Buka konten ini

TIM gabungan yang terdiri atas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pemkab Aceh Timur, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Timur, TNI, Polri, serta tenaga kesehatan, terus berupaya menembus jalur darat menuju sejumlah wilayah terdampak bencana di Aceh Timur. Meski akses masih sulit dilalui, distribusi bantuan tetap dilakukan agar warga yang terisolasi mendapatkan pasokan kebutuhan dasar.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyebut dua lokasi yang masih sulit diakses adalah Gampong Arul Pinang di Kecamatan Peunaron dan Dusun Karang Kuda di Gampong Bunin, Kecamatan Serbajadi.
Dalam perjalanan menuju Arul Pinang, rombongan menghadapi hambatan berat. Saat tiba di Jalan Pereulak, Gampong Peunaron Lama, terdapat tiga titik longsor tebing yang berdekatan. Material longsor menutup seluruh badan jalan dan merusak konstruksi jalan.
“Ada dua titik yang masih dapat dibersihkan dengan alat berat, tetapi satu titik longsor berukuran besar menyebabkan kerusakan parah sehingga tidak bisa dilalui kendaraan. Rombongan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki,” ujar Abdul Muhari.
Rute menuju Arul Pinang dipenuhi jalan bergelombang, amblas, dan sisa lumpur tebal. Kondisi tersebut menunjukkan tingginya genangan saat banjir menerjang. Beberapa rumah warga juga tampak terpapar lumpur hingga setinggi atap, diperkirakan lebih dari tiga meter.
“Hingga kini desa masih belum dialiri listrik maupun jaringan internet. Ketersediaan air bersih dan bahan makanan menipis, sementara kebutuhan obat-obatan, perlengkapan bayi, dan kebutuhan perempuan sangat mendesak,” imbuhnya.
Situasi serupa terjadi di Dusun Karang Kuda, Serbajadi. Akses menuju lokasi itu sudah satu minggu terputus total. Sekitar 75 rumah warga rusak berat akibat banjir bandang. Meski tidak ada korban jiwa, warga dilaporkan mengalami trauma setiap kali hujan turun.
“Selama menunggu bantuan, warga membangun tempat pengungsian mandiri menggunakan terpal. Kebutuhan mendesak mencakup air bersih, pakaian, selimut, makanan siap saji, hygiene kit, susu bayi, dan obat-obatan,” tuturnya.
Tim gabungan membawa bantuan awal berupa masing-masing 1,5 ton beras serta obat-obatan untuk korban di Kecamatan Peunaron dan Serbajadi. BNPB mendorong percepatan pemulihan akses agar distribusi logistik, listrik, dan komunikasi segera pulih serta posko darurat dapat beroperasi optimal.
Sementara itu, influencer Ferry Irwandi melaporkan kondisi Aceh Tamiang yang semakin mencekam sejak banjir bandang dan longsor menerjang wilayah tersebut pada akhir November. Ia menyebut warga mengalami kelaparan, kehausan, dan kekurangan air bersih akibat terputusnya pasokan listrik serta sumber air. Ia mengatakan situasi di lapangan tidak menunjukkan perbaikan.
“Orang-orang kelaparan, kehausan, tidak ada air dan listrik. Tolong siapa pun bantu Aceh, bantu Tamiang, bantu Takengon, Gayo, Bener Meriah,” ujarnya dalam unggahan yang dikutip Jumat (5/12).
Ferry menyampaikan, timnya telah masuk lebih jauh ke wilayah Tamiang dan menemukan kerusakan infrastruktur parah. Banyak tiang listrik roboh, jalan dan jembatan runtuh, membuat akses semakin sulit. Kondisi gelap tanpa penerangan menambah kekhawatiran warga.
Tampak pula kendaraan saling bertumpuk, termasuk truk yang menimpa mobil. Tenda-tenda kecil berdiri tanpa penerangan.
Ferry menyebut timnya telah mulai menyalurkan air bersih dan bantuan dasar, dan akan melanjutkan ke wilayah-wilayah yang belum terjangkau. “Besok (hari ini) kami coba terus masuk ke daerah-daerah yang belum terjangkau,” katanya.
867 Korban Meninggal, 521 Belum Ditemukan
BNPB memperbarui data korban meninggal dunia dan hilang akibat bencana di Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar). Per Jumat (5/12), tercatat 867 korban meninggal dunia dan 521 orang masih hilang.
Hal itu disampaikan Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam konferensi pers daring. Ia menyebut ratusan korban tersebut berasal dari tiga provinsi yang terdampak banjir bandang, longsor, dan cuaca ekstrem.
“Total di tiga provinsi, 867 korban meninggal dunia dan 521 lainnya masih hilang,” kata Abdul Muhari.
Data BNPB menunjukkan jumlah korban terbanyak berasal dari Aceh dengan 345 korban meninggal, disusul Sumut dengan 312 korban, dan Sumbar dengan 200 korban. Jika dilihat per daerah, korban meninggal terbanyak tercatat di Kabupaten Agam dan Tapanuli Tengah.
“Di Agam terdampak sangat signifikan akibat banjir bandang,” ujarnya.
Di Agam tercatat 156 korban meninggal dunia, sementara di Tapanuli Tengah 124 korban. Abdul Muhari menegaskan upaya pencarian ratusan korban hilang terus dilakukan.
Selain korban jiwa, bencana di tiga provinsi itu menyebabkan 4,2 ribu orang luka-luka. Sebanyak 849.123 warga terdampak kini mengungsi, masing-masing dari Aceh 775.346 orang, Sumut 51.433 orang, dan Sumbar 22.354 orang.
Jumlah pengungsi terbanyak berada di Aceh Tamiang (281,3 ribu), Aceh Timur (163,4 ribu), dan Aceh Utara (115 ribu).
“Untuk pengiriman logistik, kami menggunakan tiga moda: laut, darat, dan udara,” jelasnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : RATNA IRTATIK