Buka konten ini

BATUAJI (BP) – Kelangkaan barang seken di Batam makin terasa dan memaksa banyak pedagang menutup usahanya. Kawasan Aviari, yang dulu ramai dengan deretan gerai berisi barang bermerek, kini tampak lengang dan minim pengunjung.
Pendi, salah satu pedagang di Aviari Seken, menyebut kondisi itu dipicu sulitnya mendapatkan pasokan barang. Menurut dia, mayoritas pedagang hanya bertahan untuk menghabiskan stok lama.
“Hampir 80 persen pedagang sudah tutup. Yang masih buka pun hanya menjual sisa-sisa barang lama,” ujarnya, Kamis (4/12).
Ia menjelaskan, barang bekas seperti sepatu dan pakaian kini hampir tidak mungkin didatangkan lagi. Pasalnya, pasokan dari Singapura dan Malaysia tidak bisa masuk karena langsung ditindak Bea Cukai.
“Barang sama sekali tidak masuk. Pasti ditangkap Bea Cukai,” katanya.
Sebagian pedagang, lanjut Pendi, mencoba membeli barang langsung ke Singapura.
Namun, cara itu tidak efektif karena harga barang menjadi jauh lebih mahal. “Kalau belanja langsung, barangnya pilihan. Harganya lebih tinggi dan peminatnya hanya kalangan tertentu,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi Bea Cukai Batam, Evi Octavia menegaskan komitmen pihaknya menghentikan masuknya barang seken ilegal ke Batam.
“Penindakan ini merupakan bukti keseriusan Bea Cukai Batam dalam menstop peredaran barang ilegal,” ujarnya.
Evi menambahkan, peredaran barang bekas impor dapat mengganggu industri dalam negeri. Karena itu, setiap upaya pemasukan barang seken wajib ditindak.
“Kegiatan ini juga untuk memberikan efek jera dan menekan terjadinya pelanggaran serupa,” tutupnya. (*)
Reporter : Yofi Yuhendri
Editor : GALIH ADI SAPUTRO