Buka konten ini

SEKUPANG (BP) – Ketersediaan bahan pangan strategis di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), terutama daging dan beras, dipastikan aman menjelang perayaan Idulfitri maupun Iduladha. Kepastian itu disampaikan Anggota DPRD Kepri, Muhammad Musofa, yang menegaskan bahwa pemerintah bersama legislatif terus memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi tanpa gangguan distribusi.
“Untuk ketahanan pangan kebutuhan daging Idulfitri dan Iduladha, Insya Allah tidak ada masalah,” ujar politisi Partai NasDem tersebut, Minggu (23/11).
Musofa mengungkapkan, DPRD tengah menyiapkan langkah jangka panjang berupa penyusunan peraturan daerah (perda) lalu lintas hewan. Regulasi ini ditargetkan rampung pada September 2026 dan diharapkan mampu memperlancar distribusi hewan ternak dari luar Kepri.
“Saya inisiatif tahun 2026 membuat perda lalu lintas hewan. Saya biayai melalui pokir supaya lebih efektif, sehingga hewan dari luar Kepri tidak terlalu kaku masuk,” jelasnya.
Ia menilai beberapa persyaratan teknis yang diterapkan saat ini sudah tidak relevan, misalnya kewajiban pemeriksaan laboratorium penyakit jembrana yang biayanya bisa mencapai Rp600 ribu per ekor. Menurutnya, penyakit tersebut sudah tidak ditemukan lagi.
“Di Bali saja penyakit jembrana itu sudah tidak ada. Tapi di Kepri masih disarankan diuji. Itu yang ingin kita hilangkan,” ujarnya.
Selain daging, Musofa memastikan pasokan beras, minyak, dan gula di Kepri dalam kondisi stabil. Berdasarkan laporan Badan Anggaran Komisi II DPRD Kepri, distribusi pangan berjalan baik tanpa indikasi kekurangan stok.
“Sudah efektif, tidak ada kekhawatiran kekurangan beras. Gula, beras, dan minyak aman di Kepri,” katanya.
Ia menyebut Batam menjadi wilayah paling aman karena status Free Trade Zone (FTZ) yang mempermudah masuknya barang dari luar daerah. Sedangkan wilayah non-FTZ seperti Tanjungpinang, Anambas, dan Natuna tetap membutuhkan suplai yang lebih terukur.
“Kalau di Batam Insya Allah tidak ada masalah karena FTZ. Kecuali daerah non-FTZ seperti Tanjungpinang, Anambas, dan Natuna harus disuplai sesuai kebutuhan agar tidak kekurangan,” terangnya.
Musofa menambahkan, Natuna dan Anambas adalah daerah paling rawan kelangkaan karena distribusi logistik sangat tergantung kondisi cuaca.
“Natuna dan Anambas harus dipenuhi sebelum musim angin utara. Saat angin utara, kapal tidak bisa masuk dan akhirnya bahan pokok bisa langka,” ucapnya.
Ia juga menyoroti harga sapi di Kepri yang cenderung lebih tinggi dibanding daerah lain. Hal itu terjadi karena Kepri masih bergantung pada pasokan luar daerah dan kurang cocok untuk peternakan.
“Harga sapi tinggi karena didatangkan dari luar daerah. Di sini hanya bisa penggemukan karena hawa, cuaca, dan pakan tidak cocok,” ungkapnya.
Meski demikian, masyarakat masih terbantu dengan keberadaan daging beku yang harga jauh lebih terjangkau.
“Daging segar sekarang sekitar Rp160 ribu per kilogram, sedangkan daging beku sekitar Rp100 ribu. Selisihnya bisa 60–70 ribu,” jelas Musofa. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : GALIH ADI SAPUTRO