Buka konten ini

PEMERINTAH Kota (Pemko) Batam resmi menutup Kegiatan Pelatihan Berdasarkan Unit Kompetensi dan Pengukuran Produktivitas Tingkat Kota Batam Tahun Anggaran 2025, Rabu (3/12). Sebanyak 3.485 peserta, baik calon tenaga kerja maupun pekerja aktif, mengikuti program yang turut dihadiri Muspika, perwakilan perusahaan, HRD, hingga berbagai pemangku kepentingan dunia industri.
Penutupan dipimpin langsung Wali Kota Batam, Amsakar Achmad. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa peningkatan kompetensi merupakan kunci utama dalam menjawab persoalan ketenagakerjaan di Batam.
Amsakar menilai problem ketenagakerjaan saat ini bukan terletak pada kurangnya lowongan, melainkan ketidaksesuaian antara kebutuhan industri dan kemampuan tenaga kerja.
“Problem ketenagakerjaan di Batam adalah kompetensi. Usia produktif kita tinggi, tetapi rekrutmennya terbatas. Karena itu pelatihan dan sertifikasi menjadi penting agar tenaga kerja kita bisa diterima HRD perusahaan dan tidak menambah angka pengangguran,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Batam masih berada di angka 7,86 persen dan memberi kontribusi signifikan terhadap pengangguran di Provinsi Kepri.
“Ini bukan prestasi. Ini berita duka. Dan menjadi tanggung jawab kolektif kita semua,” ujarnya.
Amsakar juga memaparkan hasil dialognya dengan HRD dari 30 perusahaan. Ia meminta kebijakan afirmasi tenaga kerja lokal minimal 10–20 persen, terutama bagi peserta bersertifikat resmi.
“Saya harapkan HRD open dengan persoalan rekrutmen ini. Berikan prioritas kepada tenaga kerja lokal yang sudah bersertifikasi, baru setelah itu pekerja dari luar daerah,” tuturnya.
Ia menambahkan, pola rekrutmen melalui PPDN tidak lagi menjadi prioritas demi memperkuat serapan tenaga kerja lokal. “Prioritas kita adalah anak-anak Batam dulu. Setelah itu baru dari daerah lain seperti Sumbar, Sumut, Jabar, Jatim, dan sebagainya,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Amsakar kembali menekankan tiga prinsip pembangunan yang menjadi pijakan kerja Pemko Batam: mengadakan yang belum ada, meningkatkan yang sudah ada, dan memberdayakan masyarakat.
“Yang kita lakukan hari ini adalah memberdayakan. Jika tiga hal ini dijalankan secara konsisten, Insyaa Allah Batam akan menjadi negeri yang hebat. Batam harus seperti gula yang dikerumuni semut,” katanya penuh optimisme.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Batam, Yudi Suprapto, menjelaskan bahwa pelatihan dan Bimtek sertifikasi dilaksanakan hampir 11 bulan, dari Februari hingga Desember 2025, dengan proses pendaftaran seluruhnya secara online.
“Jumlah pelatihan bagi calon pekerja mencapai 83 program dengan 3.449 peserta. Sedangkan Bimtek sertifikasi bagi pekerja aktif terdiri dari 53 program dengan 1.396 peserta,” kata Yudi.
Program pelatihan melibatkan 26 lembaga pelatihan kerja (LPK) dari total 118 LPK berizin di Batam.
Pembelajaran dilakukan oleh instruktur LPK, sedangkan asesmen melalui lembaga sertifikasi profesi dengan sertifikat dari BNSP atau kementerian terkait. Bidang pelatihan meliputi sektor industri dan jasa, mulai migas, pengelasan, forklift dan alat berat, logistik, bahasa asing, pariwisata, UMKM, ekonomi kreatif, hingga bidang digital dan lainnya.
Yudi berharap sertifikasi kompetensi menjadi modal penting agar lulusan pelatihan mampu bersaing di dunia industri modern. “Pemerintah Kota Batam berharap putra-putri Batam dapat bersaing dan menduduki jabatan produktif pada lowongan yang tersedia,” ujarnya.
Kegiatan pelatihan kompetensi dan sertifikasi ini menjadi langkah konkret Pemko Batam dalam mencetak tenaga kerja profesional, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menekan angka pengangguran di pusat industri terbesar di Sumatera tersebut. Ke depan, Pemko Batam berkomitmen memperkuat kebijakan afirmatif ketenagakerjaan lokal dan memperluas sinergi antara LPK, pemerintah, dan dunia usaha. (***)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : GALIH ADI SAPUTRO