Buka konten ini

PONTIANAK (BP) – Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Kalimantan Barat mengajak pelaku kedai kopi untuk lebih banyak menggunakan biji kopi asal daerah sendiri, terutama jenis Liberika dan Robusta. Upaya ini sejalan dengan meningkatnya jumlah warung kopi di Pontianak yang terus tumbuh pesat.
Data Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT) sektor makanan dan minuman yang dirilis Bapenda Pontianak hingga Agustus 2025 mencatat sebanyak 1.035 warung kopi dan coffee shop aktif beroperasi di kota tersebut.
Kondisi ini, menurut Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalbar, Heronimus Hero, menjadi momentum bagi penguatan rantai pasok kopi lokal sekaligus membuka peluang naiknya kesejahteraan petani. “Kopi kini sudah menjadi kebutuhan masyarakat, dari anak muda sampai umum. Ini peluang besar untuk mendorong konsumsi kopi lokal seperti liberika dan robusta,” ucap Hero dalam kegiatan Gema Membangun Desa, Selasa (25/11).
Hero menjelaskan bahwa kopi liberika merupakan salah satu kekhasan Kalbar. Awalnya berkembang di Kayong Utara, kini penyebarannya meluas ke berbagai kabupaten. Potensi komoditas ini makin cerah, ditopang kenaikan harga green bean yang berada pada kisaran Rp80 ribu–Rp100 ribu per kilogram.
Dengan nilai jual yang terus naik, Hero menilai kopi dapat menjadi sumber pendapatan signifikan bagi masyarakat desa. Karena itu, pemerintah mendorong proses hilirisasi—mulai dari pascapanen, roasting, hingga penyajian—agar dilakukan secara terintegrasi di Kalbar.
Ia menambahkan, pengembangan kopi dirancang dari hulu sampai hilir. Dari sisi hilir, dinas mendorong kerja sama dengan pelaku industri kopi serta membuka peluang kolaborasi dengan dinas perdagangan. Harapannya, kedai kopi yang sudah memiliki brand kuat dapat menyediakan komposisi tertentu untuk produk asli Kalbar. “Kami ingin produksi lokal makin banyak terserap sehingga petani mendapat manfaat,” tegasnya.
Saat ini, luas kebun kopi di Kalbar mencapai sekitar tujuh ribu hektare. Pemerintah menargetkan perluasan hingga 10 ribu hektare dalam waktu dekat untuk memastikan ketersediaan bahan baku.
Hero mencontohkan beberapa kedai yang konsisten mengusung kopi lokal sejak awal, seperti 101 Coffee dan Kopi Kojal. Menurutnya, model seperti itu memberikan dampak ekonomi berantai bagi desa penghasil kopi.
Salah satu produsen kopi liberika yang aktif memasok ke kedai-kedai lokal adalah Kelompok Tani Batu Layar di Desa Sendoyan, Kabupaten Sambas.
Pembina kelompok tersebut, Dedi, menjelaskan bahwa liberika Sendoyan telah menjadi komoditas unggulan desa sekaligus bahan baku utama bagi sejumlah warkop, termasuk 101 Coffee yang dikenal gencar mempromosikan kopi lokal.
“Liberika sudah menjadi identitas Kalbar. Rasanya khas, kadar kafeinnya rendah, dan banyak yang merasa lebih aman di lambung. Itu sebabnya peminatnya terus naik,” kata Dedi.
Ia juga mengapresiasi inovasi 101 Coffee yang baru merilis minuman kolaborasi antarproduk desa bernama Sambaria, perpaduan kopi liberika Sendoyan dengan jeruk Sambas. Kombinasi tersebut menghasilkan cita rasa segar dengan karakter dua komoditas lokal sekaligus.
“Inovasi seperti ini hebat. Ini menunjukkan kopi dari desa bisa naik kelas dan menjadi produk bernilai tinggi,” ujarnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO