Buka konten ini

NATUNA (BP) – Pemerintah Pusat kembali menaruh perhatian serius terhadap penguatan pertahanan di wilayah terluar, termasuk Kabupaten Natuna.
Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Sjafrie Sjamsoeddin, menegaskan bahwa posisi Natuna sangat vital sebagai garda terdepan kedaulatan Indonesia, baik dari aspek militer, geopolitik, maupun ekonomi.
Sjafrie yang tiba di Ranai, Selasa (18/11) malam, menegaskan Natuna tidak boleh diperlakukan sebagai wilayah biasa. Letak geografisnya di ujung utara Indonesia, berbatasan dengan sejumlah negara, menjadikan daerah ini titik kunci dalam sistem pertahanan nasional.
“Natuna bukan sekadar kabupaten perbatasan, tetapi benteng utama yang menjaga pintu utara Indonesia,” kata Menhan Sjafrie. Ia menyoroti dinamika keamanan regional yang terus bergerak, sehingga Natuna harus selalu berada pada kesiapan optimal.
“Indonesia harus kuat di Natuna. Siapa yang menguasai titik ini akan memiliki pengaruh besar terhadap kawasan,” tegasnya.
Dalam kunjungannya, Sjafrie memastikan pemerintah telah menyiapkan langkah konkret untuk menguatkan postur pertahanan di Natuna. Tahun 2026 akan menjadi momentum penting karena Natuna akan menerima sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) modern untuk matra darat, laut, dan udara.
Menurutnya, penambahan alutsista tersebut merupakan bagian dari modernisasi struktur pertahanan di wilayah perbatasan. Fasilitas pendukung seperti radar, pos pengamanan, dan sarana pangkalan juga akan ditingkatkan.
“Natuna akan menjadi pangkalan dengan kemampuan deteksi dan respons yang lebih cepat,” ujarnya.
Ia berharap dukungan penuh masyarakat terhadap program penguatan pertahanan tersebut. Langkah pemerintah ini diharapkan tidak hanya memperkokoh sistem keamanan, tetapi juga mendorong perkembangan sosial ekonomi masyarakat Natuna. (*)
Reporter : Ihsan Imaduddin
Editor : Ratna Irtatik