Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Kehadiran Danantara sebagai superholding investasi negara memunculkan harapan baru bagi penguatan ekonomi syariah dan reindustrialisasi nasional. Namun, para ekonom mengingatkan pentingnya mandat yang jelas dan tata kelola yang kuat agar Danantara benar-benar menjadi akselerator pembangunan, bukan sekadar entitas finansial besar tanpa arah produktif.
Kepala Center for Sharia Economic Development (CSED) Indef, Nur Hidayah, menyebut Danantara kini menjadi salah satu pemain investasi terbesar di kawasan. Meski begitu, proporsi instrumen syariah dalam portofolionya masih di bawah 5 persen. “Yang dibutuhkan bukan retorika syariah, melainkan alokasi dan eksekusi. Jika syariah menjadi pusat strategi Danantara, maka ia dapat menjadi motor kemakmuran umat,” katanya di Jakarta kemarin (1/12).
Menurut dia, Danantara berpotensi memperkuat permodalan industri halal, perbankan syariah, pembiayaan UMKM, serta sektor strategis seperti pangan dan energi hijau. Tantangan utamanya adalah governance yang transparan dan akuntabel.
Reindustrialisasi Nasional
Peneliti CSED Indef, Abdul Hakam Naj, menambahkan bahwa Danantara harus diposisikan sebagai dirigen reindustrialisasi nasional. Ia mengingatkan kontribusi manufaktur terhadap PDB terus menyusut, dari lebih 30 persen di awal 2000-an menjadi sekitar 19 persen pada 2025. “Kita tidak bisa mengejar imbal hasil jangka pendek seperti masa lalu. Hilirisasi, riset, dan transisi energi hijau harus menjadi satu ekosistem dengan industri halal,” ujarnya.
Posisi RI di Ekosistem Global
Peluang ekonomi syariah dinilai sangat besar. Konsumsi produk halal global diperkirakan mencapai USD 1,4 triliun pada tahun ini. Indonesia menempati posisi ketiga ekosistem halal global versi SGIER 2024/25, dengan tiga sektor unggulan, yaitu modest fashion, farmasi–kosmetik, dan makanan halal.
Jadi Penghubung
Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH), Ahmad Haikal Hasan, menyebut sertifikasi halal menjadi instrumen penting untuk daya saing UMKM di pasar global. “Halal bukan hanya perlindungan konsumen, tapi juga proteksi industri nasional. Halal berarti sehat, bersih, dan berkualitas,” katanya.
“Dengan skala aset besar serta mandat yang tepat, Danantara dapat menjadi penghubung utama antara pembiayaan syariah, industrialisasi halal, dan transformasi energi,” imbuhnya. (***)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO