Buka konten ini

BATAM (BP) – Batam Aero Technic (BAT) meresmikan Hanggar F di kawasan Bandara Hang Nadim, Rabu (19/11). Fasilitas terbaru ini menjadi hanggar ketujuh BAT sekaligus memperbesar kapasitas layanan pemeliharaan pesawat, baik untuk maskapai nasional maupun luar negeri.
Presiden Direktur Lion Air Group, Daniel Putut Kuncoro Adi, mengatakan, Hanggar F merupakan lanjutan pengembangan fasilitas BAT sejak resmi beroperasi pada 2012. Seluruh hanggar yang berdiri, termasuk yang baru diresmikan, telah memenuhi standar internasional dan mengantongi sertifikasi dari berbagai otoritas penerbangan dunia.

“Dengan fasilitas ini, kami menambah sekitar 750 karyawan. Operasional berjalan 24 jam dalam tiga shift untuk memenuhi kebutuhan perawatan pesawat nasional,” ujar Daniel.
Saat ini, BAT menempati lahan 30 hektare dan tengah menunggu persetujuan perluasan 25 hektare dari BP Batam. Daniel menyebut BAT menargetkan penyerapan hingga 10 ribu tenaga kerja pada 2030. Total investasi yang digelontorkan mencapai Rp1,7 triliun, dengan porsi PMDN lebih dari 40 persen.
“Seperti harapan Pak Presiden, kami menyerap tenaga kerja nasional. Targetnya 10 ribu pegawai pada 2030 yang bekerja di Batam,” tegasnya.
BAT tidak hanya menjadi bengkel utama Lion Group, tetapi juga dipercaya sejumlah maskapai asing. Pesawat dari Filipina, India, Singapura, Malaysia, Thailand, hingga Vietnam rutin menjalani perawatan di Batam. Fasilitas BAT bahkan telah mengantongi sertifikasi FAA Amerika, regulator Inggris, hingga negara San Marino.
Selain memperluas fasilitas hanggar, BAT juga melanjutkan kerja sama MRO mesin lewat MoU dengan Pitmon System dan FTAI Service. Perusahaan juga menggandeng BNI untuk penyediaan perumahan karyawan.
“Target kami sekitar 3.000 unit rumah di lokasi seperti Punggur, Tanjungpiayu, dan Nongsa. Mudah-mudahan 2026 sudah mulai dibangun,” ujarnya.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman H. Laisa, yang meresmikan Hanggar F, mengapresiasi pengembangan fasilitas tersebut. Ia menilai kawasan Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) di Hang Nadim memiliki potensi besar menjadi pusat industri aviasi nasional.
“Walaupun KM (Keputusan Menteri Perhubungan Nomor) 47 Tahun 2022 (yang menetapkan rencana induk Bandar Udara Hang Nadim di Kota Batam, red) menetapkan MRO seluas 108 hektare, hari ini baru terbangun 30 hektare dan informasinya akan berkembang menjadi 55 hektare. Harapan kami tetap bisa mencapai 108 hektare,” tuturnya.
Lukman menyoroti pentingnya memperkuat MRO dalam negeri. Dari total 570 pesawat maskapai nasional, 210 unit kini berstatus tidak layak terbang.
“Yang serviceable hanya 360. Ini membuat kita prihatin. Dengan adanya hanggar baru ini, kita berharap pesawat yang unserviceable bisa dipulihkan lebih cepat,” katanya.
Keterbatasan fasilitas dalam negeri juga membuat sekitar 70 persen pemeliharaan komponen dan mesin masih harus dikirim ke luar negeri. “Ini tantangan besar. Kita butuh kemandirian MRO. Kehadiran BAT adalah bagian dari solusi,” ujarnya.
Ia menambahkan, penguatan industri MRO akan berdampak langsung pada kestabilan harga tiket. Berkurangnya pesawat operasional sering memicu kenaikan harga. “Jika industri MRO kuat, perawatan lebih cepat, biaya efisien, dan harga tiket bisa lebih terjangkau,” katanya.
Lukman menyebut, BAT kini mampu melayani 27 line maintenance serta menyediakan fasilitas base maintenance hingga component maintenance.
“Saya tidak menyangka di Batam sudah ada hanggar dengan kemampuan seperti ini. Ini kebanggaan untuk kita semua,” ujarnya.
Ia berharap pengembangan Hanggar F makin menguatkan peran Bandara Hang Nadim sebagai pusat industri aviasi modern dan terintegrasi.
“Pengembangan ini akan membantu meningkatkan keselamatan penerbangan, memajukan MRO nasional, dan memberi dampak besar bagi ekonomi daerah,” tutupnya.
Untuk diketahui, Batam Aero Technic (BAT) telah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Batam berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 67 Tahun 2021, yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo. Penetapan ini bertujuan untuk menjadikan BAT sebagai pusat perawatan dan perbaikan pesawat (MRO) terbesar di Indonesia dan berpotensi di Asia Pasifik, dengan dukungan infrastruktur yang terintegrasi dengan Bandara Hang Nadim.
KEK Batam Aero Technic memiliki kegiatan utama Industri MRO (Maintenance, Repair, and Overhaul), dan merupakan KEK MRO pertama di Indonesia. Pengusulnya adalah PT Batam Teknik sebagai perusahaan penyedia jasa perawatan dan perbaikan pesawat (MRO), khususnya untuk pesawat-pesawat Lion Air Group.
Target investasi KEK Batam Aero Technic akan direalisasikan untuk pembangunan berbagai fasilitas pendukung industri MRO, seperti hanggar maintenance, hanggar painting, hanggar cleaning, component shop, apron, taxiway, component shop, workshop untuk tools & equipment, dan sebagainya.
Kehadiran KEK Batam Aero Technic diharapkan dapat memberi manfaat ekonomi bagi negara, menghemat devisa 65-70 persen dari kebutuhan MRO maskapai penerbangan nasional senilai Rp26 triliun per tahun yang selama ini mengalir ke luar negeri. Dalam jangka menengah, diharapkan mampu menangkap peluang dari pasar Asia Pasifik yang memiliki sekitar 12.000 unit pesawat dan nilai bisnis sebesar 100 miliar US dolar pada tahun 2025. Selain itu, dengan keberadaan KEK ini, diharapkan akan meningkatkan kapasitas SDM di bidang industi MRO. (*)
Reporter : Yashinta
Editor : Ratna Irtatik