Buka konten ini

Pagi itu, Minggu (23/11), aroma laut begitu kuat menyambut setiap langkah yang memasuki Pasar Ikan Tarempa Barat. Dari kejauhan, kilau perak deretan tongkol segar langsung mencuri perhatian, bertumpuk, berjajar, bahkan memenuhi lantai pasar. Meja-meja kayu yang biasanya lega, kali ini tak lagi sanggup menampung hasil tangkapan nelayan Anambas.
CUACA yang kembali bersahabat setelah berminggu-minggu dihantam gelombang setinggi tiga meter membawa berkah. Nelayan kembali melaut, dan pasar pun kembali hidup.
Suasana pagi itu jauh lebih ramai dari hari-hari sebelumnya. Para pedagang sibuk meladeni pembeli, sementara suara teriakan harga bercampur dengan dentingan ember dan cipratan air laut.
Zamri, seorang pedagang ikan yang sudah bertahun-tahun berjualan di pasar ini, tampak kewalahan sekaligus sumringah. Di depannya, tongkol-tongkol berukuran sedang dan besar tersusun seperti gunung kecil.
“Sekarang tongkol banyak sekali. Sampai-sampai kami letak di lantai karena meja sudah penuh,” katanya sambil menunjuk tumpukan ikan yang baru saja diturunkan. “Harga juga jatuh. Ukuran sedang Rp20 ribu per ekor, besar Rp35 ribu. Semua karena stok datang terus sejak subuh.”
Bagi Zamri, pemandangan seperti itu adalah pertanda baik: laut sedang murah hati. Tangkapan yang melimpah membuat pedagang tak sempat lagi menimbang satu per satu.
“Datang, bongkar, langsung jual. Pembeli pun ramai. Mereka tahu ikan-ikan ini baru naik dari laut semalam.”
Tongkol-tongkol segar itu masih tampak kaku dan berkilau, tanda bahwa nelayan baru mendaratkannya beberapa jam sebelumnya. Jika cuaca tetap stabil, kata Zamri, pasokan besar kemungkinan masih akan membanjiri pasar dalam beberapa hari ke depan.
Kabar melimpahnya tongkol cepat menyebar. Di sudut pasar, Wati, seorang pengusaha ikan asap, tampak memilih satu per satu ikan ukuran sedang. Ia memanfaatkan momentum ini untuk mengisi kembali stok produksinya.
“Saya beli 60 ekor hari ini,” ujarnya sambil tersenyum. “Harga lagi bagus, stok banyak, jadi kita bisa pilih yang kualitasnya paling oke.” Baginya, tongkol segar adalah kunci cita rasa ikan asap yang ia kirim ke Batam.
Saat cuaca buruk dan pasokan seret, ia terpaksa membeli ikan dengan harga tinggi. “Kalau begini, kita bisa produksi dua kali lipat.”
Bagi masyarakat Anambas, tongkol bukan sekadar komoditas. Ia adalah denyut nadi pasar, ukuran dari apakah laut sedang ramah atau tidak. Setelah beberapa minggu pasar tampak lesu karena nelayan tak dapat melaut, pagi itu Tarempa Barat kembali riuh. Warga membeli dalam jumlah lebih banyak, sebagian untuk persediaan, sebagian untuk usaha kecil mereka.
Pedagang menyebutkan bahwa lonjakan pasokan kali ini adalah yang terbesar dalam beberapa pekan terakhir. Dan bagi mereka, hari itu bukan sekadar tentang berjualan—tetapi tentang syukur ketika laut kembali tersenyum. (***)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : GUSTIA BENNY