Jumat, 13 Februari 2026

Silakan berlangganan untuk bisa membaca keseluruhan berita di Harian Batam Pos.

Baca Juga

Sekata Tak Serupa

Sakato Art Community adalah cinta pertama dr Oei Hong Djien, pemilik OHD Museum, Magelang, Jawa Tengah. Kolektor masyhur berumur 86 tahun itu mengakuinya di hadapan puluhan hadirin diskusi dan peluncuran katalog pameran Guru Terkembang Jadi Bentuk di OHD Museum,Kamis sore, 20 November 2025. PENGAKUAN itu sesungguhnya adalah jawaban sang kolektor atas pertanyaan ringan saya: ”Apa pertimbangan dr Oei Hong Djien menerima Sakato Art Com­munity berpameran di OHD Museum?”

”Cinta pertama kan sulit dilupakan,” tegas dr Oei Hong Djien. ”Jadi, saya gak bisa menolak permintaan Sakato Art Community berpameran di sini (OHD Museum).”

Apa sebabnya sang kolektor sulit melupakan Sakato Art Community adalah ke­nya­taan sejumlah anggota ko­mu­nitas seni rupawan asal Sumatera Barat yang tinggal dan berkarya di Jogjakarta dan pernah mengenyam pen­didikan seni di Institut Seni Indonesia Jogjakarta itu, antara lain Handiwirman Saputra, Jumaldi Alfi, Rudi Mantofani, dan Yunizar, ber­terima sebagai perupa-pe­ru­pa terkemuka, dengan pe­ngakuan publik dan pa­tro­nasi dari diler dan kolektor yang meyakinkan, di dunia seni rupa Indonesia.

Kenyataan itu sungguh mem­banggakan sang ko­lek­tor yang sejak 30 tahun la­lu, ketika Sakato Art Commu­nity baru berdiri, telah mengoleksi karya-karya ang­gotanya yang saat itu ke­ba­nyakan masih berstatus ma­hasiswa seni, dan menjadi patron paling setia dan ber­semangat sampai hari ini.

Di ujung pengakuannya sore itu, dr Oei Hong Djien tertawa lebar yang meng­isya­ratkan kebahagiaan pa­ripurna s­ekaligus pembuktian sempurna bahwa kolektor dan perupa sudah seharusnya membuat satu sama lain jadi lebih baik. Itulah esensi sejati cinta pertama sang kolektor dan kerja samanya dengan Sakato Art Community sepan­jang tiga dasawarsa ini.

Maka terjadilah pameran Guru Terkembang Jadi Ben­tuk, dari 18 Juni hingga akhir Desember nanti, dengan ku­­ra­tor Asmudjo Jono Irianto dan Bandaro Anton Rais Ma­ko­ginta, yang menampilkan 81 pusparagam karya seni rupa ciptaan 60 perupa lintas generasi anggota Sakato Art Community.

* Ruang Antropologis
Syahdan, sakato, dalam bahasa Minangkabau, berarti sekata, sepakat, atau se­mu­fakat dalam suatu perkara, laku, atau ikhtiar.

Dengan itu, berdasarkan hikmat-kebijaksanaan enam orang pen­dirinya, dan percikan per­me­nungan belasan ekspo­ne­nnya dalam perbincangan sepeminuman kopi dan se­pinggan gorengan di Sakato Art Space pada 20 November malam, sepulang dari OHD Museum, mereka bersepakat menjadikan Sakato Art Com­mu­nity sebagai, pinjam istilah antropolog Prancis Marc Auge dalam Non-Places: Intro­duc­tion to an Anthropology of Supermodernity (2000), ”ruang antropologis” bagi mahasiswa dan perupa Sumatera Barat yang belajar, tinggal, dan berkarya di Jogjakarta.

Dengan begitu, mengambil-ubah perkataan filsuf Prancis Maurice Blanchot dalam The Writing of the Disaster (1995), keterpautan etnologis tampak menjanjikan pada anggota dan eksponen Sa­kato Art Com­munity rasa aman atas habitat asli dan menjadi pe­lindung dari ke­tunawismaan eksistensial di tanah rantau.

Dengan kata lain, mengikuti pemikiran Alan Bownesss dalam The Conditions of Suc­cess: How The Modern Artist Rises to Fame (1990) ih­wal ”lingkaran pengakuan” (circle of recognition) perupa, Sakato Art Community me­ru­pakan lembaga patronasi dan rekognisi awal maha­sis­wa dan perupa Sumatera Barat di Jogjakarta sebelum, atau untuk, mendapatkan pengakuan dari sejawat (peer recognition) perupa se­za­man, pengakuan kritis (cri­tical recognition) dari kritikus atau kurator, pa­tro­nasi dari diler dan kolektor (patronage by dealers and collectors), dan pengakuan publik (public acclaim) di dunia seni rupa.

* Pengakuan Sejawat
Pameran Guru Terkembang Jadi Bentuk menghablurkan dengan baik pemikiran Alan Bowness tersebut. Selain mengungkapkan patronasi kuat dari kolektor ternama, dus menjadikan Sakato Art Community sebagai ko­mu­nitas seni rupawan Indonesia pertama yang berpameran di OHD Museum, pameran itu memampukan sejumlah perupa muda, anggota Sa­kato Art Community, meraih pengakuan dari sejawat pe­ru­pa bereputasi tinggi dalam pameran besar yang diampu oleh kurator waskita lagi wi­caksana di sebuah museum swasta-pribadi penting.

Sementara itu, sekalipun tidak menampilkan semua karya anggota Sakato Art Community, seluruhnya ber­­jumlah 120 orang, pa­meran Guru Terkembang Jadi Bentuk memperlihatkan pusparagam karya seni rupa (lukisan, pa­tung, objek, foto, video) de­ngan pelbagai pilar artistik (ben­tuk, teknik, ide) yang te­rikat pada satu filosofi, filosofi utama manusia Minangkabau, yaitu ”alam ter­kembang jadi guru”. Itulah makna ”sekata tak serupa” yang tersurat se­bagai judul tulisan ini.

Arkian, dengan filosofi itu, mereka berhikmat tentang ”guru” sebagai segala ke­mung­­kinan inspirasi yang da­pat dianggit ke dalam ”ben­tuk” seni rupa apa pun (rea­listis, abstrak, ekspresionistis, surealistis, dsb).

Yang menarik, ternyata da­lam pameran Guru Terkem­bang Jadi Bentuk, ada satu-dua anggota Sakato Art Community yang berasal dari Sumatera Utara dan Su­matera Selatan.
Itu artinya, be­tapa pun primordialnya Sakato Art Com­munity de­ngan filosofi dan tradisi Minangkabau, ia tak menutup diri dari keterlibatan orang lain dengan tradisi, filosofi, dan kepercayaan yang berbeda.

Itulah yang meyakinkan saya sonder menyimpulkan bahwa lebih dari sekadar komunitas perupa primordial di tanah rantau, Sakato Art Com­munity merupakan se­buah ”ruang antropologis” yang toleran dengan visi kreatif yang terbuka untuk merawat filosofi dan tradisi sendiri yang baik dan menerima filosofi dan tradisi dari mana pun yang lebih baik. (***)

Karya : jp group
Editor : Alfian Lumban Gaol