Buka konten ini
SEORANG siswa SMA di Batam diperiksa polisi setelah pihak sekolah menerima pesan ancaman yang diduga terkait bom melalui aplikasi WhatsApp. Pesan itu menautkan nomor telepon siswa bersangkutan sehingga memicu respons cepat dari aparat keamanan.
Informasi yang dihimpun Batam Pos menyebutkan, Polda Kepri sempat mengamankan siswa tersebut untuk memastikan kebenaran dugaan keterkaitannya dengan kelompok radikal. Pemeriksaan dilakukan sebagai langkah verifikasi awal mengingat ancaman yang diterima sekolah mengandung indikasi jaringan yang terstruktur.
Sumber internal kepolisian menyebutkan, proses klarifikasi dilakukan segera setelah laporan masuk. Pemeriksaan awal diperlukan untuk memastikan apakah nomor siswa itu benar digunakan dalam pesan ancaman atau justru disalahgunakan pihak lain.
Direktur Kriminal Khusus Polda Kepri, Kombes Silvester Mangombo Marusaha Simamora, tidak menampik adanya penanganan laporan tersebut. Ia menegaskan bahwa siswa itu masih berstatus saksi dalam penelusuran yang sedang berlangsung. “Semuanya masih ditelusuri,” ujar Silvester saat dikonfirmasi, Kamis (20/11).
Menurutnya, penyidik masih mendalami sejumlah informasi dan bukti digital yang berkaitan dengan ancaman tersebut.
“Nanti kami kasih keterangan lengkapnya,” kata dia.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai isi ancaman, motif pengiriman pesan, ataupun keterkaitan siswa itu dengan jaringan radikal. Polda Kepri disebut masih berkoordinasi dengan unit siber dan instansi terkait untuk menelusuri sumber pesan.
Kasus ini mengingatkan pada peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jumat (7/11) lalu. Terduga pelaku peledakan berinisial F merupakan salah satu siswa di sekolah tersebut, kemudian ditetapkan berstatus Anak Berkonflik dengan Hukum (ABH), dan bertindak secara mandiri tanpa keterlibatan kelompok radikal.
Hasil penyelidikan pihak kepolisian menunjukkan bahwa aksi tersebut tergolong kriminal murni dan tidak memiliki kaitan dengan jaringan teroris mana pun.
Kapolda Metro Jaya, Irjen Asep Edi Suheri, menambahkan bahwa pelaku dikenal tertutup dalam kehidupan sosialnya. Berdasarkan keterangan teman dan lingkungan sekolah, pelaku jarang bergaul dan menunjukkan minat terhadap hal-hal berbau kekerasan.
“ABH ini terkenal tertutup, jarang bergaul, dan tertarik pada hal-hal kekerasan dan ekstrem,” kata Asep.
Dari hasil penyelidikan, bom yang meledak di area masjid sekolah tersebut diduga dirakit sendiri pelaku. Tidak ditemukan indikasi bantuan atau arahan dari pihak luar. (*)
Reporter : Yashinta
Editor : Ratna Irtatik