Buka konten ini

Raksasa prasejarah seolah bangkit, menuntun pengunjung menelusuri era 400 juta tahun evolusi bumi hingga bayang-bayang kepunahan massal yang keenam. Replika kolosal dan kisah spesies yang hilang di tempat ini, seolah menghadirkan peringatan bahwa masa depan kehidupan bumi bergantung pada manusia. Seperti apa keseruannya?
LABIRIN temaram bermotif batuan kecoklatan menyambut setiap langkah pengunjung yang memasuki sudut wahana di Science Centre Singapura, Selasa (18/11) lalu. Cahaya redup menyorot dinding yang menggambarkan perjalanan waktu, seolah mengajak kembali ke era ketika bumi masih dalam proses pembentukannya.
Pada bagian awal lorong yang disusuri, dipaparkan kisah planet yang dahulu hanya berupa lautan luas dengan organisme air sederhana sebagai penghuni utama, sekaligus sebuah pengingat bahwa kehidupan dimulai dari sesuatu yang amat kecil sebelum berkembang menjadi para raksasa darat yang kini hanya tinggal fosilnya.
Dari menelusuri lorong sejarah itu, pengunjung kemudian tiba pada ruang utama pameran INOSAURS|EXTINCTIONS|US, yang merupakan hasil kolaborasi Science Centre Singapura dengan Lee Kong Chian Natural History Museum, Faculty of Science, National University of Singapore (NUS) di Singapura.
Berada di area seluas 3.000 meter persegi, pameran ini menghadirkan dua ekshibisi internasional: Dinosaurs of Patagonia dari Museo Paleontológico Egidio Feruglio, Argentina, dan Six Extinctions dari Gondwana Studios, Australia. Tujuannya jelas, memperlihatkan bagaimana kehidupan berevolusi menghadapi tantangan terbesar sepanjang masa, yaitu kepunahan.
Salah satu yang menjadi pusat perhatian pengunjung adalah replika Patagotitan Mayorum, dinosaurus raksasa sepanjang 40 meter dengan bobot sekitar 57 ton. Dengan leher yang menjulang hampir menyentuh atap, raksasa ini mendominasi ruang pameran.
Berdiri di bawah susunan replika fosilnya saja dapat membuat seseorang membayangkan gemuruh langkah makhluk titan itu ketika berjalan di dataran purba era Patagonia, jutaan tahun lalu. Melalui riset mendalam, fosil Patagotitan Mayorum yang ditemukan tahun 2014 di wilayah Chubut, Argentina tersebut, akhirnya publik dunia kini mengenal salah satu hewan pemakan tumbuhan terbesar yang pernah menginjakkan kaki di bumi.
“Setiap fosil menyimpan kisah tentang penemuan dan ketekunan. Melalui Dinosaurs of Patagonia, kami mengajak dunia melihat bagaimana sains menghubungkan kita dengan masa lalu dan dengan planet yang kita tinggali bersama,” ujar Dr. Rubén Cúneo, Direktur Museo Paleontológico Egidio Feruglio Argentina.
Tak jauh dari sang raksasa herbivora, hadir pula Tyrannosaurus Rex, salah satu dinosaurus terkuat yang pernah ditemukan dan dijuluki “Scotty”. Replika sepanjang 13 meter itu membangkitkan imajinasi tentang predator yang dikenal dengan gigitan menghancurkan tulang dan peranannya sebagai penguasa puncak rantai makanan di era Kretaseus. Kehadirannya menyuguhkan kontras: kekuatan dahsyat yang pada akhirnya tak bisa melawan nasib, kepunahan massal.
Perjalanan berlanjut ke ruang refleksi tentang masa kini. Kurasi dari Lee Kong Chian Natural History Museum menghadirkan kisah tentang great slaty woodpecker, pelatuk raksasa yang pernah berkembang biak di Singapura, namun hilang karena masifnya pembangunan yang menebang pepohonan tua tempat ia bersarang. Kini, jika terlihat pun, para ahli yakin itu hanya pengembara dari Malaysia. Kisahnya menyentuh, memperlihatkan bahwa ancaman kepunahan bukan semata sejarah purba, tetapi realita ekologis masa kini.
“Dengan menyoroti spesies yang hilang dan tantangan keanekaragaman hayati saat ini, kami ingin mengingatkan bahwa manusia adalah bagian dari penyebab sekaligus bagian dari solusi,” ujar Daniel Tan, Senior Project & Exhibitions Division Science Centre Singapore.
Ia menegaskan, pameran ini menghubungkan tragedi kepunahan lampau dengan kondisi yang kini sedang berlangsung di depan mata kita.
“Kami melakukan riset panjang sebelum menghadirkan pameran ini. Selain informatif, pameran ini tentu sangat edukatif, sehingga sangat cocok bagi anak-anak sekolah, apalagi kami hadirkan saat periode libur sekolah di akhir tahun,” terangnya.
Beragam permainan edukatif di pameran ini juga dihadirkan untuk menambah keseruan, seperti Test Your Strength untuk mengadu tenaga melawan para raksasa, atau Imagine Dinosaurs yang memungkinkan pengunjung menambahkan otot, tekstur, hingga warna pada kerangka dinosaurus—membangkitkan kreativitas sekaligus pemahaman ilmiah. Lalu ada Digital Fossil Dig, tantangan layar sentuh berbasis waktu yang meniru proses penggalian fosil, serta aktivitas mengumpulkan cap dari stamping stations untuk mengungkap ilustrasi prasejarah penuh warna.
Menurut Ms Tham Mun See, Chief Executive Science Centre Board, pesan utama pameran ini adalah kesadaran bahwa sejarah kehidupan adalah kisah bertahan hidup.
“Melalui fosil-fosil menakjubkan dan pengalaman imersif, kami ingin membangkitkan rasa ingin tahu sekaligus mendorong tindakan nyata menghadapi krisis keanekaragaman hayati masa kini,” ujarnya menegaskan.
Pameran DINOSAURS|EXTINCTIONS|US telah dibuka sejak 11 Oktober 2025 di Annexe, Science Centre Singapore, dan akan berlangsung hingga awal tahun depan. Tiket reguler tersedia mulai 39,90 dolar Singapura (berkisar Rp508 ribu dengan kurs 1 dolar Singapura = Rp12.750) untuk dewasa, dan 35,90 dolar Singapura (Rp457 ribu) untuk anak-anak.
Meet and Greet dengan Santa Claus dari Rusia
Setelah menyusuri masa prasejarah jutaan tahun lalu, pengunjung dapat melanjutkan petualangan ke suasana musim dingin di Snow City, yang berada satu kawasan dengan Science Centre Singapura. Musim liburan kali ini, mereka menghadirkan pengalaman bermain salju unik, di mana pengunjung dapat merasakan lembutnya salju asli, bukan busa sabun seperti di tempat lainnya. Anak-anak pun bisa membuat manusia salju atau snowman dengan menambah 10 dolar Singapura untuk mendapatkan peralatan membuatnya.
Ada pula Kampung Natal atau A Little Christmas Village di lantai dua, yang menghadirkan dekorasi Natal bergaya Eropa yang hangat. Sedangkan Giant Luge yang merupakan arena seluncur es permanen bagi pecinta adrenalin, juga masih dihadirkan untuk ditaklukkan oleh pengunjung yang ingin berseluncur di atas es dengan suhu berkisar minus 8 derajat celcius. “Kami ingin memberikan pengalaman musim dingin bagi keluarga yang belum bisa berlibur ke negara bersalju,” ujar Norazani Shaiddin, General Manager Snow City Singapura.
Selama 1–31 Desember, wisatawan pemegang paspor Indonesia juga bakal mendapatkan diskon 30 persen yang berlaku hingga lima tiket untuk satu keluarga.
Keseruan bertambah pada 25 Desember 2025, ketika Christmas Carol mengalun di antara instalasi bersalju dan karakter Santa Claus hadir menyapa dalam acara meet and greet khusus. Penampilan Santa Claus di sini akan dibuat istimewa karena sang pemeran didatangkan langsung dari kawasan Eropa Timur, tepatnya Rusia.
“Kami juga masih menghadirkan koleksi patung es warna-warni bagi yang ingin mengambil spot berfoto yang menarik,” ujar Norazani.
Perpaduan pameran dinosaurus dan salju ini menjadi alternatif liburan ke Singapura yang tak hanya menghibur, tapi juga bernilai edukatif tinggi. Seolah menempuh dua perjalanan dalam satu langkah, menengok masa lalu bumi yang keras, sembari menikmati keceriaan musim dingin bersama keluarga di penghujung tahun. (*)
Reporter : RATNA IRTATIK
Editor : MUHAMMAD NUR