Buka konten ini

BATAM KOTA (BP) – Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (DKUM) Provinsi Kepri menegaskan komitmennya memperkuat peta pengembangan usaha lokal. Hingga akhir tahun ini, sedikitnya 2.000 UMKM telah terklasifikasi berdasarkan level kematangan usaha, mulai dari tahap awal hingga kategori naik kelas. Pemetaan ini menjadi fondasi pembinaan jangka panjang menuju UMKM yang lebih berkelanjutan.
Upaya tersebut semakin dipertajam melalui Kepri ASEAN Business Forum yang digelar Senin (17/11) di Harmoni One Hotel, Batam. Forum perdana ini mempertemukan UMKM terpilih dengan perusahaan dari lima negara, sekaligus menjadi etalase internasional pertama bagi UMKM yang telah dipetakan oleh DKUM Kepri.
Kepala DKUM Kepri, Riki Rionaldi, yang membuka langsung kegiatan itu, menyebut forum ini sebagai langkah strategis untuk menguji hasil pendampingan di pasar regional.
“Target kita bukan hanya skala Kepri, tapi juga mancanegara,” ujarnya.
Riki menegaskan posisi geografis Kepri yang berbatasan dengan Singapura dan Malaysia harus menjadi keunggulan kompetitif. Karena itu, program pemetaan UMKM tidak berhenti pada klasifikasi, tetapi diarahkan masuk ke Koperasi Merah Putih sebagai wadah peningkatan kapasitas dan perluasan jejaring usaha.
Dari 2.000 UMKM yang sudah terpetakan, sekitar 400 mengikuti forum tersebut. Sebanyak 60 di antaranya merupakan peserta pendampingan Bisnis Merah Putih, program yang baru berjalan kurang dari satu tahun namun sudah menghasilkan kurasi dan pembinaan intensif.
Melalui kurasi itu, delapan UMKM dinilai paling sesuai dengan kebutuhan perusahaan asing dan diproyeksikan menjadi kandidat kerja sama jangka panjang yang akan ditindaklanjuti setelah forum.
Seluruh rangkaian kegiatan dirancang agar UMKM Kepri tidak sekadar tampil, tetapi masuk dalam ekosistem bisnis regional yang lebih besar. “Setelah tiga bulan pendampingan, UMKM harus lebih percaya diri. Kapasitas dan kuantitas bukan berarti tak punya peluang besar,” kata Riki.
Forum tersebut dihadiri 15 perusahaan dari lima negara: Singapura, Malaysia, Turki, Taiwan, dan Myanmar. Sebanyak 40 delegasi telah tiba sejak malam sebelumnya, dimulai dengan gala dinner dan sesi perkenalan awal.
Kegiatan dilengkapi dengan presentasi produk, diskusi peluang ekspor, serta pembahasan kebutuhan suplai masing-masing perusahaan.
Setiap UMKM berkesempatan menampilkan nilai tambah dan diferensiasi produk yang telah diperkuat selama pendampingan.
Pemetaan terhadap 2.000 UMKM bertujuan memastikan setiap pelaku usaha mendapat jalur pengembangan sesuai kapasitasnya. Dengan klasifikasi yang jelas, pemerintah berharap pembinaan dapat dilakukan lebih terstruktur dan terukur.
Riki menambahkan, forum internasional tersebut akan menjadi agenda rutin sebagai sarana evaluasi dan ekspansi pasar. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada kementerian serta fasilitator kegiatan, Lidya Ariyantiny, atas pendampingan yang memperkuat kesiapan UMKM menghadapi pasar global.
“Kolaborasi adalah kuncinya. Melalui forum ini, kami ingin memastikan peluang yang hadir tidak berhenti sebagai pertemuan. Kita ingin ada kerja sama konkret yang benar-benar mampu mengangkat UMKM Kepri naik kelas,” tegasnya. (***)
Reporter : ARJUNA
Editor : GALIH ADI SAPUTRO