Buka konten ini

LINGGA (BP) – Banjir rob mengepung Kepulauan Riau (Kepri). Beberapa daerah di Kepri yakni Dabo Singkep, Bintan, dan Karimun mengalami banjir rob, Minggu (7/12).
Di Dabo Singkep, banjir rob juga diiringai hujan lebat disertai angin kencang dan petir. Sedikitnya 90 kepala keluarga (KK) terdampak akibat fenomena tersebut.
Kepolisian, Lurah Dabo Lama, Harie Kurniawan, bersama ketua RT/RW dan Kepala BMKG Dabo Lingga, meninjau langsung kawasan yang terendam pada Minggu (7/12). Tim gabungan itu menyusuri titik-titik banjir sembari melakukan mitigasi risiko bencana di wilayah kelurahan.
Peninjauan dilakukan untuk menilai tingkat kerusakan serta merencanakan langkah pencegahan yang lebih komprehensif.
Warga terdampak berharap pemerintah daerah maupun Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait segera menyalurkan bantuan dan menghadirkan solusi jangka panjang atas banjir rob yang saban tahun terjadi.
“Setiap tahun kami menghadapi kondisi seperti ini. Apakah dari pemerintah tidak ada solusi konkret agar banjir ini bisa selesai dan tidak terulang?” keluh seorang warga Dabo Lama.

Meski belum menimbulkan kerugian besar, warga khawatir hujan yang terus turun dapat memperparah banjir.
Harie Kurniawan mengatakan dampak banjir rob berpotensi lebih parah saat fenomena bulan mendekati bumi (perigee). Jika perigee bersamaan dengan curah hujan tinggi, banjir dapat meluas dan memperberat kondisi di pemukiman warga.
“Fenomena itu, jika bertepatan dengan hujan deras, bisa memperburuk kondisi banjir,” ujarnya.
Ia mengimbau warga tetap waspada penuh terhadap potensi bencana susulan.
“Sebanyak 90 KK dilaporkan terdampak langsung banjir rob yang terjadi,” tambahnya.
Harie menekankan perlunya perhatian serius dari pihak terkait agar permasalahan banjir rob tidak terus berulang setiap tahun.
“Solusi permanen penting dilakukan agar banjir rob bisa ditangani tuntas,” jelasnya.
Pemerintah Kelurahan Dabo Lama memastikan bakal terus berkoordinasi dengan BMKG dan OPD terkait dalam upaya penanganan serta mitigasi bencana yang lebih terpadu pada masa mendatang.
Sementara itu, warga Jalan Merdeka, Tanjunguban, Kecamatan Bintan Utara, waspada terhadap banjir rob saat air laut pasang tinggi. Mereka harap-harap cemas karena air sewaktu-waktu dapat menggenangi ruas jalan hingga masuk ke rumah dan toko.
Pemilik Toko Mega Jaya, Ango, mengatakan banjir rob sudah melanda selama tiga hari sejak Jumat (5/12). Pada hari pertama, air hanya menggenangi ruas jalan. Namun, Sabtu (6/12), banjir sempat masuk ke dalam tokonya.
“Kemarin Sabtu, kaget juga kita. Luar biasa tingginya,” ujar Ango setelah membersihkan teras toko.
Pada Minggu (7/12), banjir rob hanya sampai teras dan tidak masuk ke dalam bangunan. Ia menyebut ketinggian air telah menurun sekitar 10 sentimeter dari sehari sebelumnya.
“Hari ini agak reda,” katanya.
Ango pasrah dengan kondisi banjir rob yang menurutnya sulit dicegah karena merupakan siklus tahunan dan dipengaruhi faktor alam. Permukaan jalan yang rendah juga membuat penanganan fisik tidak mudah dilakukan.
“Mau ditinggikan, tidak mungkin karena sudah mentok di atas,” ujarnya.
Ia berharap banjir rob tidak berbarengan dengan hujan deras karena hal itu dapat memperburuk situasi.
“Kalau air laut saja masih bisa bertahan. Tapi kalau ditambah hujan, kita harus mengungsi ke belakang rumah,” katanya.
Sekretaris BPBD Bintan, Agus Ariyadi, mengatakan banjir rob pada Minggu (7/12) menyebabkan empat rumah warga di Kampung Sei Enam Laut, Kelurahan Sei Enam, Kecamatan Bintan Timur, tergenang.
“Tapi sudah surut,” tambahnya.
Ia memastikan pihaknya terus memantau kawasan pesisir Bintan yang berpotensi terdampak banjir rob. Menurut dia, potensi banjir rob diperkirakan masih berlangsung hingga 13 Desember 2025.
“Mudah-mudahan tidak bersamaan dengan hujan deras karena kondisinya bisa lebih buruk,” ujarnya.
BPBD mengimbau masyarakat tetap waspada menghadapi potensi tersebut.
Sedangkan di Kabupaten Karimun Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Kabupaten Karimun waspada dan meningkatkan pengawasan. Termasuk juga, BPBD Damkar mengeluarkan surat himbauan Nomor: 800/BPBD-DAMKAR-HIMB/KRM/XII/2025 yang intinya agar masyarakat waspada dengan cuaca ekstrem.
’’Banjir rob air laut hampir setiap tahun terjadi di wilayah Kabupaten Karimun. Namun, untuk kali ini banjir rob air laut akan berlangsung agak lama. Yakni, mulai pada Rabu (3/12) sampai dengan Minggu (14/12). Hal ini disebabkan adanya fase perigee. Yakni, posisi bulan berada di jarak paling dekat dengan bumi,’’ ujar Plt Kepala BPBD Damkar, Dedi Sahori kepada Batam Pos, Minggu (7/12.
Dikatakannya, dengan kondisi saat ini, pihaknya sudah membagi beberapa tim untuk melakukan monitoring atau pengawasan ke daerah-daerah pemukiman warga. Khususnya, pemukiman yang tinggal didaerah rendah dan kawasan pesisir laut. Amankan surat-surat penting dan barang berharga agar tidak hilang serta simpan ditempat yang tinggi.
’’Kami menghimbau agar masyarakat menghindari aktivitas di wilayah pesisir saat air pasang tinggi untuk mengurangi resiko kecelakaan. Dan, kami dari BPBD Damkar Kabupaten Karimun akan selalu siaga 24 jam dan siap memberikan bantuan jika memang dibutuhkan Jika terjadi kondisi darurat dapat menghubungi BPBD-DAMKAR Kabupaten Karimun di 085668731716,’’ jelasnya.
Sesuai hasil pantauan petugas BPBD Damkar di lapangan, tambah Dedi, ketinggian banjir rob air laut dalam dua hari terakhir, yakni, Sabtu (6/12) dan Minggu (7/12) terdapat perbedaan.
Banjir rob yang terjadi pada Sabtu memang ketinggian air lebih tinggi berbanding pada Minggu. Dengan fenomena alam dan cuaca saat ini, dia mengingatkan kembali agar masyarakat selalu waspada. Sehingga, dapat terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. (***)
Reporter : VATAWARI – SANDI PRAMOSINTO – SLAMET NOFASUSANTO
Editor : GUSTIA BENNY