Buka konten ini
LONJAKAN tumpukan sampah di ratusan titik di Batam dalam beberapa bulan terakhir mendorong Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Li Claudia Chandra mempercepat langkah penanganan. Melalui pembentukan Tim Task Force Percepatan Penanganan Sampah, pemerintah kota berupaya mengatasi kekurangan armada angkut sekaligus menertibkan alur pembuangan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Ketua Tim Task Force, Yusfa Hendri, menjelaskan bahwa persoalan bermula dari terbatasnya peralatan operasional Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Dari total 151 unit armada, sebanyak 27 dump truck dan 20 arm roll dalam kondisi rusak. Kerusakan arm roll menjadi hambatan terbesar karena berperan krusial dalam memindahkan kontainer sampah dari TPS menuju TPA.
“Kondisi ini menyebabkan keterlambatan di 397 titik.
Penanganan di TPA juga terpengaruh, terutama di area pembuangan yang sempat terganggu,” ujar Yusfa, Kamis (4/12).
Untuk menutup kekurangan armada, Pemko Batam memanfaatkan anggaran Belanja Tak Terduga (BTT). Dana tersebut digunakan untuk menyewa kendaraan dan alat berat tambahan yang langsung diterjunkan ke lapangan.
Data Tim Task Force mencatat, penyewaan melalui BTT mencakup 26 dump truck untuk mendukung DLH, 50 dump truck untuk jalur TPS–TPA, 26 dump truck untuk patroli dan penanganan TPS liar, serta 11 unit alat berat termasuk ekskavator.
Tambahan armada ini membuat pengangkutan sampah yang sebelumnya tertunda dapat dipacu.
“Sejak penyewaan dimulai 24 November, hampir semua TPS liar dan TPS sementara sudah tertangani. Titik-titik yang sebelumnya menumpuk kini sudah bersih,” kata Yusfa.
Kapasitas angkut ke TPA pun melonjak. Jika sebelumnya volume sampah harian berkisar 900 ton, selama masa Task Force jumlah itu meningkat menjadi 1.100–1.200 ton per hari.
“Penambahan sekitar 300 ton per hari menunjukkan bahwa sampah yang sebelumnya tertahan kini mulai terangkut,” ujarnya.
Namun, TPA kembali mengalami kendala operasional. Zona A—yang sempat dibuka kembali untuk menambah kapasitas pembuangan—ditutup sementara sejak 3 Desember akibat hujan yang menghambat aktivitas alat berat. Penutupan ini memicu antrean truk sampah di pintu masuk TPA.
“Kami berharap perbaikan selesai akhir pekan ini atau paling lambat awal pekan depan, sehingga alur pembuangan kembali normal,” kata Yusfa.
Task Force melibatkan seluruh OPD, yang dibagi ke dalam sembilan kecamatan di pulau utama Batam. Mereka bertugas mempercepat pengangkutan sampah, membersihkan TPS liar, memobilisasi alat berat, serta meningkatkan respons cepat di titik rawan penumpukan.
Di lapangan, dump truck roda 10 dikerahkan untuk patroli sampah liar, sementara ekskavator diperbantukan di TPA untuk mempercepat penataan sampah agar tidak bergantung pada pekerjaan manual.
Yusfa menambahkan, operasi Task Force bersifat sementara dan diperkirakan berlangsung hingga akhir Desember. Mulai Januari, pengelolaan sampah akan kembali dilaksanakan oleh DLH dengan dukungan armada dan anggaran baru.
“Tahun ini ada tambahan kontainer dan arm roll. Bin container bertambah sekitar 90 unit, sedangkan arm roll sekitar 20 unit. Ini akan memperkuat pengelolaan sampah tahun depan,” ujarnya.
TPS Marina City Meluber, Warga dan Pelajar Tersiksa Bau Busuk
Di sisi lain, kondisi Tempat Pembuangan Sementara (TPS) di Jalan Marina City, tepatnya sekitar simpang Jupiter, semakin memprihatinkan.
Tumpukan sampah menggunung dan meluber ke badan jalan. Aroma busuk tercium hingga permukiman warga dan sekolah di sekitarnya.
Jeri, warga Perumahan Jupiter, mengaku bau tak sedap dari TPS tersebut sudah sangat mengganggu kenyamanan dan kesehatan warga.
“TPS ini sebaiknya dipindahkan ke lokasi yang jauh dari jalan utama. Kami setiap hari mencium bau sampah,” ujarnya.
Ia menyebutkan, aroma busuk membuat kawasan itu dipenuhi lalat yang berpotensi memicu penyakit. “Harapan kami, kalau pun TPS tidak bisa dipindah, setidaknya jangan sampai sampah menumpuk terus,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Edi, pelajar MTS Nur Fikri. Sekolahnya berada tepat di belakang TPS sehingga bau busuk masuk hingga ke ruang kelas. “Setiap hari kami belajar sambil mencium bau sampah. Lalatnya masuk kelas. Teman-teman ada yang mual dan pusing,” ungkapnya.
Menurut Edi, kondisi itu membuat proses belajar terganggu. “Istirahat pun tetap mencium bau busuk. Makan jadi tidak selera,” ujarnya.
Ia berharap Pemko Batam segera menuntaskan penumpukan sampah di TPS tersebut. “Beberapa teman sampai izin sekolah karena sakit,” katanya. (***)
Reporter : ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO