Buka konten ini

TOKYO (BP) – Pengeluaran rumah tangga di Jepang kembali melemah cukup tajam pada Oktober. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam dalam hampir dua tahun, sehingga memunculkan kekhawatiran baru mengenai laju pemulihan ekonomi negara itu.
Laporan Kementerian Dalam Negeri Jepang yang dirilis kemarin (5/12) menunjukkan konsumsi rumah tangga turun 3 persen secara tahunan. Selain menjadi kontraksi pertama dalam setengah tahun terakhir, angka tersebut jauh dari ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan 1 persen.
Secara bulanan, penurunan mencapai 3,5 persen, berbanding terbalik dengan proyeksi pasar yang mengharapkan kenaikan 0,7 persen.
“Pelemahan terutama tampak pada pengeluaran untuk makanan, rekreasi, dan kebutuhan otomotif,” tulis pernyataan Kementerian Dalam Negeri Jepang yang dikutip Reuters.
Meski demikian, pemerintah menilai data tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa konsumsi sedang memasuki fase pelemahan berkepanjangan. “Secara umum, konsumsi masih berada dalam tahap pemulihan,” kata seorang pejabat kementerian.
Data ini menjadi sorotan bagi Bank of Japan (BoJ). Bank sentral tengah mempertimbangkan waktu terbaik untuk kembali menaikkan suku bunga setelah terakhir menaikkannya pada Januari.
Tekanan inflasi yang bertahan tinggi dan nilai tukar yen yang terus melemah mendorong sebagian anggota dewan BoJ untuk memperketat kebijakan. Namun, konsumsi yang loyo dapat membuat bank sentral lebih berhati-hati.
“Peluang kenaikan suku bunga pada Desember hampir pasti, tetapi melemahnya belanja rumah tangga bisa membatasi kenaikan di periode berikutnya,” ujar Masato Koike, ekonom senior Sompo Institute Plus. Jika pasar menilai ruang kenaikan lanjutan kian sempit, lanjutnya, yen bisa kembali tertekan meskipun suku bunga naik. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO