Sabtu, 14 Februari 2026

Silakan berlangganan untuk bisa membaca keseluruhan berita di Harian Batam Pos.

Baca Juga

Leher Terjepit dan Terbawa Arus Ratusan Meter

Cerita Fernandi yang Selamat dari Terjangan Banjir di Padang

Sebuah balok kayu sempat menekan bagian depan leher Fernandi dan arus deras mendorong tubuhnya kuat-kuat ke dinding. Dia menyaksikan banyak orang hanyut dan menjerit minta tolong. ”Seperti sudah kiamat rasanya,” kenangnya.

TAK ada kokok ayam pa‌gi itu. Yang membangunkan Fernandi dalam kepanikan adalah suara hempasan kayu yang menghantam rumahnya.
Belum sempat berdiri, air pekat bercampur lumpur dan gelondongan kayu meluncur pula ke tempat tinggalnya yang berada di Kampung Apar, Kota Padang, Sumatera Barat, itu.

Ketika air sudah sepaha pria pada Kamis (27/11) pagi pekan lalu itu, Fernandi hanya sempat meraih ponsel. Arus datang terlalu cepat sehingga pria 47 tahun yang masih melajang itu tak lagi bisa menyelamatkan ijazah dan barang berharga lain.
”Dalam hitungan menit, air sudah naik hingga sedada,” kenang Fernandi kepada Padang Ekspres yang menemuinya Selasa (2/12) lalu.

Fernandi berusaha me‌nyelamatkan diri, tapi lagi-lagi terdengar suara hantaman keras dari luar. Kayu-kayu besar datang menghancurkan sisi rumah yang dia tinggali sendiri itu satu per satu dalam waktu singkat.

Ketika dinding depan rumahnya mulai ambruk, Fernandi terbawa arus ke arah dinding yang tersisa sehingga menghalangi jalan keluarnya.
Di situlah ia mengalami detik-detik paling menegangkan dalam hidupnya.
Sebuah balok kayu menekan bagian depan lehernya. Arus deras turut mendorong balok kayu tersebut dan tubuhnya kuat-kuat ke dinding. Ia tidak bisa bergerak bebas dan kesulitan bernapas.

”Leher saya juga kejepit, arus menahan badan saya dari depan. Dalam pikiran saya, kalau ini ajal saya, saya ikhlas,” katanya.

Melepaskan Ponsel
Di tengah situasi yang genting, Fernandi mengambil keputusan yang berat. Ponsel yang sejak awal ia genggam erat, satu-satunya barang yang berhasil diselamatkan, harus ia lepaskan. Itu agar kedua tangannya bisa melepaskan jepitan balok di leher dan mendorong tubuhnya keluar dari jepitan tersebut.

Tapi, begitu terlepas dari jepitan balok, tubuh Fernandi langsung terbawa arus deras. Ia kehilangan kendali. Yang bisa ia lakukan hanya bertahan dari gelondongan kayu dan puing-puing rumah yang terbawa arus. Dia juga berusaha menggapai ranting-ranting pohon agar tidak terbawa arus terlalu jauh. ”Saya terbawa arus sekitar 150 meter dari rumah,” ucapnya.

Ketika arus membawanya mendekat pohon alpukat, dia segera menggapainya. ”Saat itulah saya menyaksikan rumah saya sudah rata diterjang galodo (banjir bandang disertai tanah longsor, red),” katanya.

Pemandangan Mengenaskan
Rumahnya yang rata dengan tanah bukan satu-satunya pemandangan me‌ngenaskan yang dia saksikan. ”Saya lihat orang-orang juga hanyut. Ada yang memegang batang pohon-pohon, ada yang sudah naik di atas rumahnya, ada yang terbawa kayu-kayu itu. Sua‌sananya sangat kacau seperti sudah mau kiamat rasanya,” ungkapnya.

Begitu air mulai surut, Fernandi mencoba melihat kondisi rumahnya. Dia berpindah dari satu pohon ke pohon lain untuk mendekat. Dan, dengan segera dia tercenung. Rumah, barang-barang, dan seluruh kenangan yang ia simpan selama ini ikut hanyut dalam hitungan menit.Namun, ia tetap bersyukur. ”Alhamdulillah saya masih hidup,” katanya. (***)

Reporter : jp group
Editor : Alfian Lumban Gaol