Buka konten ini
BATAM (BP) – Batam sedang menghadapi ancaman serius dari kelompok usia produktif yang belum terserap pasar kerja. Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2024 mencatat sebanyak 19.518 anak muda berusia 15–24 tahun menganggur di Batam.
Angka itu setara 38,70 persen dari total pengangguran, menjadikan kelompok usia muda sebagai penyumbang terbesar pengangguran di kota industri ini.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam, Eko Aprianto, menyebut persoalan ini bukan hanya soal ketersediaan lapangan kerja, tetapi juga derasnya arus pencari kerja dari luar daerah yang terus datang ke Batam.
“Batam ini daerah industri yang memberi harapan banyak orang untuk mencari pekerjaan. Di satu sisi banyak pencari kerja datang, namun di sisi lain peluang kerja terbatas,” ujar Eko, Kamis (21/11).
Ia menambahkan, tidak sedikit lowongan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan teknis atau spesifikasi tertentu, sehingga tidak sesuai dengan kompetensi para pencari kerja muda, terutama mereka yang baru lulus sekolah.
Secara tingkat pendidikan, lulusan sekolah menengah atas (SMA) menjadi kelompok paling rentan. Pada 2024, pengangguran lulusan SMA mencapai 26.162 orang, atau lebih dari setengah total pengangguran di Batam.
“Selama lima tahun terakhir, lulusan SMA selalu berada di puncak angka pengangguran,” jelas Eko.
Fenomena ini mencerminkan ketidakseimbangan antara jumlah lulusan SMA dengan lapangan kerja yang tersedia, terutama lowongan yang membutuhkan skill teknis dan spesialisasi.
Sementara itu, pengangguran lulusan perguruan tinggi juga menunjukkan tren peningkatan signifikan. Sebanyak 7.125 sarjana belum bekerja pada 2024, naik tajam dibandingkan 3.412 orang pada 2023 dan 2.754 orang pada 2022. Kondisi ini menggambarkan bahwa semakin banyak lulusan perguruan tinggi memasuki pasar kerja, tetapi penyerapannya di industri belum optimal.
Adapun pengangguran lulusan SMP ke bawah tercatat 14.144 orang, menurun dari 20.757 orang pada 2021. Penurunan tersebut menunjukkan sektor informal dan padat karya masih menjadi tumpuan utama kelompok berpendidikan rendah di Batam.
BPS menegaskan bahwa pendataan pengangguran tidak hanya berdasarkan alamat KTP, tetapi mencakup seluruh penduduk yang telah tinggal di Batam minimal satu tahun. Hal ini mempertegas posisi Batam sebagai magnet pencari kerja muda dari berbagai daerah, namun pasar kerja tak mampu menampung laju kedatangan yang terus meningkat.
Tingginya pengangguran usia muda menjadi sinyal kuat perlunya intervensi serius, mulai dari pelatihan vokasi, peningkatan kompetensi angkatan kerja, hingga penyelarasan kurikulum pendidikan dengan kebutuhan industri. Jika tidak, Batam berisiko kehilangan peluang besar dari generasi produktif yang seharusnya menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi kota ini.
Sebelumnya, Disnakertrans Kepri mengungkap bahwa Generasi Z mendominasi angka pengangguran di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Dari total sekitar 65 ribu pengangguran yang tercatat, sebanyak 60 persen atau sekitar 39 ribu orang berasal dari kelompok usia muda.
“Usia 17 sampai 25 tahun paling banyak. Kebanyakan mereka hanya tamat SMA/SMK dan belum mendapatkan pekerjaan,” ujar Kepala Disnakertrans Kepri, Diky Wijaya, Kamis (20/11).
Ia menjelaskan, sekitar 20 persen pengangguran lainnya merupakan lulusan perguruan tinggi, baik S1 maupun S2, atau sekitar 13 ribu orang. Mereka umumnya kalah bersaing karena tidak sesuai dengan kualifikasi teknik yang dibutuhkan industri di Kepri—terutama Batam dan Bintan.
“Sebagian besar lulusan S1 dan S2 di Kepri itu manajemen dan akuntansi, sementara kebutuhan perusahaan lebih banyak jurusan teknik mesin, kimia, dan sejenisnya,” kata Diky. (*)
Reporter : Rengga Yuliandra
Editor : RATNA IRTATIK