Buka konten ini

ACEH (BP) – Warga Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, terpaksa kembali memasak menggunakan kayu bakar setelah pasokan LPG menghilang dari pasaran. Kelangkaan tersebut terjadi akibat banjir bandang dan longsor yang membuat wilayah itu terputus dari akses luar.
“Gas tidak ada, listrik juga mati. Jadi kami masak pakai kayu saja,” ujar Ayu, salah seorang warga, Senin (8/12).
Ia menuturkan, tabung LPG langsung sulit ditemukan sejak bencana melanda, sehingga penggunaan kayu bakar menjadi satu-satunya cara untuk memenuhi kebutuhan memasak.
Perubahan perilaku juga terlihat pada aktivitas masyarakat sehari-hari. Warga yang biasanya mengandalkan sepeda motor ataupun mobil kini banyak yang memilih berjalan kaki. Sebagian lainnya memakai sepeda untuk tetap bisa beraktivitas.
Kondisi jalanan di pusat kota Takengon tampak sepi dari kendaraan bermotor akibat BBM yang ikut langka. “Sekarang hampir semua orang berjalan kaki. Saya pun tiap malam jalan ke kantor bupati untuk ngecas HP dan pakai internet gratis,” kata Haris, warga lainnya.
Bencana banjir bandang dan longsor yang menerjang Aceh Tengah sudah memasuki hari ke-13. Sebanyak 7 kecamatan dengan total 98 desa masih terisolasi lantaran banyak ruas jalan terputus atau tertutup material longsor.
Korban jiwa juga bertambah. Hingga kini, 23 orang dilaporkan meninggal dunia, sementara 22 warga masih dinyatakan hilang. Ribuan orang lainnya terpaksa mengungsi.
Pemadaman listrik masih berlangsung dan kondisi isolasi belum teratasi. Jalur Takengon–Bireuen lumpuh sepenuhnya, sementara akses KKA menuju Lhokseumawe ikut rusak berat. Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, telah meminta Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, agar pemerintah pusat memberi perhatian khusus terhadap percepatan pembukaan akses jalan KKA Takengon–Lhokseumawe.
Haili Yoga mengingatkan, keterlambatan pemulihan akses darat dapat memicu persoalan baru berupa ancaman kekurangan pangan. “Kami sangat berharap hal ini bisa menjadi perhatian Bapak Presiden,” ujar Haili Yoga dalam pesan suara yang ia sampaikan kepada Teddy. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO