Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Pendiri Bahan Bakar Original Buatan Indonesia (Bobibos), M. Ikhlas Thamrin, menegaskan, pihaknya terbuka terhadap rencana pengujian lanjutan atas inovasi bahan bakar yang mereka kembangkan. Ia mendukung langkah Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) yang akan meneruskan proses pembahasan uji coba dan perizinan Bobibos ke Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE). Ikhlas memandang bahwa tindak lanjut Lemigas merupakan bagian penting untuk memastikan produk bahan bakar memenuhi standar teknis sekaligus memperoleh legalitas bila hasil pengembangannya dinyatakan sesuai. “Kami tentu akan mengikuti setiap arahan dari EBTKE. Semua prosedur yang sudah ditetapkan dan disepakati akan kami jalani,” ujar Ikhlas saat dihubungi, Rabu (19/11).
Ia menjelaskan Bobibos sedang menyiapkan dua varian bahan bakar. Produk pertama dikembangkan sebagai pengganti bensin dan lebih tepat disebut biogasoline. Sementara produk kedua diarahkan menjadi substitusi solar.
“Karena ada dua produk, yang pertama kami klasifikasikan sebagai biogasoline. Jadi Bobibos masuk kategori biogasoline,” katanya.
Penentuan istilah ini, lanjut Ikhlas, berkaitan erat dengan proses penyusunan standar teknis yang diperlukan untuk pengujian. Saat ini belum ada acuan parameter khusus untuk biogasoline.
“Template parameter biogasoline memang belum tersedia. Karena itu perlu ada diskusi teknis atau FGD dengan para pemangku kepentingan untuk merumuskan parameternya,” tambahnya.
Jika parameter sudah disepakati, hal tersebut akan menjadi dasar penyusunan metode uji. Dengan begitu, Bobibos dapat menyesuaikan diri mengikuti seluruh prosedur tersebut.
“Setelah parameternya ditetapkan, tahap berikutnya adalah metode uji. Bobibos akan menjalani seluruh proses sampai akhirnya keluar legalisasi dari EBTKE,” ujar Ikhlas.
Sebelumnya, Plt Kepala Lemigas, Noor Arifin Muhammad menyampaikan bahwa Direktorat Jenderal Migas Kementerian ESDM mengapresiasi setiap inovasi yang berupaya menyediakan alternatif bahan bakar yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan memberi nilai tambah bagi masyarakat.
Ia menilai terobosan seperti Bobibos menunjukkan bahwa ekosistem energi nasional semakin bergerak dinamis dan terbuka terhadap teknologi baru. Lemigas, kata Arifin, siap mendukung langkah menuju kemandirian energi.
“Namun, sebelum digunakan masyarakat secara luas, setiap inovasi bahan bakar harus melalui prosedur teknis dan regulasi yang wajib dipenuhi,” ujarnya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : PUTUT ARIYO