Buka konten ini

BATAM (BP) – Krisis sampah kembali menghantui Kota Batam setelah pengangkutan sampah tak berjalan optimal dalam sepekan terakhir, sehingga tumpukan menggunung di permukiman warga dan memunculkan bau busuk yang menyengat.
Tumpukan sampah yang tak kunjung diangkut kini memenuhi sudut-sudut lingkungan hingga menutup sebagian badan jalan. Kondisi ini semakin parah saat hujan turun, membuat aroma kian menyengat dan kekhawatiran warga meningkat.
“Daripada membusuk di depan rumah, ya terpaksa dibuang ke tempat lain. Mau bagaimana lagi? Tidak ada pilihan,” keluh Andri, warga Sekupang, Jumat (21/11).

Situasi tersebut memicu munculnya TPS ilegal di banyak lokasi. Warga membuang sampah ke lahan kosong dan pinggir jalan raya karena tidak ingin tumpukan itu berada persis di pelataran rumah mereka. Jika dibiarkan, kondisi ini berpotensi memunculkan masalah baru: lingkungan kumuh dan ancaman kesehatan masyarakat.
“Kalau tidak diambil juga, nanti semua kawasan bisa jadi tempat buang sampah. Kota makin kacau,” tutur Rina, warga Batuaji.
Di tengah tingginya keluhan publik, respons pemerintah daerah dinilai lambat. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam, Herman Rozi, belum memberikan tanggapan meski telah dikonfirmasi terkait solusi cepat penanganan sampah.
Minimnya komunikasi ini menambah kegelisahan masyarakat. Warga berharap pemerintah segera memberikan langkah konkret dan memastikan pengangkutan kembali normal.
“Yang penting ada solusi cepat. Kalau dibiarkan seperti ini, masyarakat yang paling
dirugikan,” ujar Dedi, warga Batuaji.
Pemerhati Lingkungan Akar Bhumi Indonesia, Hendrik Hermawan, menilai persoalan sampah ini tidak boleh dibiarkan berlarut. Selain mencemari lingkungan, situasi ini berdampak pada kesehatan warga dan citra kota.
Menurutnya, masalah sampah yang berkepanjangan menunjukkan kegagalan sistem pengelolaan persampahan di Batam. Minimnya anggaran, rendahnya kesadaran publik, serta lemahnya penegakan hukum menjadi faktor utama.
“Saya bisa bilang pengelolaan sampah di Batam gagal. Penyebabnya berlapis: anggaran minim, kesadaran masyarakat rendah, penegakan hukum tidak berjalan padahal sudah ada perdanya, dan tidak ada terobosan berarti,” tegasnya.
Hendrik juga menyoroti rendahnya dukungan anggaran dari DPRD Batam kepada DLH. “Visi sebuah kota tercermin dari anggarannya. Kalau anggaran lingkungannya kecil, berarti kota tersebut memang tidak berorientasi pada lingkungan,” ujarnya.
Ia menilai penanganan persampahan harus menjadi tanggung jawab bersama Pemko Batam dan BP Batam. “BP Batam tidak bisa lepas tangan. Mereka membuka pintu investasi dan pertumbuhan penduduk. Konsekuensinya, tanggung jawab sampah juga harus mereka pikul,” katanya.
Hendrik turut menyinggung persoalan TPS yang kerap berdiri di lokasi tak sesuai RTRW karena intervensi kepentingan politik maupun keputusan DPRD. “Ini membuat pemerintah kesulitan mendapatkan kepastian hukum. Banyak TPS yang akhirnya rawan digugat class action,” ungkapnya.
Kemacetan Truk Sampah di TPA Telaga Punggur
Pantauan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Telaga Punggur menunjukkan antrean panjang puluhan truk pengangkut sampah mengular di Jalan Patimura hingga depan gerbang TPA, Jumat (21/11). Antrean terjadi sejak pagi hingga sore, membuat waktu bongkar muatan molor berjam-jam.
Truk-truk berhenti rapat satu sama lain, hanya bergerak beberapa meter setiap beberapa menit. Para petugas kebersihan terlihat turun dari kendaraan, duduk di pinggir jalan menunggu giliran masuk.
Edi, salah satu petugas, mengatakan ia sudah menunggu lebih dari empat jam namun belum dapat membuang sampah. “Sudah antre dari pagi. Empat jam lebih belum selesai,” ujarnya.
Menurutnya, antrean timbul karena alat berat di dalam TPA sangat terbatas. Hanya satu mesin pengeruk yang beroperasi sehingga seluruh truk harus menunggu.
“Hanya satu alatnya. Mau tidak mau, semua menunggu,” katanya. Ia menyebut antrean seperti ini hampir terjadi setiap hari, namun hari itu adalah yang terparah dalam beberapa pekan terakhir.
Kondisi tersebut langsung berdampak pada produktivitas. Biasanya satu truk bisa melakukan dua kali pengangkutan sehari, tetapi kini ritmenya turun drastis. “Kadang ini yang membuat kami lambat angkut sampah. Hampir tiap hari begini,” lanjutnya.
Seorang petugas lain menyebut antrean juga terjadi di dalam kawasan TPA. “Di dalam juga lama. Tidak tahu kapan selesai,” ujarnya.
Pengguna jalan pun ikut terdampak. Selain macet, mereka harus melintasi jalan berlumpur akibat intensitas keluar-masuk truk sampah. “Jalan licin sekali, apalagi buat motor. Bahaya,” ujar Alfi, pengendara yang melintas.
Warga berharap Pemko Batam dan pengelola TPA segera menambah alat berat dan memperbaiki fasilitas agar antrean truk tidak mengganggu aktivitas harian. (***)
Reporter : YASHINTA – RENGGA YULIANDRA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO