kental menempatkan rasio manusia sebagai alasan terbentuknya suatu dominasi posisi ma­nu­sia di alam, secara ber­angsur-angsur terjadi per­ubahan paradigma. Seiring dengan banyaknya pem­ba­ruan pikiran, kini mulai berkembang pembahasan yang menempatkan satwa tidak lagi sebagai objek yang dianggap properti manusia saja, namun sebagai subjek yang memiliki emosi dan kecerdasan.

Kaya Pengalaman dan Emosi
Sejatinya dunia satwa se­ma­rak dengan pengalaman dan emosi. Itu yang di­sam­paikan oleh filsuf Prancis bernama Maurice Merleau-Ponty. Ia menjelaskan de­ngan teori yang ia sebut sebagai spectacle of ani­ma­lity, atau dinamis dan se­ma­raknya kehidupan satwa itu. Hanya karena manusia memandang remeh dunia satwa, bukan berarti penga­laman dan rasa mereka itu tidak ada. Justru, gajah ada­lah makhluk yang kaya de­ngan emosi. Mereka me­ra­sakan kecintaan terhadap keluarga, protektif terhadap kelompoknya, mereka juga merasakan ketakutan dan penderitaan.

Berbagai penelitian ilmiah telah dihasilkan untuk me­ma­hami ikatan sosial pada gajah. Mereka mengingat anggota keluarganya yang mati, mereka menunjukkan duka dengan menyentuh tu­lang belulang. Ini yang disebut sebagai interioritas dari gajah, atau kehidupan batin yang sering kali di­lalaikan oleh manusia. Ga­jah ingin hidup dalam damai bersama keluarganya. Hutan dalam hal ini bukan saja kepunyaan manusia, hutan adalah rumah bagi gajah beserta makhluk hi­dup lainnya.

Dalam bukunya, When El­e­­phants Weep, Jeffrey Mous­saieff Mason, seorang peneliti yang mendalami emosi pada hewan, mengu­raikan bagaimana gajah merasakan teror dan trauma.
Ia memberikan contoh ba­gai­mana anak-anak gajah di Kenya yang diselamatkan dari perburuan, mereka se­ring terbangun dari tidurnya meronta-ronta dan menge­luarkan suara yang nyaring.

Anak-anak gajah itu me­nyak­sikan bagaimana ke­luarganya dibunuh dan ga­dingnya dipotong oleh pem­buru. Begitu pula kisah-kisah yang bertutur tentang induk gajah yang tidak mau meninggalkan jasad anak­nya, atau kawanan yang ber­keliling seperti me­la­ku­kan ritual berkabung ketika ke­hilangan anggota ke­lom­pok­nya. Mereka dapat me­ra­sakan kegembiraan, ke­se­dihan dan juga trauma.

Melindungi gajah sesung­guh­nya berarti melindungi hutan, dan melindungi hu­tan berarti melindungi ma­nusia dan semua makhluk. Merleau-Ponty menyebutnya sebagai intertwining atau keterjalinan antar; tubuh manusia, tubuh gajah, ter­hu­bung di dalam tubuh hu­tan. Menjaga keseimbang­an yang luhur ini sewajibnya menjadi keutamaan kita semua, sebab dunia yang kita hidupi bukanlah dunia milik manusia saja. Dunia ini tumbuh dari kehadiran se­ga­la yang hidup. Merusak sa­lah satunya berarti merobek keutuhan yang ada. (***)

Karya : jp group
Editor : Alfian Lumban Gaol