Buka konten ini
Di balik laut jernih yang kerap menjadi wajah Kepulauan Anambas, tersembunyi sebuah keajaiban botani di jantung hutannya: Rafflesia Hasseltii. Bunga raksasa yang tak berdaun dan tak berbatang ini hidup diam-diam, menunggu momen tertentu untuk mekar dan menunjukkan dirinya pada dunia.

KABUPATEN Kepulauan Anambas selama ini dikenal lewat pesona baharinya. Pulau-pulau berbatu granit, pasir putih, hingga laut biru toska sering menjadi alasan wisatawan datang. Namun, Anambas rupanya menyimpan rahasia lain: rumah bagi salah satu bunga paling langka di dunia, Rafflesia Hasseltii.
Bunga raksasa parasit tanpa akar sejati ini menjadikan Anambas sebagai salah satu titik penting konservasi flora langka Indonesia. Dan untuk melihatnya langsung, Batam Pos harus menyusuri Bukit Tabir, sebuah kawasan hutan di Pulau Siantan yang menjadi habitat alami rafflesia.
Jumat (5/12) pagi, dua pendamping yakni Yugha dari Anambas Foundation dan Frengky Tanjung, warga lokal yang paham seluk-beluk hutan, mengawali perjalanan dari kaki bukit. Dari awal, keduanya sudah memperingatkan: “Jalurnya lumayan menguras tenaga.”
Benar saja. Perjalanan sekitar 45 menit itu tak hanya menanjak, tetapi juga sempit dan licin. Akar-akar pohon melintang seperti jemari raksasa, menuntut kehati-hatian di setiap langkah. Semak belukar yang sesekali menutup jalur memaksa tim membuka jalan dengan tangan.
Sesekali, suara sungai dari sisi bawah bukit terdengar bening, menenangkan, seperti memberi suntikan tenaga baru. Udara lembap khas hutan tropis menempel di kulit, dan aroma tanah basah bercampur dengan dedaunan luruh, menciptakan harmoni yang sulit ditemukan di tempat lain.
Tiba di lokasi pertama, harapan kami membuncah agar segera dapat melihat sesuatu yang megah berwarna merah jingga, sebuah bunga rafflesia yang sedang mekar penuh. Namun, hutan punya rencana berbeda.
Yang terlihat hanyalah tonjolan bulat kecokelatan pada pangkal akar: kuncup, bakal bunga yang masih tersembunyi.
“Biasanya musim hujan begini mulai ada yang mekar. Tapi melihat ini, kemungkinan akhir Januari,” kata Yugha sambil mengamati kuncup, atau oleh warga sekitar disebut knop yang masih tertutup rapat.
Tim mengunjungi empat titik lain, namun semuanya memperlihatkan kondisi serupa: kuncup belum membuka diri.
Rafflesia: Cantik, Rapuh, dan Tak Terduga
Menurut Yugha, kondisi itu wajar. Siklus hidup Rafflesia memang misterius, ia bisa mekar tiba-tiba, tetapi bisa juga membusuk sebelum sempat memperlihatkan kecantikannya.
“Bunga ini pertama kali ditemukan tahun 2023 oleh peneliti IPB (Institut Pertanian Bogor). Sejak itu, kami rutin memantau,” tutur Yugha.
Pemantauan dilakukan hampir setiap minggu sepanjang 2025. Mulai dari suhu, kelembapan, hingga kondisi biologis pohon inang dicatat. Pohon di sekitar habitat didominasi karet dan jengkol, dua jenis tanaman yang memengaruhi kelembapan tanah—unsur penting bagi kehidupan rafflesia.
Di sekitar jalur, beberapa satwa seperti burung srigunting, monyet ekor panjang, hingga baning cokel terlihat sesekali melintas. Ekosistem di Bukit Tabir masih menunjukkan tanda-tanda kesehatan yang baik.
“Meski cantik, bunga ini sebenarnya parasit. Dia mengambil nutrisi dari Tetrastigma, tumbuhan inang yang jadi satu-satunya tempat ia bisa hidup,” jelas Yugha.
Sepanjang tahun ini, Rafflesia Hasseltii hanya tercatat mekar antara Juni hingga Agustus. Bahkan, di puncak musim, tak lebih dari tiga bunga mekar sekaligus.
“Yang tiga itu saja sudah sangat banyak untuk bunga selangka ini,” kata Yugha.
Beberapa bulan lalu, bersama staf Anambas Foundation bernama Nadia, mereka menemukan Rafflesia Hasseltii di kawasan tersebut.
”Saat itu bulan Agustus dan kami sempat mendokumentasikan bunga yang mekar,” tuturnya.
Baginya, menyaksikan rafflesia mekar adalah pengalaman emosional.
“Ini pengalaman yang sangat mengharukan. apalagi di tengah dunia yang makin rusak,” ucapnya lirih.
Konservasi yang Berjalan Pelan namun Pasti
Keberadaan rafflesia di Anambas bukan hanya kebanggaan lokal; ia juga tanggung jawab besar. Jalur masuk harus dijaga agar tidak merusak habitat. Pepohonan tidak boleh ditebang sembarangan. Knop atau kuncup yang rapuh tak boleh disentuh atau terganggu.
Kini, Bukit Tabir mulai dikenal sebagai titik konservasi rafflesia. Jika dikelola dengan bijak, tempat ini bisa menjadi pusat edukasi flora langka yang memberi nilai tambah bagi masyarakat Anambas.
Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Meski napas masih berat dan kaki pegal, hutan seperti memberi pelajaran: keindahan kadang butuh usaha keras untuk ditemukan. Sama seperti Rafflesia yang hanya mekar di waktu yang ia pilih sendiri—singkat, langka, tetapi membuat siapa pun yang melihatnya merasa beruntung.
Dan bagi Anambas, bunga itu adalah anugerah yang harus dijaga bersama. (***)
Reporter : IHSAN IMADUDDIN
Editor : RATNA IRTATIK