Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) tetap menjadi tumpuan utama kinerja manufaktur nasional sepanjang 2025. Konsistensi pertumbuhan sektor ini menjadi bekal penting menuju agenda transformasi industri pada 2026, yang menargetkan struktur ekonomi lebih kuat dan daya saing industri pengolahan meningkat. Meski demikian, ketergantungan pada bahan baku impor masih menjadi tantangan besar.
Direktur Jenderal IKFT Kementerian Perindustrian, Taufiek Bawazier, mengatakan optimisme pelaku industri mencerminkan kuatnya prospek kebijakan sektor manufaktur ke depan. “Pemerintah harus memastikan iklim industri tetap sehat supaya investasi, ekspor, dan produktivitas bisa terus tumbuh,” ujarnya, kemarin (30/11).
Tumbuh 5,92 Persen, Kontribusi 3,88 Persen ke PDB
Pada kuartal III 2025, industri pengolahan nonmigas mencatat pertumbuhan 5,58 persen (YoY), melewati laju ekonomi nasional sebesar 5,04 persen. IKFT bahkan tumbuh lebih tinggi, yakni 5,92 persen, dan menyumbang 3,88 persen terhadap PDB. Sepanjang Januari–Agustus 2025, nilai ekspor sektor ini mencapai USD 35,25 miliar, terutama dari produk kimia, pakaian jadi, serta komoditas kulit dan alas kaki.
“Namun impor bahan baku masih besar, yakni USD 32,31 miliar. Ini menjadi pekerjaan rumah untuk memperkuat struktur industri hulu,” tambahnya.
Investasi Tembus Rp142,15 Triliun
Kinerja IKFT juga ditopang oleh utilisasi kapasitas yang stabil di level 60 persen, sejalan dengan dorongan hilirisasi migas dan mineral. Arus investasi meningkat signifikan, dengan realisasi Januari–September 2025 mencapai Rp142,15 triliun—lebih tinggi dari Rp116,54 triliun pada periode sama tahun lalu.
Sektor ini turut menyerap sekitar 6,7 juta pekerja atau 4,6 persen dari total angkatan kerja.
Percepatan Industri 4.0
Sebagai salah satu pilar utama menuju target RPJPN 2025–2045, pemerintah menyiapkan sejumlah prioritas, mulai dari restrukturisasi mesin, hilirisasi berbasis migas dan mineral, pemulihan industri pupuk, peningkatan ekspor, optimalisasi TKDN, hingga percepatan transformasi digital (Industri 4.0).
“Kemandirian bahan baku dan adaptasi teknologi menjadi fondasi penguatan rantai pasok nasional,” tegas Taufiek.
Selain itu, berbagai risiko global—mulai fluktuasi energi, serbuan produk impor, hingga dinamika kebijakan perdagangan—menuntut strategi yang lebih fleksibel melalui inovasi, efisiensi, dan perluasan pasar ekspor. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO