Buka konten ini

Kasus diabetes pada anak semakin sering ditemukan, namun banyak orangtua tidak menyadari tanda-tanda awalnya. Gejala kerap muncul perlahan dan baru terasa ketika kondisi sudah cukup berat. Dokter pun mengingatkan agar orangtua lebih waspada terhadap perubahan kecil pada anak, mulai dari sering haus hingga penurunan berat badan tanpa sebab, karena deteksi dini sangat menentukan keberhasilan pengendalian penyakit ini.

DIABETES tidak hanya terjadi pada orang dewasa. Anak-anak pun dapat mengalami kondisi ini, baik diabetes tipe 1, tipe 2, maupun jenis lain yang lebih jarang. Hal ini disampaikan dr. Melda Deliana, M.Ked (Ped), Sp.A(K), dokter spesialis anak konsultan dari RS Awal Bros Batam yang praktik setiap Sabtu dan Minggu.
“Diabetes bisa terjadi pada anak. Yang paling sering adalah diabetes tipe 1,” ujar dr. Melda dalam live Instagram bertema Diabetes pada Anak.
Menurutnya, American Diabetes Association membagi diabetes menjadi empat tipe: tipe 1, tipe 2, diabetes gestasional, dan tipe lain. Pada anak, tipe 1 adalah yang paling banyak dijumpai.
dr. Melda menjelaskan bahwa perbedaan mendasar dua tipe diabetes ini terletak pada penyebabnya.
“Diabetes tipe 1 disebabkan proses autoimun, sedangkan tipe 2 karena resistensi insulin,” jelasnya.
Pada diabetes tipe 1, tubuh anak tidak lagi memproduksi insulin, sehingga insulin harus diberikan seumur hidup. Sedangkan pada diabetes tipe 2, pengelolaan utama adalah perubahan gaya hidup.
“Kalau pola hidupnya diperbaiki—diet, aktivitas fisik, dan kebiasaan sehari-hari—gula darah bisa terkontrol tanpa insulin,” katanya.
Setelah memahami jenis-jenisnya, penting bagi orangtua mengenali apa saja faktor yang dapat meningkatkan risiko diabetes pada anak.
Untuk tipe 1, faktor risiko utamanya adalah genetik. “Ada gen tertentu seperti DR3-DQ2 dan DR4-DQ8 yang meningkatkan risiko diabetes tipe 1‚” kata dr. Melda.
Lingkungan, infeksi virus seperti enterovirus, serta faktor lain juga dapat berperan.
Sementara itu, diabetes tipe 2 lebih banyak dipicu gaya hidup tidak sehat.
“Anak obesitas harus hati-hati. Obesitas meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan komplikasi lain,” tegasnya.
Gejala yang Harus Diwaspadai Orangtua
dr. Melda mengingatkan agar orangtua segera memeriksakan anak jika muncul gejala klasik diabetes.

“Banyak makan, banyak minum, banyak kencing, badan lesu, dan berat badan cepat turun. Itu harus diwaspadai,” katanya.
Pada diabetes tipe 1, gejala sering terjadi pada anak usia balita hingga masa puber. Banyak anak datang ke rumah sakit dalam keadaan gawat.
“Sering datangnya sudah terlambat, bahkan sampai tidak sadar, karena ketoasidosis,” ujarnya.
Untuk memastikan kondisi anak dengan lebih akurat, langkah berikutnya adalah melakukan pemeriksaan gula darah melalui tes laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium penting dilakukan jika ada gejala mencurigakan. Kriteria diagnosis, antara lain:
– Gula darah puasa ≥ 126 mg/dL
– Gula darah sewaktu ≥ 200 mg/dL
– HbA1c ≥ 6,5%
“Semua pemeriksaan harus dilakukan sejak dini bila gejala sudah ada,” tegasnya.
Penanganan Diabetes pada Anak
Begitu anak dinyatakan mengidap diabetes, langkah penanganan yang tepat sangat penting agar kondisinya tetap terkontrol.
Ada lima pilar penanganan diabetes tipe 1:
1. Insulin wajib dan teratur
2. Pengaturan diet berdasar kan gram karbohidrat
3. Aktivitas fisik yang terukur
4. Edukasi untuk orang tua, sekolah, dan lingkungan
5.Pemeriksaan gula darah mandiri hingga tujuh kali sehari
Seberapa sering anak diabetes dicek kadar gula darah. “Idealnya tujuh kali sehari; sebelum makan pagi, 2 jam setelah makan pagi, 2 jam setelah makan siang, 3 jam setelah makan siang, sebelum makan malam, 2 jam setelah sudah makan malam, kemudian jam 2 pagi, ” ujar dr. Melda.
Untuk diabetes tipe 2, pembenahan gaya hidup menjadi pilar utama.
Bolehkah Anak Diabetes Makan Manis?
Setelah memahami prinsip penanganannya, banyak orangtua kemudian bertanya apakah anak diabetes masih boleh menikmati makanan manis.
“Boleh, asalkan gram karbohidratnya dihitung,” tegas dr. Melda.
Makanan kemasan memiliki label karbohidrat yang dapat dijadikan acuan. Diet anak diabetes terdiri dari tiga kali makan besar dan tiga kali camilan.
Olahraga untuk Anak Diabetes
Selain pola makan, aktivitas fisik juga menjadi bagian penting dalam menjaga kadar gula darah anak. Aktivitas fisik dapat membantu menstabilkan gula darah.
“Olahraga membantu menurunkan gula darah, tapi tetap ada aturannya,” jelasnya.
Jika gula darah terlalu rendah atau terlalu tinggi dengan keton positif, olahraga harus ditunda.
dr. Melda menegaskan bahwa anak diabetes tetap bisa tumbuh optimal dan berprestasi.
“Banyak pasien saya yang sukses, bekerja, bahkan menjadi dokter. Jangan patah semangat,” katanya.
Pencegahan
Untuk mencegah diabetes, terutama tipe 2, pola hidup sehat adalah kunci. “Jaga pola makan, batasi makanan dan minuman kemasan, serta cegah obesitas sejak dini,” ujar dr. Melda.
Orang tua perlu memberi contoh pola hidup sehat, menjaga aktivitas fisik anak, dan memperhatikan keseimbangan karbohidrat, lemak, serta protein dalam makanan sehari-hari. (***)
Reporter : ANDRIANI SUSILAWATI
Editor : GUSTIA BENNY