Buka konten ini

BATAM (BP) – Kunjungan pastoral Uskup Ordinariat Castrensis Indonesia (OCI) Kardinal Ignatius Suharyo membawa pesan mendalam bagi aparat TNI–Polri di Kepri, menegaskan kembali sejarah dan makna pelayanan gereja bagi penjaga keamanan negara. Pertemuan yang digelar di Gereja Oikumene Polda Kepri, Selasa (25/11), menjadi momentum untuk mengingat perjalanan panjang keuskupan militer Indonesia sejak masa awal kemerdekaan.
Dalam kunjungannya, Kardinal Suharyo memaparkan bahwa keuskupan militer Indonesia memiliki sejarah yang unik. Keuskupan itu dibentuk pada 1949, saat Indonesia masih menghadapi agresi Belanda dan berjuang mempertahankan kemerdekaan. Pada masa itu, Kementerian Pertahanan membentuk unit pelayanan mental dan rohani bagi angkatan perang. Tak lama kemudian, pimpinan Gereja Katolik mendirikan keuskupan militer sebagai bentuk dukungan penuh terhadap perjuangan bangsa.
“Keuskupan ini berdiri sebagai tanda bahwa Gereja Katolik sungguh mendukung upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” ujarnya.
Ia menjelaskan, hanya tiga negara di Asia yang memiliki keuskupan militer, Filipina, Korea Selatan, dan Indonesia. Keunikan Indonesia terletak pada penyatuan pelayanan bagi TNI dan Polri dalam satu keuskupan, berbeda dari negara lain yang hanya membawahi militer.
Hal ini tak lepas dari sejarah panjang Polri yang dulu sempat berada dalam struktur ABRI.
Kardinal Suharyo menyebut kunjungan ke satuan TNI dan Polri dilakukan sedikitnya tiga kali setahun. Tujuannya untuk mengingatkan umat Katolik yang bertugas sebagai prajurit maupun polisi agar tetap memegang semangat dasar keuskupan: mengisi kemerdekaan melalui pelayanan, integritas, serta keteguhan iman dalam menjalankan tugas negara.
“Aparat harus menjalankan perannya dengan watak iman yang kokoh, sebagaimana para pendahulu yang dulu merebut dan mempertahankan kemerdekaan,” katanya.
Wakapolda Kepri Brigjen Anom Wibowo menyambut hangat kehadiran Kardinal Suharyo. Ia menilai pembinaan rohani menjadi bagian penting untuk menjaga soliditas dan integritas anggota Polri, terutama menjelang perayaan Natal.
“Saya mengimbau seluruh personel, khususnya umat Katolik, agar menjadikan momen ini sebagai penguat iman dan kebersamaan dengan rekan-rekan TNI,” ujarnya.
Menurutnya, makna Natal juga sangat dekat dengan nilai kekeluargaan, selaras dengan tema nasional yang ditetapkan Konferensi Waligereja Indonesia.
“Semangat Natal harus mendorong kita semakin dekat dengan keluarga dan memperkuat nilai kebersamaan,” tambahnya. (*)
Reporter : YASHINTA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO