Buka konten ini

LUMAJANG (BP) – Upaya pembersihan abu vulkanik di kawasan Gladak Perak, jembatan penghubung Kabupaten Lumajang dan Malang, terus dilakukan sejak Minggu (23/11).
Penyemprotan difokuskan untuk mengurangi risiko kecelakaan karena abu letusan Gunung Semeru menumpuk hingga mencapai ketebalan 5 sentimeter (cm).
“Kalau tidak disemprot bisa sangat membahayakan pengguna jalan,” ujar Danru Damkar Lumajang, Zaenuri, kepada Radar Jember Grup Jawa Pos (Batam Pos Group).
Abu vulkanik dan material guguran Semeru menyebabkan permukaan jalan licin. Pada Sabtu pagi (22/11), banjir lahar dingin dari puncak gunung setinggi 3.676 mdpl itu juga sudah mencapai Gladak Perak, yang berjarak sekitar 13 kilometer dari kawah.
Penyemprotan dilakukan dari arah Malang menuju Lumajang. Namun, prosesnya terkendala sumber air yang jauh. Petugas harus mengambil air dari Sumber Umbulan, Dusun Mulyoarjo, Desa/Kecamatan Pronojiwo, Lumajang.
Waktu tempuh menuju sumber tersebut sekitar 39 menit, sehingga pembersihan berjalan lebih lama dari yang diharapkan.

Tanaman Warga Terdampak
Erupsi Semeru pada Rabu (19/11) tidak hanya merusak puluhan rumah dan menewaskan ratusan hewan ternak di Dusun Gumukmas dan Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang. Abu vulkanik juga mengancam ribuan tanaman warga, terutama lombok atau cabai, tomat, dan padi.
Tanaman milik Imron Rosidi, warga Sumbersari, tertutup abu hingga daun dan buahnya mengering. Imron terpaksa menyemprot tanaman dengan air menggunakan tangki.
“Kalau abu dibiarkan menempel, daun dan buah akan rusak,” tuturnya.
Ribuan tanaman lombok dan tomat itu baru berumur 45 hari, sementara masa panen normal mencapai usia 90 hari.
Nasib lebih berat dialami Yuliani, warga Dusun Gumukmas. Seluruh tanaman lomboknya hilang tersapu lahar dingin saat erupsi terjadi. (*)
Reporter : JP Group
Editor : RATNA IRTATIK