Buka konten ini

SEIBEDUK (BP) – BP Batam memperketat pengelolaan limbah domestik demi menjaga kualitas sumber air baku. Limbah rumah tangga yang masih mengalir langsung ke drainase dinilai menjadi ancaman terbesar bagi waduk-waduk di Batam.
Direktur BU SPAM BP Batam, Iyus Rusmana, menjelaskan limbah dapur seperti minyak dan sisa organik kerap dibuang melalui wastafel lalu masuk ke saluran pembuangan. Limbah itu kemudian mengalir ke sungai kecil hingga bermuara ke waduk.
“Ini menjadi pemicu utama pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali,” ujarnya, Selasa (25/11).
Menurut Iyus, eceng gondok tumbuh pesat karena mendapat nutrisi berlebih dari limbah domestik. Pertumbuhan yang menutupi permukaan waduk menghalangi cahaya matahari, memicu munculnya alga, serta menyebabkan pendangkalan dan penurunan kualitas air.
Untuk menekan pencemaran, BP Batam mengoperasikan dua Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), di Batam Center berkapasitas 33 liter per detik dan di Bengkong berkapasitas 231 liter per detik. Air hasil olahan dialirkan kembali ke waduk, sementara sisa padat diolah menjadi kompos.
Saat ini terdapat sekitar 340 ribu sambungan air minum di Batam. Dari jumlah itu, sekitar 300 ribu sambungan rumah tangga masih menggunakan septic tank, sedangkan baru 11 ribu rumah tersambung ke jaringan IPAL.
Sisanya akan ditangani melalui program Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (LLTT), sesuai ketentuan bahwa septic tank harus dikuras setiap tiga tahun. Program ini akan dijalankan bertahap hingga seluruh rumah memenuhi standar pengelolaan limbah domestik.
BP Batam memperkirakan kebutuhan sekitar 90 truk tinja untuk menjalankan jadwal pengurasan kota. Setiap truk mampu melakukan empat perjalanan per hari dengan kapasitas empat meter kubik per trip. Seluruh hasil sedotan akan diproses di fasilitas pengolahan Bengkong.
Pengelolaan terpusat ini memastikan limbah domestik tidak lagi mencemari lingkungan. Fasilitas di Bengkong memisahkan air, sedimen, dan sampah sebelum diolah menjadi air layak buang serta kompos organik skala besar.
Iyus juga mengimbau masyarakat tidak membuang minyak bekas, sisa makanan, maupun sampah ke wastafel atau toilet. Kebiasaan itu memperburuk kondisi saluran pembuangan dan meningkatkan risiko pencemaran.
Selain itu, ia meminta warga menghemat air bersih karena sekitar 80 persen air yang digunakan akan berubah menjadi air limbah.
Dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, ketersediaan air baku semakin terbatas sehingga kesadaran menghemat air perlu ditingkatkan di masyarakat, apalagi jika terjadi kemarau, air baku bisa menyusut drastis.
“Ini misi untuk menyelamatkan lingkungan dan memastikan keberlanjutan air baku bagi masyarakat,” tegasnya. (*)
Reporter : ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO