Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Kementerian Pertanian (Kementan) terus mendorong lahirnya inovasi untuk memodernisasi sistem irigasi sebagai bagian dari upaya mencapai swasembada pangan yang berkelanjutan. Modernisasi tersebut menjadi langkah penting untuk memperbarui teknologi pertanian sehingga petani tidak lagi mengandalkan metode tradisional.
Direktur Konservasi dan Pengembangan Sumber Air Pertanian, Asmarhansyah, menjelaskan bahwa unit yang dipimpinnya di bawah Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) memiliki peran strategis dalam penyediaan serta pengelolaan air dan jaringan irigasi. Dua aspek itu, tegasnya, merupakan fondasi utama dalam mewujudkan ketahanan pangan jangka panjang.
“Air adalah tulang punggung sektor pertanian. Kami ingin memastikan tata kelola sumber air dan irigasi menjadi lebih efisien, responsif, dan berorientasi masa depan,” ungkap Asmarhansyah kepada wartawan, Senin (24/11).
Pernyataan tersebut sekaligus menindaklanjuti pemaparan program strategis Ditjen LIP bertema Optimalisasi Sumber Daya Air Menuju Swasembada Berkelanjutan yang disampaikan di Politeknik Pengembangan Pertanian Malang pada Jumat (21/11).
Lebih lanjut, Asmarhansyah mengatakan bahwa meski modernisasi irigasi menemui sejumlah kendala, teknologi perpompaan dan perpipaan tetap menjadi kebutuhan utama untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan air.
Petani saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kerusakan sarana irigasi, pola tanam yang tidak konsisten, dampak perubahan iklim, alih fungsi lahan yang menurunkan kualitas air, hingga belum meratanya kapasitas pengelolaan kelembagaan di tingkat petani.
Ia menegaskan bahwa dukungan pemerintah diarahkan untuk menjaga ketersediaan air bagi usaha tani sebagai suplesi irigasi bagi tanaman pangan khususnya padi serta komoditas hortikultura, perkebunan, dan peternakan.
Upaya tersebut dilakukan dengan meningkatkan cadangan air serta memaksimalkan pemanfaatan sumber air dari tanah, curah hujan, aliran permukaan, sungai, maupun sumber lainnya sebagai pasokan tambahan irigasi.
Untuk daerah tadah hujan dan wilayah rawan kekeringan, Ditjen LIP menerapkan berbagai program, seperti irigasi perpompaan, perpipaan, pembangunan embung, dam parit, long storage, hingga infrastruktur konservasi dan irigasi modern.
Plt. Sekretaris BPPSDM Kementan, Nurul Qomariya, menambahkan pentingnya peran petani milenial dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan krisis air.
“BPPSDMP berkomitmen menyiapkan SDM pertanian yang kompeten, adaptif, dan mampu mengelola sumber daya air secara berkelanjutan untuk mendukung target swasembada nasional,” ujarnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO