Buka konten ini

PADA sebuah malam Desember 1900, di kawasan Tanah Abang–Kebon Jahe, Batavia, puluhan warga pribumi berdiri mematung di depan sebuah layar putih. Di hadapan mereka, sosok-sosok asing—keluarga kerajaan Belanda—bergerak tanpa suara. Lampu redup. Mesin proyektor mendecit. Dan hadirin yang belum pernah melihat gambar bergerak sebelumnya, menahan napas seperti menyaksikan sebuah keajaiban.
Pertunjukan itu disebut gambar idoep, “gambar yang hidup”. Gambar hidup adalah terjemah letterlijk dari kata bioscoop. Sebuat kata Belanda, bio = hidup, scoop (dari schopos) = melihat / tontonan.
Dari sebuah ruangan kecil di pinggir kota kolonial, Indonesia mengenal sinema untuk pertama kalinya.
Dari Tenda Keliling ke Gedung Bioscoop
Awal abad ke-20. Film datang bukan melalui gedung mewah, melainkan tenda perjalanan: bangunan kayu, tirai kanvas, atau panggung sementara di alun-alun. Para pelancong Eropa membawa gulungan film dari negeri jauh. Mereka memungut bayaran recehan, menyalakan lampu proyektor, lalu memperlihatkan dunia yang jarang dibayangkan oleh penduduk Hindia.
Lama-kelamaan, bisnis tontonan ini berubah. Para pengusaha Eropa dan Tionghoa melihat peluang. Batavia dan Bandung menjadi kota pertama yang memiliki bangunan khusus: bioscoop. Kata itu kemudian diserap menjadi “bioskop”—ruang gelap yang kelak menjadi bagian dari kehidupan sosial kota.
Jaringan bioskop awal tumbuh cepat, menandai perubahan: film bukan lagi tontonan keliling, tapi institusi urban.
Ketika Layar Lokal Mencoba Bicara
Hingga awal 1920-an, layar-layar bioskop di Hindia Belanda dikuasai oleh film-film impor dari Eropa dan Amerika. Namun pada 1926, sebuah eksperimen muncul dari Bandung: Loetoeng Kasaroeng. Dibuat oleh sineas Eropa, tapi ceritanya diambil dari legenda Sunda.
Film itu bukan karya besar dalam standar teknis. Tapi ia penting: untuk pertama kalinya, masyarakat kolonial melihat kisah Nusantara di layar lebar. Dari situlah cikal bakal identitas sinema Indonesia muncul.
Tahun-tahun berikutnya, semakin banyak film bertema lokal diproduksi. Perusahaan-perusahaan film milik pengusaha Tionghoa menjadi motor utama. Mereka mengorbitkan aktor-aktor pribumi dan membawa suara Nusantara ke layar—secara harfiah—ketika teknologi film bersuara mulai masuk.
Ketatnya Kontrol Layar
Popularitas bioskop membuat pemerintah kolonial gelisah. Pada 1916, mereka memberlakukan regulasi ketat—mulai dari izin usaha sampai pembentukan lembaga sensor. Film yang dianggap mengganggu ketertiban atau menyinggung politik kolonial dibatasi.
Sistem sensor itu, dalam berbagai bentuk, bertahan hingga era Jepang dan tahun-tahun awal kemerdekaan. Sinema menjadi ruang publik yang diawasi: hiburan yang harus “aman” bagi kekuasaan.
Layar Kemerdekaan dan Identitas Baru
Setelah 1945, bioskop dan film Indonesia memasuki babak baru. Kini, layar bukan sekadar hiburan, tetapi cermin bangsa. Sutradara-sutradara muda mulai mengangkat tema nasionalisme, kesenjangan sosial, dan dinamika masyarakat yang berubah.
Bioskop pun bertransformasi. Dari ruang gelap di pusat kota menjadi tempat anak muda berkumpul, tempat keluarga menghabiskan malam akhir pekan, dan tempat negara memperkenalkan gagasan-gagasan baru.
Pada dekade 1950–1960-an, gedung bioskop berdiri di mana-mana. Industri film berkembang. Para sineas seperti Usmar Ismail membangun fondasi sinema modern Indonesia.
Ketika Multiplex Menguasai Layar
Waktu bergulir. Televisi, krisis ekonomi, dan perubahan kota sempat membuat banyak bioskop tua tumbang. Namun industri bangkit kembali pada awal 2000-an lewat konsep multiplex: gedung besar dengan banyak studio sekaligus.
Layar-layar baru ini memanjakan penonton, sekaligus memulai era baru film Indonesia yang lebih beragam—dari film independen, festival, hingga produksi komersial yang menyaingi film impor.
Di sejumlah kota, bangunan bioskop lama masih berdiri. Ada yang terbengkalai, ada yang dipugar. Setiap dindingnya menyimpan lapisan sejarah: bagaimana orang Indonesia mengenal modernitas melalui cahaya yang jatuh ke layar putih.
Warisan yang Terus Diputar Ulang
Kini, di tengah banjir layanan streaming, bioskop tetap menjadi ruang yang berbeda. Gelapnya ruang, gemuruh suara, dan cahaya yang menari-nari di layar—pengalaman kolektif itu tak pernah benar-benar tergantikan.
Lebih dari seratus tahun sejak gambar idoep pertama menyala pada 5 Desember 1900, (ada pula yang mencatat tanggal 1 Desember. red) sinema Indonesia tetap hidup. Ia berubah, tapi tidak pernah berhenti memantulkan wajah zaman.
Dan seperti malam yang jauh itu di Tanah Abang, setiap film baru yang diputar selalu menghadirkan rasa takjub yang sama: keingintahuan manusia terhadap dunia yang dibentangkan oleh secarik cahaya. (dari berbagai sumber)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO