Buka konten ini

BANDA ACEH (BP) – Sudah dua pekan banjir bandang menerjang Aceh Tamiang, Banda Aceh. Namun, hingga Selasa (9/12), derita warga belum juga mereda. Bantuan logistik maupun medis dari pemerintah pusat dinilai masih jauh dari cukup, sementara kondisi kesehatan masyarakat kian mengkhawatirkan.

Di Kecamatan Karang Baru, warga menghadapi krisis layanan kesehatan. Daerah itu belum tersentuh posko medis, ditambah sulitnya air bersih serta akses transportasi yang lumpuh. Banyak warga menyebut penanganan pemerintah lambat, padahal situasi di lapangan semakin buruk.
Candra, warga Karang Baru, menyebut banyak warga mengalami penyakit kulit, kutu air, hingga batuk akibat debu lumpur yang mengering.
“Debunya sangat mengganggu. Kami butuh obat dan masker medis,” keluhnya.
Tebalnya debu pascabanjir juga meningkatkan risiko gangguan pernapasan.
Pantauan Rakyat Aceh (grup Batam Pos) menunjukkan tak ada posko medis di desa-desa terdampak. Layanan kesehatan hanya tersedia di pusat kota, sementara warga di pedalaman kesulitan menjangkaunya.
Masalah lain ialah minimnya transportasi. Banyak kendaraan rusak akibat terendam. Kalaupun kendaraan masih bisa digunakan, warga kesulitan mendapatkan BBM. Pertalite dijual hingga Rp30 ribu per liter.
“Motor rusak. Kalau pun hidup, harga minyak mahal sekali dan susah dapat,” ujar Candra.
Karena ketiadaan layanan medis di desa, warga memilih menahan sakit atau mengobati diri seadanya. Kondisi ini dikhawatirkan memicu lonjakan penyakit pascabencana.
Di Desa Alur Bemban, kondisi tak jauh berbeda. Ci Abu, warga setempat, menyebut belum ada satu pun bantuan pemerintah yang tiba di desanya hingga Selasa (9/12).
“Bantuan banyak dari relawan. Bahkan orang China pun membantu kita. Terharu saya,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Warga memang menerima makanan dan selimut dari berbagai kelompok relawan. Namun kebutuhan mendesak seperti air bersih, sanitasi, dan obat-obatan masih kosong.
Keterbatasan air bersih membuat warga terpaksa mencuci pakaian dan mandi dengan air berlumpur.
“Bersih-bersih pakai air lumpur. Anak-anak mulai sakit-sakit dan diare,” kata Ci Abu.
Situasi sanitasi buruk itu memicu potensi penyakit kulit, infeksi, hingga diare. Sementara listrik di Alur Bemban belum menyala sejak banjir pertama pada Rabu (26/11). Hingga Senin (8/12), warga masih hidup dalam kegelapan tanpa kepastian pemulihan.
Ketiadaan listrik membuat pompa air tak dapat digunakan. Warga juga tak bisa mengisi baterai lampu darurat dan menyimpan makanan.
Masyarakat berharap pemerintah tidak hanya fokus pada posko kota, tetapi segera turun ke desa-desa yang terdampak berat. Warga mendesak layanan medis bergerak ke permukiman, suplai air bersih segera dikirimkan, ketersediaan BBM distabilkan, serta perbaikan listrik dan akses jalan dipercepat.
Meski bantuan dari relawan terus berdatangan, tanpa intervensi pemerintah yang cepat dan terstruktur, pemulihan Aceh Tamiang diperkirakan berjalan lambat. Sementara kesehatan dan keselamatan warga terus berada di ujung tanduk.
Kayu Hanyut di Lampung Tak Terkait Banjir Sumatra
Hanyutnya ribuan kubik kayu di Pantai Tanjung Setia, Lampung, sempat menimbulkan spekulasi publik karena kayu tersebut berlabel Kementerian Kehutanan Sumbar.
Direktur Iuran dan Penatausahaan Hasil Hutan Kemenhut, Ade Mukadi, menegaskan kayu tersebut bukan berasal dari banjir di Sumatra. Polda Lampung dan Balai Pengelolaan Hutan Lestari (PHL) telah mengecek kayu yang terdampar di pantai Pesisir Barat itu.
“Kayu itu berasal dari kecelakaan kapal tagboat milik PBPH PT Minas Pagai Lumber di Mentawai,” katanya, Senin (9/12).
Perusahaan itu memiliki izin pemanfaatan hutan produksi berdasarkan SK.550/1995, yang kemudian diperpanjang melalui SK.502/Menhut-II/2013.
Menurut Ade, mesin kapal tagboat mati dan diterjang badai sejak 6 November. Akibatnya banyak kayu jatuh ke laut. Barcode yang terlihat di kayu adalah penanda SVLK (Sistem Verifikasi Legalitas Kayu) untuk pengecekan asal-usul kayu.
Sementara itu, Kepala BKSDA Kemenhut Sumbar, Hartono, menyebut kayu tersebut rencananya dibawa ke Gresik dan kini ditangani Ditjen Gakkum Kemenhut. Ia meminta masyarakat menunggu hasil pemeriksaan resmi.
Hartono menambahkan, material kayu yang terbawa banjir bandang Padang justru terdampar di pantai Kota Padang. Petugas BKSDA dan kepolisian telah melakukan identifikasi di sepanjang garis pantai.
Ia menyampaikan terima kasih kepada Manggala Agni yang membantu membersihkan dampak banjir di Kota Padang.
Banjir bandang di Padang dipicu longsor dari hulu DAS Kuranji. Tidak ada aktivitas pembukaan hutan di kawasan itu. Longsor diduga terjadi akibat hujan ekstrem dan kondisi tanah berpasir yang mudah terdorong air. Ketika tanah longsor, pohon-pohon di atasnya ikut hanyut terbawa arus. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK