Sakato Art Community adalah cinta pertama dr Oei Hong Djien, pemilik OHD Museum, Magelang, Jawa Tengah. Kolektor masyhur berumur 86 tahun itu mengakuinya di hadapan puluhan hadirin diskusi dan peluncuran katalog pameran Guru Terkembang Jadi Bentuk di OHD Museum,Kamis sore, 20 November 2025. PENGAKUAN itu sesungguhnya adalah jawaban sang kolektor atas pertanyaan ringan saya: ”Apa pertimbangan dr Oei Hong Djien menerima Sakato Art Community berpameran di OHD Museum?”
”Cinta pertama kan sulit dilupakan,” tegas dr Oei Hong Djien. ”Jadi, saya gak bisa menolak permintaan Sakato Art Community berpameran di sini (OHD Museum).”
Apa sebabnya sang kolektor sulit melupakan Sakato Art Community adalah kenyataan sejumlah anggota komunitas seni rupawan asal Sumatera Barat yang tinggal dan berkarya di Jogjakarta dan pernah mengenyam pendidikan seni di Institut Seni Indonesia Jogjakarta itu, antara lain Handiwirman Saputra, Jumaldi Alfi, Rudi Mantofani, dan Yunizar, berterima sebagai perupa-perupa terkemuka, dengan pengakuan publik dan patronasi dari diler dan kolektor yang meyakinkan, di dunia seni rupa Indonesia.
Kenyataan itu sungguh membanggakan sang kolektor yang sejak 30 tahun lalu, ketika Sakato Art Community baru berdiri, telah mengoleksi karya-karya anggotanya yang saat itu kebanyakan masih berstatus mahasiswa seni, dan menjadi patron paling setia dan bersemangat sampai hari ini.
Di ujung pengakuannya sore itu, dr Oei Hong Djien tertawa lebar yang mengisyaratkan kebahagiaan paripurna sekaligus pembuktian sempurna bahwa kolektor dan perupa sudah seharusnya membuat satu sama lain jadi lebih baik. Itulah esensi sejati cinta pertama sang kolektor dan kerja samanya dengan Sakato Art Community sepanjang tiga dasawarsa ini.
Maka terjadilah pameran Guru Terkembang Jadi Bentuk, dari 18 Juni hingga akhir Desember nanti, dengan kurator Asmudjo Jono Irianto dan Bandaro Anton Rais Makoginta, yang menampilkan 81 pusparagam karya seni rupa ciptaan 60 perupa lintas generasi anggota Sakato Art Community.
* Ruang Antropologis
Syahdan, sakato, dalam bahasa Minangkabau, berarti sekata, sepakat, atau semufakat dalam suatu perkara, laku, atau ikhtiar.
Dengan itu, berdasarkan hikmat-kebijaksanaan enam orang pendirinya, dan percikan permenungan belasan eksponennya dalam perbincangan sepeminuman kopi dan sepinggan gorengan di Sakato Art Space pada 20 November malam, sepulang dari OHD Museum, mereka bersepakat menjadikan Sakato Art Community sebagai, pinjam istilah antropolog Prancis Marc Auge dalam Non-Places: Introduction to an Anthropology of Supermodernity (2000), ”ruang antropologis” bagi mahasiswa dan perupa Sumatera Barat yang belajar, tinggal, dan berkarya di Jogjakarta.
Dengan begitu, mengambil-ubah perkataan filsuf Prancis Maurice Blanchot dalam The Writing of the Disaster (1995), keterpautan etnologis tampak menjanjikan pada anggota dan eksponen Sakato Art Community rasa aman atas habitat asli dan menjadi pelindung dari ketunawismaan eksistensial di tanah rantau.
Dengan kata lain, mengikuti pemikiran Alan Bownesss dalam The Conditions of Success: How The Modern Artist Rises to Fame (1990) ihwal ”lingkaran pengakuan” (circle of recognition) perupa, Sakato Art Community merupakan lembaga patronasi dan rekognisi awal mahasiswa dan perupa Sumatera Barat di Jogjakarta sebelum, atau untuk, mendapatkan pengakuan dari sejawat (peer recognition) perupa sezaman, pengakuan kritis (critical recognition) dari kritikus atau kurator, patronasi dari diler dan kolektor (patronage by dealers and collectors), dan pengakuan publik (public acclaim) di dunia seni rupa.
* Pengakuan Sejawat
Pameran Guru Terkembang Jadi Bentuk menghablurkan dengan baik pemikiran Alan Bowness tersebut. Selain mengungkapkan patronasi kuat dari kolektor ternama, dus menjadikan Sakato Art Community sebagai komunitas seni rupawan Indonesia pertama yang berpameran di OHD Museum, pameran itu memampukan sejumlah perupa muda, anggota Sakato Art Community, meraih pengakuan dari sejawat perupa bereputasi tinggi dalam pameran besar yang diampu oleh kurator waskita lagi wicaksana di sebuah museum swasta-pribadi penting.
Sementara itu, sekalipun tidak menampilkan semua karya anggota Sakato Art Community, seluruhnya berjumlah 120 orang, pameran Guru Terkembang Jadi Bentuk memperlihatkan pusparagam karya seni rupa (lukisan, patung, objek, foto, video) dengan pelbagai pilar artistik (bentuk, teknik, ide) yang terikat pada satu filosofi, filosofi utama manusia Minangkabau, yaitu ”alam terkembang jadi guru”. Itulah makna ”sekata tak serupa” yang tersurat sebagai judul tulisan ini.
Arkian, dengan filosofi itu, mereka berhikmat tentang ”guru” sebagai segala kemungkinan inspirasi yang dapat dianggit ke dalam ”bentuk” seni rupa apa pun (realistis, abstrak, ekspresionistis, surealistis, dsb).
Yang menarik, ternyata dalam pameran Guru Terkembang Jadi Bentuk, ada satu-dua anggota Sakato Art Community yang berasal dari Sumatera Utara dan Sumatera Selatan.
Itu artinya, betapa pun primordialnya Sakato Art Community dengan filosofi dan tradisi Minangkabau, ia tak menutup diri dari keterlibatan orang lain dengan tradisi, filosofi, dan kepercayaan yang berbeda.
Itulah yang meyakinkan saya sonder menyimpulkan bahwa lebih dari sekadar komunitas perupa primordial di tanah rantau, Sakato Art Community merupakan sebuah ”ruang antropologis” yang toleran dengan visi kreatif yang terbuka untuk merawat filosofi dan tradisi sendiri yang baik dan menerima filosofi dan tradisi dari mana pun yang lebih baik. (***)
Karya : jp group
Editor : Alfian Lumban Gaol