Buka konten ini

“Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Jangan berhenti hanya karena satu orang ingin menjatuhkan. Karya kita akan dilihat orang yang tepat, di waktu yang tepat. Karya kita akan menemukan penontonnya sendiri,”…
DI sebuah ruang seni kecil di SMP Negeri 60 Batam, tempat cat dinding mulai memudar dan peralatan sekolah serba terbatas, lahirlah sebuah karya besar. Sebuah film berjudul, “Tanpa Tapi” yang tidak dibuat oleh studio profesional, melainkan oleh tangan-tangan muda anak kelas 8 dan 9 serta satu sosok guru yang percaya bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkarya.
Dialah Harasyil, guru seni teater dan sutradara film ini. Dengan kamera, naskah yang ia tulis sendiri, serta semangat anak-anak yang mencintai seni, ia merangkai proses produksi yang memakan waktu hampir setahun penuh.
Film ini lahir dari inovasi sekolah kecil yang ingin membuktikan bahwa kreativitas tidak membutuhkan gedung megah ataupun fasilitas lengkap. Cukup kemauan, ruang berekspresi, dan mimpi.
“Tanpa Tapi” diangkat dari realitas yang dekat dengan mereka: dunia pendidikan dan kehidupan anak-anak dari keluarga dengan latar belakang yang berbeda.
Salah satu pemeran bahkan tinggal tepat di depan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Sagulung , lokasi yang sekaligus menjadi tempat syuting. Kisah kehidupan sehari-hari di TPS itu tidak disulap menjadi skenario, ia justru menjadi kisah autentik yang membangun nyawa film ini.
Tidak hanya itu, film ini juga melibatkan anak inklusi, sebuah keputusan yang disambut hangat seluruh tim produksi. Bagi Harasyil, seni bukan hanya soal tampil, tetapi ruang di mana setiap anak bisa menjadi dirinya sendiri.
“Walaupun dengan padatnya jam mengajar di sekolah dan beban tugas tambahan menjadi Bagian Kurikulum, tidak menghalangi saya untuk dapat berkarya dan berinovasi,” ujar Harasyil, Rabu (19/11).
Karya ini bukan sekadar tugas seni. Inovasi yang dirintis Harasyil menempatkannya dalam daftar 5 Guru Kreatif Nasional, sebuah pencapaian yang dimulai dari Batam, melesat ke tingkat Provinsi Kepri sebagai Guru Inspiratif Juara 1 hingga akhirnya meraih Juara 5 Nasional kategori Konten Kreatif.
Konten kreatif yang ia kirimkan ke kompetisi nasional adalah rangkuman proses panjang pembuatan film ini, bagaimana sekolah kecil dengan sarana terbatas mampu meraih pencapaian besar.
“Jujur, proses kreatifnya saya bangun sendiri. Dari foto, editing, menulis skenario, menyutradarai. Tapi anak-anak selalu terlibat. Mereka buat poster, behind the scene, semuanya kerja sama,” kata dia.
Film “Tanpa Tapi” menjadi bukti bahwa kreativitas adalah ruang belajar yang tidak mengenal batas, bahkan masuk sebagai bagian pembelajaran dalam kurikulum seni teater dan muatan lokal sekolah.
Produksi film ini lahir dari wadah bernama Lanting Production, akronim dari ”Literasi Pembelajaran Teknologi Instruksional Net Generation”.
Meski terdengar seperti studio profesional, sejatinya Lanting Production adalah ruang kelas sederhana yang disulap menjadi ruang kreatif. Anak-anak diseleksi bukan untuk membatasi, melainkan agar mereka yang terlibat bisa menularkan ilmunya kepada adik kelas lainnya.
“Waktu film pertama, hampir setengah siswa ingin ikut. Potensi mereka besar sekali,” kata dia.
Bukan hanya ceritanya yang autentik, film ini juga memiliki soundtrack original. Musiknya digarap bersama seorang sahabat Harasyil, seorang musisi Bandung yang kini tinggal di Batam. Aransemen, rekaman, hingga pematangan komposisi dilakukan mandiri.
Film ini tak berjalan sendiri. Dukungan kuat datang dari pemerintah, terutama mantan Kadisdik Batam, Tri Wahyu Rubianto, yang turut menjadi produser film ini.
Dukungan juga terus mengalir dari Dinas Pendidikan dalam mendorong kreativitas guru dan anak-anak Batam.
Rencana penayangan perdana (launching) sedang dimatangkan. Harapannya, film ini bisa ditayangkan di bioskop alun-alun Batam yang sedang dibangun, atau di gedung mana pun yang memiliki layar proyeksi memadai.
“Film ini semuanya kisah nyata. Anak-anak, guru, siapa pun yang menonton akan belajar tentang syukur, persahabatan, menghargai perbedaan, dan mencintai tanpa tapi,” ujarnya.
Ketika ditanya apa pesannya untuk guru-guru lain, Harasyil menatap dalam.
“Lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Jangan berhenti hanya karena satu orang ingin menjatuhkan. Karya kita akan dilihat orang yang tepat, di waktu yang tepat. Karya kita akan menemukan penontonnya sendiri,” ujarnya.
“Tanpa Tapi” bukan sekadar film. Ia adalah perjalanan—dari ruang kelas kecil menuju panggung nasional.
Dari anak-anak Sagulung yang tinggal di pinggir TPS menuju layar yang akan dilihat Batam dan Indonesia. (***)
Reporter : AZIS MAULANA
Editor : Ratna Irtatik