Buka konten ini

JAKARTA (BP) – Angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia masih menjadi perhatian serius. Meski menunjukkan tren penurunan, jumlah kasus kecelakaan dan korban jiwa masih tergolong tinggi dan memicu keprihatinan banyak pihak.
Data Korps Lalu Lintas Polri mencatat, sepanjang Januari hingga Juni 2025 terjadi 70.749 kasus kecelakaan dengan 11.262 korban meninggal dunia. Angka ini turun 2,6 persen dibanding periode yang sama pada 2024 yang mencapai 72.638 kasus dengan 13.781 korban jiwa. Meski demikian, data tersebut tetap menjadi alarm bagi semua pihak untuk memperkuat komitmen keselamatan transportasi.
Jenis kecelakaan yang terjadi sangat beragam, mulai dari tabrakan antarmotor, mobil dengan mobil, mobil dengan bus, hingga motor dengan bus. Sepeda motor menjadi kendaraan yang paling banyak terlibat, yakni 94.339 unit sepanjang semester I 2025. Faktor pemicu tertinggi adalah kelalaian pengendara, terutama kegagalan menjaga jarak aman.
Pertanyaan yang kerap muncul di masyarakat adalah siapa yang biasanya dimenangkan polisi ketika kecelakaan melibatkan motor dan bus?
Kasat Lantas Polresta Bengkulu, AKP Aan Setiawan mengatakan, kepolisian tidak pernah menilai sebuah insiden dengan “kacamata kuda”. Setiap peristiwa memiliki kronologi berbeda sehingga penanganannya tidak bisa digeneralisasi.
“Kami melihat dari sisi tabrakannya. Kami nilai dari peristiwa kejadiannya,” ucap Aan dalam seminar bertajuk Membangun Budaya Berkendara Aman dan Bertanggung Jawab di Pool Pusat PO SAN, Bengkulu, Selasa (18/11).
Ia mencontohkan kasus ketika bus sedang berhenti dan pengendara motor dalam keadaan mabuk menabrak dari belakang. Dalam situasi tersebut, kesalahan jelas berada pada pengendara motor.
Menurutnya, dalam menangani kecelakaan, polisi menggali informasi dari saksi untuk memastikan kronologi. Selain itu, bagian kendaraan yang rusak juga dianalisis untuk membangun gambaran utuh peristiwa. Bila saksi tidak ada, rekaman CCTV menjadi rujukan.
Direktur Utama PT SAN Putra Sejahtera (PO SAN), Kurnia Lesani Adnan, mengaku sangat terpukul setiap kali mendengar tabrakan yang melibatkan bus dan sepeda motor.
“Hati saya menangis. Sebisa mungkin jangan sampai terjadi kecelakaan antara motor dan bus,” ujarnya.
Kurnia menginisiasi seminar sekaligus edukasi keselamatan berkendara tersebut sebagai bentuk kepedulian, khususnya kepada anak-anak muda, agar lebih sadar dan bertanggung jawab di jalan raya. (*)
Reporter : JP GROUP
Editor : FISKA JUANDA