Buka konten ini

GATAL, bersin, sampai tidur yang tak nyenyak sering kali muncul tanpa sebab yang jelas. Padahal, biang keladinya bisa jadi ada tepat di bawah tubuh: sprei yang terlalu lama tak diganti. Serat kain yang kotor menjadi “rumah nyaman” bagi tungau, namun keberadaannya kerap tak disadari siapa pun yang tidur di atasnya.
Meski terdengar sepele, makhluk-makhluk mikroskopis ini bisa memengaruhi kesehatan kulit hingga kualitas tidur. Sprei yang jarang diganti membuat debu menumpuk dan tungau berkembang biak di sela-sela lipatan kasur.
Lalu, kapan waktu yang pas untuk mengganti sprei? Sprei diganti setiap dua minggu sekali. Namun, frekuensi itu bisa berubah mengikuti kebiasaan dan kondisi kamar masing-masing.
Di daerah tropis seperti Indonesia, keringat saat tidur membuat kasur, bantal, dan sprei mudah lembap. Kondisi inilah yang mempercepat pertumbuhan jamur. Belum lagi sel kulit mati yang rontok saat tidur—tak terlihat, tapi tetap menempel di permukaan kasur. Debu dari udara dan hembusan kipas juga gampang melekat pada serat kain.
Tambahan lain: bulu hewan peliharaan, kotoran yang terbawa dari lantai, hingga kebiasaan ngemil di atas kasur. Remahan makanan bisa menjadi “prasmanan” bagi tungau debu untuk berkembang biak.
Jika tinggal di lingkungan lembap, sering berkeringat saat tidur, atau punya hewan peliharaan, mengganti sprei seminggu sekali jadi langkah paling aman. Namun sprei yang baru dicuci pun belum sepenuhnya bebas tungau karena mikroorganisme juga bisa hidup di lapisan kasur.
Lantas bagaimana mengurangi risikonya? Salah satu opsi adalah memilih bahan bantal dan guling berbahan bambu. Material ini punya sifat antibakteri alami yang bisa menekan pertumbuhan tungau. Di Azko tersedia Sleeplite Bantal Body Pillow Bamboo yang terbuat dari bamboo fiber lembut, adem, dan mudah dirawat—cukup dicuci berkala lalu dijemur.
Sprei dari bahan serat bambu juga bisa jadi pilihan. Cotton Couture Sprei Bambu misalnya, memiliki anyaman rapat dan bahan antibakteri sehingga alergen dan tungau lebih sulit menembus serat kain.
Untuk perawatannya, sprei sebaiknya dicuci menggunakan air panas dengan suhu minimal 60 derajat celcius agar tungau mati. Hindari suhu terlalu tinggi agar serat kain tidak rusak. Pakai deterjen lembut tanpa pewangi berlebih supaya tidak memicu iritasi kulit.
Penjemuran juga penting. Sinar matahari membantu melemahkan tungau dan bakteri. Pastikan sprei dijemur terbuka, tidak bertumpuk, agar seluruh bagian mendapatkan paparan matahari yang merata.
Bagian kasur juga perlu dibersihkan minimal sebulan sekali menggunakan vakum, sebab debu dan tungau banyak bersembunyi di sela-selanya. Kamar pun harus dijaga tetap kering dan berventilasi baik.
Pada akhirnya, tidur nyaman bukan soal barang mahal. Ia lahir dari kebiasaan kecil: mengganti sprei, menjaga kebersihan kamar, dan merawat kasur setiap hari. Dengan begitu, istirahat menjadi nyenyak, dan lebih sehat. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO