Buka konten ini
BATAM (BP) – Sekitar 600 kontainer berisi limbah elektronik asal Amerika Serikat menumpuk di Terminal Peti Kemas Batuampar dan mulai menimbulkan persoalan baru terkait kapasitas lapangan penumpukan.
Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, mengatakan, pihaknya telah mengambil langkah resmi dengan menyurati Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk meminta penyelesaian segera. Surat tersebut dikirimkan pada Rabu (19/11) dan ditembuskan kepada DPR RI serta Presiden RI.
Menurut Amsakar, kewenangan penindakan berada di pemerintah pusat sehingga BP Batam mendorong kementerian untuk menetapkan langkah terbaik.
Kondisi di lapangan disebut semakin mendesak karena kapasitas penumpukan hampir penuh dan mulai mengganggu efektivitas operasional bongkar muat.
Ia menjelaskan, penanganan awal kasus kontainer limbah itu berada di kementerian terkait sehingga keputusan lanjutan sepenuhnya menjadi kewenangan pusat.
“Yang paling ideal, pihak kementerian memutuskan supaya barang ini tidak menjadi tumpukan tanpa solusi,” ujar Amsakar, Kamis (20/11).
BP Batam tidak ingin pelabuhan menjadi lokasi penumpukan barang bermasalah, terlebih arus kontainer reguler terus berjalan. Kondisi ini membuat ruang penumpukan semakin terbatas dari hari ke hari.
“Kalau tak diurus, nak di mana lagi letaknya? Tempatnya makin sempit,” ujarnya.
Situasi ini bukan hanya menghambat efisiensi pelabuhan, tetapi juga berpotensi menimbulkan kerugian berantai bagi pelaku usaha. Ketidakjelasan status kontainer membuat biaya yang ditanggung pengguna jasa terus bertambah seiring lamanya waktu penanganan. Pada saat yang sama, kapasitas kargo BP Batam ikut tergerus oleh kontainer-kontainer bermasalah tersebut.
Amsakar meminta kementerian memberikan keputusan tegas. Kejelasan itu diharapkan dapat mempercepat penyelesaian agar aktivitas pelabuhan kembali normal.
“Kalau memang barang ini harus diberikan sanksi, berikan ajalah sanksi yang jelas,” katanya.
Ia berharap pemerintah pusat segera mengambil langkah final agar Pelabuhan Batuampar tidak semakin terbebani oleh tumpukan kontainer limbah tersebut. (*)
Reporter : Arjuna
Editor : Ratna Irtatik