Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Upaya memperdalam kerja sama antara Indonesia dan Pakistan kembali digerakkan lewat sebuah pertemuan khusus di lingkungan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Rapat yang digelar di Jakarta Pusat pada Senin (25/11) itu membahas perluasan inklusi ekonomi syariah bersama berbagai pemangku kepentingan.
Rapat dipimpin Asisten Deputi Peningkatan Inklusi Keuangan Kemenko Perekonomian, Erdiriyo, yang turut menghadirkan perwakilan Kedutaan Besar Pakistan, perbankan syariah, lembaga penjaminan, hingga pelaku industri kreatif dari kedua negara.
Salah satu peserta yang hadir ialah Ketua Umum International Creatives Exchange (ICE), Atta Ul Karim, yang selama ini aktif menjembatani kolaborasi ekonomi dan kreatif berbasis syariah antara Indonesia dan Pakistan.
Dalam diskusi tersebut, pemerintah menegaskan bahwa peluang ekonomi antara kedua negara masih terbuka lebar, terutama pada sektor perdagangan, industri kreatif, dan layanan keuangan syariah. Potensi itu dinilai semakin relevan karena Indonesia dan Pakistan merupakan pasar besar industri halal serta memiliki kedekatan historis dan budaya.
“Kesempatannya sangat besar. Ini perlu dimaksimalkan. Kita agendakan pertemuan lanjutan pada awal Desember,” kata Erdiriyo. Ia menekankan bahwa setiap gagasan harus diterjemahkan menjadi langkah kerja yang lebih konkret.
Di hadapan pejabat pemerintah dan perwakilan diplomatik, Atta Ul Karim memaparkan beberapa program ICE yang dirancang untuk menghubungkan pelaku usaha kedua negara. Salah satunya adalah PakistanIndonesia.com, portal yang menyajikan data perdagangan, budaya, hingga peluang investasi Indonesia–Pakistan.
ICE juga berkomitmen memperluas kontribusinya sebagai mitra Trade Expo Indonesia dalam mempromosikan produk lokal ke pasar Pakistan. Platform digital mereka disebut akan menjadi etalase bagi UMKM dan pelaku usaha Indonesia untuk menjangkau calon mitra internasional.
“Saya ingin mengumpulkan produk-produk unggulan dari Indonesia untuk kami tampilkan di situs tersebut. Layanannya gratis, dan komisi yang diambil hanya dari transaksi, sesuai praktik platform digital,” ujar Atta.
Kehadiran perwakilan Kedubes Pakistan dipandang sebagai sinyal bahwa Islamabad siap membuka ruang kerja sama ekonomi yang lebih besar. Dalam beberapa tahun terakhir, hubungan dagang kedua negara meningkat, terutama di sektor tekstil, produk halal, dan energi.
Inisiatif digital dan penguatan jejaring bisnis yang dibawa ICE dinilai berpotensi mempercepat hubungan ekonomi kedua negara. Pemerintah Indonesia melihat langkah ini sejalan dengan strategi nasional memperluas inklusi keuangan syariah sekaligus memperkokoh hubungan dagang internasional.
Di penghujung rapat, Erdiriyo menyampaikan apresiasi atas peran aktif ICE dalam mendukung pengembangan inklusi keuangan syariah dan peningkatan jejaring bisnis Indonesia–Pakistan. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO