Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan akan bergerak terbatas pada rentang 8.470–8.600 sepanjang pekan ini. Pelaku pasar cenderung menahan aksi karena menunggu rilis sejumlah indikator ekonomi di awal Desember, seperti PMI manufaktur, neraca perdagangan, inflasi, serta data cadangan devisa.
“Investor akan memantau data penting pekan ini, mulai PMI manufaktur, neraca dagang dan inflasi per (1/12), hingga cadangan devisa yang dirilis (5/12),” tulis Tim Analis Phintraco Sekuritas, kemarin (30/11).
Neraca perdagangan Oktober diprediksi tetap mencatat surplus sekitar USD 3,8 miliar, sedikit lebih kecil dibandingkan September yang mencapai USD 4,34 miliar. Inflasi November pun diperkirakan stabil di level 0,3 persen (MtM) dan 2,8 persen (YoY).
Dalam pandangan jangka menengah dan panjang, IHSG masih berada di tren penguatan.
Level resistance diproyeksikan di 8.600, pivot di 8.500, dan support di 8.470. Sejumlah saham seperti PWON, INKP, PGAS, NCKL, PSAB, dan ERAA disebut layak masuk radar.
Berbeda dengan pergerakan indeks yang cenderung datar, aktivitas perdagangan justru melonjak signifikan. Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat IHSG menguat 1,12 persen menuju 8.508,71 pada periode 24–28 November 2025.
“Kenaikan paling besar terlihat pada rata-rata nilai transaksi harian yang melompat 41,87 persen menjadi Rp30,31 triliun dari Rp21,37 triliun pada pekan sebelumnya,” ujar Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad.
Aksi Jual Asing Berlanjut
Volume transaksi harian meningkat 28,57 persen menjadi 50,50 miliar lembar. Frekuensi transaksi naik 12,38 persen menjadi 2,61 juta kali. Kapitalisasi pasar pun bertambah 1,53 persen menjadi Rp15.626 triliun.
Namun, investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp1,02 triliun dalam sepekan. Secara year-to-date, aksi jual bersih asing sudah mencapai Rp29,58 triliun.
Pasar Obligasi Semakin Ramai
Aktivitas di pasar obligasi juga bertambah. Pada Jumat (28/11), BEI mencatat dua emisi baru dari PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero), yakni Obligasi Berkelanjutan IV Tahap IV 2025 dan Sukuk Mudharabah Berkelanjutan III Tahap II 2025. Keduanya mengantongi peringkat idAAA dan idAAA(sy) dari PEFINDO.
“Sepanjang 2025, total obligasi dan sukuk yang tercatat mencapai 164 emisi dengan nilai Rp195,85 triliun. Secara kumulatif, jumlah emisi di BEI telah mencapai 652,” tambah Kautsar. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO