Rambut dan kumis boleh memutih, garis-garis keriput boleh memenuhi wajah, namun tidak dengan ingatan Amad. Dentuman senjata dan kepulan asap perang 1945 masih terekam jelas di memorinya. ”Saya ini satu-satunya veteran yang masih hidup, yang lain sudah mati!” ungkap Amad dengan nada lirih, namun tegas.
Pria sepuh pemilik nama satu kata ini adalah orang terakhir yang masih tersisa dari pertempuran Surabaya 1945, atau yang lebih dikenal dengan Hell from Surabaya. Sosok Amad mengingatkan pada aktor legendaris Matt Damon saat membintangi film Saving Private Ryan.
Film yang disutradarai Steven Spielberg ini mengisahkan misi penyelamatan Ryan (diperankan Damon) yang diketahui sebagai anak terakhir dari empat bersaudara yang selamat dari perang.
Di akhir film, usai pertempuran brutal, hanya tiga anggota regu penyelamat yang masih hidup: Ryan sendiri, prajurit Richard Reiben, dan Timothy Upham. Dalam kehidupan pascaperang, adegan selanjutnya menunjukkan Ryan yang sudah lanjut usia sedang mengunjungi pemakaman tentara Amerika di Normandy. Dari cuplikan itu diketahui dirinya adalah sosok pejuang terakhir yang masih hidup.
Sembari menjejak bumi, Ryan memberikan hormat di depan makam sejawatnya.
Setali tiga uang dengan kisah Amad, kakek berusia 103 tahun ini masih tampak gagah saat mengenakan seragam Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) berwarna cokelat, lengkap dengan topi mut kuning dan rentetan brefet.
Ketika ditemui jurnalis JawaPos.com (grup Batam Pos) dirumahnya di kawasan Juanda, Sidoarjo, Amad begitu antusias bercerita. Percakapan yang terekam selama satu jam itu menjelaskan bagaimana peristiwa 1945 begitu melekat di memori Amad.
Sesekali senyumnya merekah, namun tak jarang matanya juga berkaca-kaca ketika ingatan kelam memutar waktu di pikirannya. Sambil menghela nafas panjang, Amad yang punya 30 orang cucu ini menatap jauh lurus ke depan sebelum bercerita.
Siapkan Tangga di Peristiwa Perobekkan Bendera Belanda di Hotel Yamato
Pada masa pendudukan Jepang, tubuh besar dan tingginya membuat ia dipilih Tentara Nippon sebagai prajurit Heiho. Masa remaja Amad pun dihabiskan dengan pendidikan militer yang berat dan terlibat baku tembak di pertempuran.
Setiap kali mengenang peristiwa 1945 di Surabaya, Amad selalu terdiam. Kala itu, usia Amad masih remaja, yakni 23 tahun. Salah satu peristiwa yang diingat betul adalah Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato.
Pagi itu, Rabu, 19 September 1945, Amad yang tinggal di Jalan Kedungturi, tak sampai satu kilometer dari Hotel Yamato, mendengar teriakan anak-anak muda sambil memukul tiang listrik sebagai kentongan pada pagi hari.
”Cak, ayo nyuwek gendero Belanda ning hotele Jepang, awakdewe wes merdeka (cak, ayo menyobek bendera Belanda di hotelnya Jepang, kita ini sudah merdeka),” kenang Amad saat didatangi beberapa anak muda kala itu.
Tanpa pikir panjang, Amad langsung mengiyakan ajakan tersebut. Ia lalu berinisiatif mencari tangga agar arek-arek Suroboyo bisa memanjat dan merobek Prinsenvlag – sebutan bendera Belanda – yang dikibarkan sekutu di sisi utara hotel.
Setelah mengambil tangga dari salah satu rumah warga, Amad menempatkannya di dinding hotel sisi utara, tepat di atasnya adalah tiang bendera Belanda berkibar.
Para pejuang pun memanjat secara bergiliran. Sayangnya, tangga yang dibawa tidak cukup untuk sampai ke atap Hotel Yamato. Amad dan anak muda lainnya pun bergegas mencari tangga di sekitar.
”Yang pertama kali mikir nyari tangga itu saya. Anak-anak yang naik ke atas lalu berteriak kalau nggak bisa naik lagi karena ada undak-undakan. Akhirnya saya cari tangga lagi dan bendera Belanda berhasil dirobek,” imbuhnya.
Peristiwa perobekkan bendera Belanda di Hotel Yamato begitu membekas dalam ingatan Amad. Setelah berhasil merobek bendera, terjadi baku tembak yang mengubah drastis suasana sorak sorai menjadi mencekam.
”Saya tidak akan lupa, saya mengingat betul peristiwa itu. Bahkan setiap tanggal 19 September, saya sempatkan waktu untuk datang ke Hotel Yamato, yang sekarang berganti nama menjadi Hotel Majapahit,” tutur Amad.
* Surabaya Bagai Kota Mati, Bertahan Hidup di Medan Perang 10 November
Tak sampai genap dua bulan pasca peristiwa perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, suara dentuman senjata dan kepulan asap memenuhi sudut Kota Pahlawan. Bahkan, Amad menyebutnya seperti kota mati.
”Belasan pesawat muter-muter di atas langit Surabaya dan menjatuhkan bom. Suasanya saat itu kacau balau, penduduk Surabaya mengungsi, listrik dimatikan, makanya disebut kota mati waktu itu,” ucap veteran dengan nomor anggota 12.093.713 ini.
Kengerian ini terjadi semenjak pasukan sekutu (Inggris dan Belanda) datang ke Surabaya pada 25 Oktober 1945. Mereka berniat untuk mengamankan tawanan perang dan melucuti senjata tentara Jepang.
Sayangnya, kedatangan mereka tak disambut baik. Arek-arek Suroboyo ogah menuruti perintah sekutu. Ketegangan pun terjadi. Bentrokan senjata antara masyarakat Indonesia dan sekutu tetap tak terhindarkan.
”Belanda tiap hari bombardir di Surabaya, hancur lebur sudah tinggal kelihatan asap. Itu pertempuran hebat, banyak yang gugur, kita empat hari nggak makan, saking kelaparannya sampai makan tanaman sekitar,” lanjutnya.
Amad mengakui mencari makanan di medan tempur adalah hal paling sulit. Mau tak mau, ia tak punya pilihan selain memakan makanan mentah dari tanaman sekitar, seperti kates, ketela, pohong.
Menurut veteran yang hobi menyeduh kopi ini, semangat juang arek-arek Suroboyo kala itu tak luput dari pekikan Bung Tomo di radio-radio. Amad menceritakan bahwa pertemuan pertamanya dengan Bung Tomo cukup unik.
”Aku lupa pastinya kapan ketemu Bung Tomo, tapi yang pasti setelah tanggal 19 September (peristiwa perobekan bendera). Nggak sengaja ketemu dijalan, nggak juga tahu kalau dia itu Bung Tomo, soalnya kan seumuran,” kelakarnya.
Bung Tomo menginformasikan bahwa Belanda akan datang. ”Nek kon kate perang, tak duduhno bedile jepang (kalau kamu mau perang, tak tunjukkan tempat senjatanya Jepang),” tutur Amad menirukan ucapan Bung Tomo.
Pengalamannya sebagai bekas prajurit Heiho bentukan Jepang, membuat Amad sedikit banyak tahu tentang senjata milik tentara Nippon. Ia pun mengajari anak muda lainnya tentang cara menggunakan senjata.
”Bung Tomo bilang, awak dewe ketimbang dijajah londo (Belanda), perang terus ae (saja). Bisa dibilang waktu itu, kematian itu rasanya sudah dekat. Lah wong kita saja nggak makan berhari-hari,” ucap Amad lirih, menahan air mata.
Tak kuasa menahan, air mata Amad akhirnya menetes juga di pipinya. ”Saya kalau ingat peristiwa perang 1945, suka nangis, rasanya sesak sekali,” tutup veteran kelahiran Krian, 7 Februari 1922 tersebut. (***)
Reporter : jp group
Editor : Alfian Lumban Gaol