Jumat, 13 Februari 2026

Silakan berlangganan untuk bisa membaca keseluruhan berita di Harian Batam Pos.

Baca Juga

Lelang Karya untuk Korban Bencana Sumatra

BATAM KOTA (BP)— Seniman Batam, Andi Gunawan, kembali memperkuat jejaknya di dunia seni rupa dengan menggelar pameran tunggal keenam bertajuk “Mulai dari Akhir” di Hotel Grand Mercure Batamkota, Sabtu (6/12). Pemeran tersebut hingga sampai 31 Desember 2025

Selain memamerkan puluhan karya, Andi juga melelang satu lukisan khusus untuk didonasikan kepada para korban bencana di Aceh dan Sumatra Barat.
Tema “Mulai dari Akhir” dipilih bukan tanpa alasan. Andi mengungkapkan bahwa pameran yang berlangsung di penghujung tahun membawa refleksi personal mengenai perjalanan hidup dan proses berkaryanya.

“Pameran ini digelar di akhir tahun. Saya juga punya obsesi untuk menggelar 100 pameran tunggal, dan ini baru yang keenam. Artinya, meski sudah berjalan, saya merasa masih memulai. Saya harus terus belajar, bereksperimen, dan mengem­bang­kan karya hingga pameran ke-100,” ujar Andi.

Andi menjelaskan bahwa setiap karyanya lahir dari pengalaman pribadi, pergulatan hidup, hingga kegagalannya dalam mengejar mimpi.
“Dinamika kehidupan, jatuh bangun bisnis, berharap tapi belum tercapai—semua itu menjadi inspirasi yang saya tuangkan ke media seni. Saya ingin masyarakat pecinta seni juga bisa mendapatkan inspirasi dari karya-karya saya,” katanya.

Salah satu karya yang dilelang mengangkat tema hutan Sumatra. Andi menuturkan bah­wa karya tersebut awalnya terinspirasi oleh kondisi lingkungan Batam yang telah bertransformasi dari hutan menjadi kota metropolitan.

“Batam dulu hutan, kini penuh gedung. Tapi pembangunan kurang memerhatikan lingkungan—hujan sebentar saja sudah banjir. Melalui karya ini saya mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan akan kembali ke kita,” ujarnya. Momen­tum bencana di Sumatra memperkuat tekadnya untuk mendonasikan hasil lelang demi membantu para korban.

Walau aktif berpameran tunggal, Andi tetap terbuka berkolaborasi dengan sesama perupa. Ia juga menyoroti rendahnya apresiasi seni di Tanah Air dibandingkan luar negeri. “Saya harus berangkat dari lokal. Batam harus mengenal saya dulu sebelum saya bisa go nasional atau internasional,” jelasnya.

Andi turut mengimbau pemerintah agar memberi ruang yang lebih besar bagi pelaku seni.
“Pariwisata itu ruhnya seni. Wisatawan datang ingin melihat budaya, aktivitas seni. Pemerintah harus men-support melalui galeri, museum, atau gedung seni. Saat ini kami mencari celah sendiri—saya melihat lobi hotel sebagai panggung berkarya,” tuturnya.
Kurator dari Institut Kesenian Jakarta, Anindyo Widito, menilai pameran kali ini menjadi titik penting dalam pematangan artistik Andi.

“Mulai dari Akhir menandai kedewasaan ekspresi visual dan spiritualnya. Simbolisme naratif dan spiritualitas abstrak berpadu harmonis, mengajak penonton masuk ke ruang refleksi tentang hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan misteri kehidupan,” kata Anindyo.

Ia menilai intensitas simbolik karya Andi dekat dengan tradisi Lucia Hartini dan atmosfer spiritual Ahmad Sadali. “Warna, cahaya, dan ruang bukan sekadar estetika, tetapi bahasa batin yang memanggil pada pengalaman transendental. Andi menempatkan seni sebagai proses moral dan spiritual, bukan sekadar eksperimen visual,” tambahnya.

Pameran “Mulai dari Akhir” menjadi bukan hanya ruang apresiasi seni, tetapi juga aksi sosial melalui donasi untuk korban bencana.
Dengan perjalanan menuju 100 pameran tunggal, Andi Gunawan menegaskan komitmennya untuk menjadikan Batam hulu lahirnya karya sebelum menatap panggung nasional dan internasional. (*)

Reporter : AZIS MAULANA / Editor : Jamil Qasim