Buka konten ini

BATAM (BP) – Pasokan cabai dari sejumlah daerah sentra di Pulau Sumatera terputus total sejak Kamis (27/11) akibat bencana banjir dan longsor. Kondisi ini langsung memicu kelangkaan di pasaran dan lonjakan harga cabai di Kota Batam.
Kabid Perdagangan Disperindag Batam, Wahyu Daryatin, mengatakan pasokan dari Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh yang selama ini menjadi pemasok utama Batam kini berhenti total. Bencana yang melanda wilayah tersebut juga memengaruhi hasil panen petani lokal, sehingga distribusi ke Batam terhenti.
“Pasokan asal Sumatera Barat, Utara, dan Aceh untuk saat ini terputus total. Akibatnya pedagang tidak mendapatkan cabai harian seperti biasanya,” ujar Wahyu, Jumat (28/11).
Cabai termasuk komoditas cepat rusak dengan masa simpan hanya 3–5 hari. Biasanya pedagang mendatangkan cabai setiap hari dari daerah penghasil. Terputusnya pasokan
membuat stok di Batam menipis, sehingga harga pun melonjak.
Berdasarkan survei sementara Disperindag, harga cabai rawit kini mencapai Rp75 ribu per kilogram. Cabai besar merah atau cabai setan melonjak lebih tinggi, di kisaran Rp120 ribu–Rp150 ribu per kilogram.
Cabai merah keriting naik menjadi Rp75 ribu per kilogram, sedangkan cabai hijau relatif stabil namun meningkat menjadi Rp45 ribu per kilogram.
Untuk memenuhi kebutuhan harian Batam yang mencapai 15–20 ton, pedagang mulai mencari alternatif pasokan dari daerah lain. Salah satunya mendatangkan cabai dari Mataram.
“Kendati pasokan dari Mataram sudah ada, volumenya tidak sebanyak Medan, Aceh, dan Sumbar,” jelas Wahyu.
Selain Mataram, pasokan dari Yogyakarta dan Surabaya juga mulai dijajaki. Namun distribusi dari kedua daerah ini memerlukan transportasi udara sehingga biaya logistik lebih tinggi dibanding dari Sumatera.
Dengan meningkatnya biaya transportasi, Disperindag memperkirakan harga cabai akan tetap tinggi beberapa hari ke depan.
Meski demikian, Wahyu berharap suplai dari daerah alternatif mampu menahan lonjakan harga agar tidak berlebihan.
“Yang terpenting saat ini adalah rantai pasokan tetap berjalan. Selama suplai ada, kenaikan harga tidak akan jauh melampaui kondisi saat ini,” katanya.
Sementara itu, stok telur ayam di Batam dipastikan aman. Tidak seperti cabai, telur memiliki daya simpan lebih lama sehingga tidak terdampak langsung terputusnya distribusi dari Sumatera.
“Untuk telur, stok masih aman dan tersedia. Seharusnya tidak ada lonjakan harga,” jelas Wahyu.
Disperindag terus berkoordinasi dengan distributor dan pedagang untuk memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Mengingat Batam bukan daerah penghasil, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah harus dikelola secara ketat.
Untuk memantau perkembangan, Wahyu meminta distributor dan pedagang melaporkan kondisi pasokan setiap hari. Data ini penting untuk memetakan kebutuhan sekaligus menentukan langkah antisipasi sampai distribusi dari Sumatera kembali normal.
“Kami belum tahu sampai kapan pasokan akan terputus. Karena bencana di Sumatera masih berlangsung, kami terus mencari solusi termasuk membuka jalur pasokan dari daerah penghasil lainnya,” pungkasnya.
Kendati demikian, ia berharap masyarakat tak panik. (***)
Reporter : ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO